Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir yang jika puluhan tahun yang lalu tidak kuputuskan melalui jalan ini…aku mungkin terbebas dari rasa terkekang pada nasib buruk. Ah, atau mungkin tidak …
Orang-orang yang terluka karena kegagalan hidup seolah memandang dengan curiga segala keceriaan sebagai sesuatu kekanak-kanakan. Kutipan kalimat dari Nietzsche dalam bukunya Fajar (1911), membuat segalanya lebih gamblang dari realitas yang sering menutupi segala bentuk wajah asli manusia. Karena kekecewaan, ketidakberuntungan, penderitaan atau kekhawatiran yang berlebihan. Kita hanya akan berubah menggunakan topeng ketika bersama orang lain. Kita hanya akan merasa bebas dan jujur ketika sendirian. Sayang, semua bentuk kesendirian itu tak dikehendaki semua orang.
Aku tahu aku tak boleh memikirkan masa lalu. Toh sudah terjadi dan aku tak mau terkungkung masa lalu. Aku hanya mau memikirkan saat ini dan tak mau khawatir akan masa depan. Tapi ya Tuhan… aku tak bisa. Aku masih terlalu rapuh. Dadaku semakin sesak dan nyeri. Aku terus berpikir bahwa aku terus berjuang sendiri. Kenapa tidak sekalian dari dulu aku berpikir bahwa hidup berdua itu tak lebih baik? Toh, ternyata aku yang harus menanggung semuanya. Hidupku sendiri, kebahagianku atau hanya sekedar bertahan hidup. Aku masih terus berpikir apakah aku kelak masih sekuat ini. Masih bisa menahan beban untuk menyiapkan masa depan anak-anakku agar mereka tidak tersiksa seperti aku. Sebisa mungkin, jika waktuku masih banyak, aku ingin menyiapkan semua yang dibutuhkan ketiga anakku besok saat mereka berumah tangga. Berumah sendiri dan bisa merasakan privasi hidup berkeluarga dan berkecukupan.
Apa ‘cukup’ berarti cukup untukku? Tuhan tak memberi aku opsi untuk keluar dari ini semua. Ah, atau aku yang bodoh karena selalu terlewat melihat peluang? Aku hanya akan terus menimbang seluruh kemampuanku untuk bertahan dan keluar dari rasa lemah dan angkuh ini. Kenapa diri yang lemah dan tak berdaya ini bisa angkuh pada masa lalu yang terlewat dan masa depan yang belum jelas terlihat.
Bukankah kekhawatiran demi kekhawatiran ini datang dari pikiran sendiri? Aku tak punya sekutu untuk merawat nasib sial ini. Siapa sangka, jika kurawat dengan ikhlas maka nasib buruk ini akan berubah dengan nasib baik. Nasib buruk itu seperti kadal yang terjebak di jalan raya dan ingin melintas menemukan padang rumput. Mungkin pertanyaan bodoh anakku tak benar-benar bodoh; apa yang dilakukan ibuk jika suatu saat nanti ibuk dilahirkan sebagai Komodo? Aku hanya menjawab singkat. Aku hanya akan bertahan hidup, makan minum tiduran dan jangan sampai mati sia-sia. Anakku tertawa. Lah, aku pasti akan jadi kadal ya? Anaknya Komodo. Iya, betul. Kita hanya akan bertahan hidup. Dan yang paling menyiksa karena Komodo gak bisa baca buku, jadi pastinya kita akan gabut.
Apakah nasib manusia juga sama dengan Komodo, burung atau cacing? Bertahan hidup dan sesekali mencari kemewahan melalui kesendiriannya meratapi hidup. Terakhir, aku bilang sama anakku…manusia itu makhluk yang paling lemah dek, itu kenapa akal kita gunakan untuk memanipulasi makhluk lain dengan alasan bertahan hidup. Dan dengan gagah kita akan bilang bahwa manusia adalah puncak rantai makanan. Haha, gila ya?
Ya mungkin kelebihan manusia karena kita hidup berkoloni. Mampus kita kalau kita hanya hidup sendirian di bumi. Manipulasi adalah kemampuan basic yang dipelajari manusia pertama untuk bertahan hidup. Bukankah begitu? Setelahnya kita akan menemukan alasan pembenaran untuk setiap tindakan menggunakan teori-teori, dalil-dalil dan dengan segala macam metode ilmiah. Jalan empiris mungkin ditempuh di opsi yang kesekian setelah kita menemukan keyakinan. Keyakinan akan benar atau salah. Kemudian metode yang diambil adalah menyiapkan alat alibi untuk menjelaskan pada orang lain bahkan pada diri sendiri untuk menguatkan.
Dari alur inilah manusia akan mengatakan semua kebetulan-kebetulan ini menjadi sebuah peruntungan. Dan peruntungan maupun kegetiran yang datang akan menjadi takdir jika datang bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Keberuntungan ini yang akan dicari selama masa hidupnya untuk menghindari kekecewaan dan penderitaan jiwa. Apa kau mampu melihat keberuntungan itu sembunyi?
Misteri ini yang akan terus dicari manusia dengan segala macam upaya pencarian simbol di celah-celah yang tersembunyi. Bagaimana kita mengenali tanda-tanda dan takdir manusia yang senang mencari tanda dan menyematkan simbol itu sendiri. Selama hidup kita, manusia akan terus bermain dengan tanda. Beruntung atau tidak, hidup kita seperti bermain lotre. Betapa cerdasnya kita mencari makna dibalik simbol, semakin kita jauh dari peruntungan.
Seperti menjauh dari realita, manusia yang sibuk mencari akan kehilangan makna seiring dia melupakan hidup yang ia Jalani. Semakin sibuk ia mencari, semakin menjauh apa yang ia cari. Lantas apa yang perlu diragukan dari semua ini? Cukup terus menjadi air yang mengalir atau menjadi homo sapien yang bangga dengan keberhasilan populasinya di bumi?
Terakhir, anakku terus mengatakan jika suatu saat jadi pohon, mungkin lebih enak kali ya bu? Aku mengiyakan seolah pernah merasakan jadi pohon. Atau karena aku juga bermimpi ingin jadi pohon yang umurnya ratusan tahun, ada yang berumur sangat pendek, tidak ribet, cukup diam dan bahagia dengan kesendiriannya. Apa menjadi pohon juga bisa merasakan bahagia, buk? Iya dek, mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar