Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2024

Jam Satu Pagi (1)

File naskah masih dipandanginya dengan aneh di layar laptopnya. Perempuan itu sudah memandanginya selama berjam-jam dan kata-kata tidak bisa keluar. Ia sesekali memencet lagu yang berhenti sendiri terlalu lama di youtube. Ia putar kembali kemudian ia tatap tulisannya sambil menggeser layar naik turun. Ia mengumpat namun yang keluar dari mulutnya hanya desahan kasar. Lalu disambarnya buku Murakami. Dibacanya lipatan halaman yang hampir tuntas. Ia mendengus lagi ....

"Kenapa Gregor Samsa muncul di tulisan orang jepang ini. Sial", ia mengumpat tanpa maksud apapun. 

Ia lelah menggeledah isi pikirannya dan tak menemukan apa-apa. Sebenarnya pikirannya tak lagi kosong. Namun bisa dikatakan tidak berisi juga. Ia berusaha mati-matian sedari pagi menulis sesuatu di layar laptopnya dan bersikeras meneruskan naskahnya minim satu bab.

"Eh, aku mungkin bisa meneruskan cerita orang. Yang kudengar rumpang, di telinga sebelah atau melihat dengan mata kiri saja. Bisa... bisa ...ah atau menerjemahkan kebisuan seseorang?"

Ia mendesah berat dan melemparkan buku Murakami di samping Laptop. Ia pikir dengan membaca sesaat, kebuntuannya akan hilang.

"Seharusnya aku sembunyikan dulu buku ini sampai naskahku selesai" 

Ia memang suka tergoda membaca buku yang setengah terbaca, di sela-sela tuntutannya menulis. Dia bahkan pengangguran, tapi ia merasa ingin jadi orang yang berguna minimal untuk dirinya sendiri. Menulis buku, yang bahkan buku-buku terdahulunya laku sedikit. Ia sudah senang jadi penulis tak terkenal. Takdir menghendaki demikian, mungkin.

 Ia tahu lelaki yang tinggal di lantai bawah ... suaminya selalu bertanya pertanyaan yang sama di setiap berpapasan di rumah, "Apa sudah selesai?"

"Ayo turun makan, atau setelah kau selesaikan itu dulu?"  membuatnya tambah gila. Ia merasa, fase beromansa selama berumah tangga hanya beberapa bulan setelah menikah. Setelahnya. Ia ingin mengubur diri hidup-hidup di kamar kerjanya ini. Ia merasa tertekan hidup di rumah ini dengan segala macam thethek bengeknya. Sedang suaminya selalu membicarakan bagaimana bisa lepas dari bujukan teman--teman kantornya untuk memulai program anak. Hal itu justru membuatnya merasa bersalah. Di rumah ini, hanya perbincangan itu yang ia hindari.

Perempuan itu kemudian kembali tekun meneliti tulisannya di layar dari atas kemudian ia geser ke bawah dengan seksama. Seolah ingin menemukan jarum kecil diantara tumpukan jerami. Sesekali ia membetulkan tulisannya dan menghapus beberapa. Dan lagi ..... ia berhenti di kalimat terakhir. Di bawahnya tertulis judul sub bab yang sudah ia tulis dengan huruf tebal dan digaris bawah.

"Eh, gila kalau lama-lama begini aku pilih mati saja", ia menirukan dialog Samsa dan perempuan bungkuk yang ada dalam buku Murakami dengan suara lantang. Namun suara itu memang lebih pas diucapkan pada situasinya. Putus asa.

Setelah itu telponnya berdering. Di tengah malam seperti itu, dering telpon rumahnya yang nyaring  sungguh membuatnya seperti kiamat. Membuatnya terkaget dan terbuyar konsentrasi. Tubuhnya yang terpaku di kursi menggeliat malas. 

"ini jam 1 pagi, ini siapa!" suaranya serak

Ia membayangkan ada telpon iseng dan akan menakut-nakutinya. Namun, yang terdengar hanya hembusan nafas yang berat di seberang telpon.

"Jika aku mati hari ini, apa kau bersedih?"

"Siapa ini? apa aku mengenalmu?" desahan di seberang telpon menghilang sesaat .....sedang ia menunggu berharap suara itu kembali tersambung dengannya. Namun, tidak! Di seberang telpon hanya terdengar suara mendengung panjang.

Kepalanya mendongak ke langit-langit kamar. Dipastikan sekali lagi, Diingatnya berulang kali. Apa pernah mendengar suara khas itu? Sial, dan ini jam 1 pagi. Ia masih mengingat-ingat suara lelaki itu. Apa teman suaminya? Dan nomer rumah ini hanya sedikit yang tahu. Telepon rumah kabel kalah dengan Handphone. 

Pada masa itu neneknya memasang telepon rumah untuk Toko Mesin Jahit di lantai bawah. Selain itu, nenek juga menerima jahitan atau perbaikan baju. Kakek neneknya memang tekun menjaga usahanya, sampai suatu ketika ibunya menikah dengan seorang lelaki yang gila judi. Toko yang seharusnya diwariskan pada ibunya, tinggal rak-rak kaca kosong yang sudah buram, tersisa satu mesin jahit kuno. Ayahnya sudah menjual beberapa mesin jahit yang bagus untuk melunasi hutang-hutangnya. Dan ibunya, sakit-sakitan karena depresi. Entahlah, hidup macam apa hingga ia terjebak di rumah toko yang berumur lebih dari umurnya. Kosong dan tua. 

"Akan kutunggu besok jam 1 pagi lagi. Apa ia akan menelponku?"

"Setidaknya aku tahu dia masih hidup"


(bersambung)








Rabu, 18 Oktober 2017

NING


Jutaan keping potongan pikirannya melayang-layang. Terapung di lautan luas. Terkepung rasa bosan. Entah kapan menepi dan berhenti  di sisi pulau dan segera menetap. Akal tak lantas bergembira dengan imaji-imaji edan dan kaku membelilit akar otak. Segera, jika dapat dipotong kecil-kecil maka akan dia lakukan. Menjadi sel-sel yang tak terlihat dan tak terbaca. Biar tak ada ilusi dan cantiknya kupu-kupu terbang  hinggap di mahkota bunga.  Perempuan ini, terlalu sepi untuk diam dan terlalu bising untuk teriak. Terkapar di tengah lautan dan masih nihil berharap. Kapan kata-kata akan menyapa dan  memungutnya  segera. Kemudian angkat dari kengerian diri yang tak terejawantahkan.
“tidak sur...jangan  menungguku”, perempuan berkerudung hitam lebar dan bercadar itu mulai beranjak dari rumah sempit ini dan mengambil sepeda angin yang sudah usang dan berkarat.
Kayuhan keras kakinya tetap tak membawa sepeda berkeranjang itu cepat melaju.  Sedang sepasang mata mengikuti  perginya sampai ujung jalan. Diam, menatap dalam dan sambil meronce mote, dialihkan pandangnya ke pernak-pernik mote, payet dan batu hias di cepuk-cepuk kecil.  Masih, kusutan benang yang ada di otaknya  semakin memintal, tak karuan, dan brantakan.  Jika kudu menyisir, tak cukup puluhan tahun sisa hidupnya agar lurus kembali.
Perempuan berkerudung itu sering dipanggil mbak Ning. Hanya dua perempuan yang tinggal di kontrakan sempit tanpa ada akses jalan. Kontrakannya tertutup  rumah  berlantai dua dan berpagar tinggi. Gang sempit satu meter satu-satunya jalan menuju pintu kontrakannya.
Pagi-pagi sekali perempuan itu mengendap-ngendap memasuki gang sempit. Sandal hak tingginya di lepas. Jaket jeans biru muda tergantung di pinggang. Rok hitam pendek tertutup kain pantai yang diikat di pinggangnya.
Beberapa saat tangannya memutar gagang pintu, terdengar suara perempuan berisik dan sesekali terdengar sabetan kain panjang yang mengenai tubuh seseorang dan berulang kali. Suryani hanya diam. Yah, hanya duduk sambil membersihkan make-up nya.
Suasana kembali hening. Tampak dua wajah yang lesu dan tenang. Meski gejolak amarah masih menguntit di wajah Ning, perempuan yang terlihat kerut di dahinya itu tampak kalem.
“aku tahu kita susah....ketiga anakku butuh biaya di pondok. Tak mungkin aku mengharapkan Mas mu datang ngasih jatah bulanan”, dibenahinya posisi mukena bagian kepalanya sambil menatap adiknya. Suryani masih diam. Wajahnya yang lebih muda, dan segar hanya menatap Ning sekilas lalu mulai ganti baju daster pendek. Tak dihiraukannya ada manusia lain yang mengusiknya.
“kau...mana bisa diberitahu. Aku seperti bicara dengan sebongkah batu”
“kau itu istri tua mbak... istri pertama. Seharusnya kamu itu menang. Minta hak pada suamimu agar dipelihara anak-anak dan kebutuhanmu. Eh kau ini....malah menyingkir dan mengalah. Pergi dari rumah dan pilih menyepi disini”
“kau seharusnya bersyukur. Kau bisa numpang hidup denganku. Anak-anakku hidup di pondok dan kau tak susah payah ikut memelihara anakku”
“Sudahlah aku mau tidur”
“Kau ini....sudah sholat Isyak belum”
“aku tak perlu laporan padamu kalau sudah sholat belum”, sahut Sur dengan cepat. Mendenguslah Ning dengan keras. Rasanya ia tak bisa berhenti emosi jika bertemu dengan perempuan ini.
--o0o—
Siang ini amat terik. Kain-kain kering yang bergelantungan di tembok-tembok saling berpagutan. Keluarlah perempuan dengan membawa keranjang. Ditariknya baju-baju dan kerudung besar ke dalam keranjang birunya. Sesekali angin berhembus melewati gang kecil itu. Kering dan panas. Dulu ada sebatang pohon besar di samping rumahnya, tempat Sur dan beberapa tetangga duduk dan ngobrol perihal macam-macam. Dulu, sebelum ia berkutat dengan pekerjaan yang menyita  obrolan banyak orang. Tetangga yang dulu datang berkerumun dibawah pohon, kini menghilang. Mereka ganti berkerumun di pos ronda dan sering membicarakan dua perempuan yang hidup di gang kecil ini. Mereka tidak lupa. Yah, Mereka tidak pernah lupa untuk tidak menggunjing perihal kecil dalam hidup kedua perempuan itu.
Ketika Sur lewat untuk sekedar membeli teh dan sayur matang di warung sebelah, obrolan beberapa perempuan itu tiba-tiba hening. Mereka pura-pura mengunyah makanan. Padahal tak sedikitpun telinga Sur ia gunakan untuk menguping. Tak pula diulurkan senyumnya untuk mereka. Ia pasang wajah acuh. Ia tak berpikir untuk akur dengan keadaan. Sudah hancur, hancurkan saja kepercayaan pada tetangganya itu.
Tiba-tiba Ning berlari-lari menyusuri gang sempit itu, tanpa sepedanya. Nampak merah dan berkeringat wajahnya. Cadarnya tak ia kenakan seperti biasa. Ia berlari lagi kembali ke jalan dan menghampiri perempuan- perempuan yang berkumpul di pos ronda. Ia bicara sedikit lalu bergegas lari menuju warung makan yang terletak di pojok kampungnya. Tak dihiraukannya pertanyaan seorang tetangganya mengapa ia amat tergesa-gesa?
“Sur, aku butuh duitmu. Cepat kau kasih aku tiga ratus dan besok-besok aku kembalikan”, sontak Ning menggeret lengan Sur dengan cepat. Ditolehnya wajah perempuan yang terlihat panik itu.
“Mana sepedamu?”, Sur agak heran karena perempuan itu terengah-engah dan memegang dadanya.
“cepat, tak usah banyak tanya. Penting sekali ini”
“Kapan kau kembalikan”
“Kau bawa uang kan.... dimana cepat kau kasih aku”, desak Ning sambil menggoyang-goyang lengan adiknya itu. Segera ia keluarkan dompet yang ada di saku celana jeans-nya.
“Ini .... kau kembalikan saja seratus. Yang dua ratus ribu anggap saja buat bayar  listrik dan uang makanku.” Disahutnya uang merah tiga lembar itu. Lalu segera ia berlalu dan berlari ke arah dia datang. Sur hanya diam terpaku di depan warung. Ia sudah terbiasa meminjami uang kakaknya dengan alasan untuk membiayai anaknya yang ada di pondok atau menebus obat untuk anaknya yang sedang sakit. Hasil dagangannya berkeliling hanya cukup untuk membayar uang kontrakan perbulan. Sejak ia bekerja di tempat karaoke, keuangannya cukup bisa membantu biaya hidup mereka berdua. Hanya perdebatan-perdebatan kecil yang sering dilakukan kakaknya membuatnya tidak betah di rumah. Namun ia sadar, rasa sayangnya pada perempuan cerewet itu tidak bisa dikurangi, juga tak bisa ditambah.
--o0o-
Malam terpekur di dalam penatnya jarum jam berdetak. Angin malam berisik memainkan ranting pohon  dan sobekan poster dibelakang rumahnya. Dapur kecilnya hanya ia tutup dengan bekas poster yang ia tempelkan di tiang bambu. Mata perempuan itu mulai lelah. Diletakkan nya mote, jarum dan benang di cepuk plastiknya. Diberesi jahitan baju pesanan penjahit kampung sebelah. Ia hanya bisa menyelesaikan pesanan menjahit mote yang tidak terlalu rumit. Misal hanya di ujung lengan atau bagian dada. Dengan demikian ia dapat pemasukan untuk membelikan baju koko untuk ketiga anaknya yang ada di pondok.
Napas Ning mendesah kuat. Dihentikan tangannya yang sedari tadi memberesi baju-baju. Jarum menunjukkan pukul 12 malam. Mengapa suara telapak kaki Sur tidak lekas ia dengar-dengar?. Ia memang selalu menunggu adiknya pulang meski wajahnya berubah masam saat berhadapan dengannya. Ia selalu ingin membuat keributan dengannya. Seolah dengan meneriakinya tentang segala hal, hatinya akan lega. Yang pasti adalah cara berpakaian Sur yang harus mengenakan celana jeans dan kaos ketat saat bekerja. Meski ia sendiri tak yakin membuat ia mau memakai kerudung seperti dirinya. Kadang ia menyalahkan ibunya yang terlalu bebas terhadap pilihan anak-anaknya.
Ia mulai panik saat jarum panjang menuju angka 6. Sudah dini hari dan Sur belum pulang. Ingin rasanya ia tak perlu menganggap penting perihal ini. Tapi ini memang diluar kebiasaannya. Ia mulai mengeluarkan sepeda mininya. Dikenakan kerudung hitam lebarnya dan bergegas keluar. Angin malam menyapa dengan sabitannya di ujung-ujung kerudung. Dadanya mulai panas. Jantungnya berdegup kencang. Ia mulai membayangkan yang buruk-buruk.
“Kau ini kemana saja Sur....kenapa kau tak sampai-sampai”, gumamnya dalam perjalanannya menuju jalan besar. Barangkali Sur tak menemukan angkot di pinggir kota. Atau tak ada yang ia tumpangi sampai ke rumah. “ Sur.... Sur .... “, desahnya dalam hati. Ia ingin kemungkinan skenario yang ia bayangkan salah satunya terjadi, bukan hal yang buruk. Namun pikirannya yang tidak enak terus saja mengganggu. Tak biasa ia merasa aneh malam ini.
Tiba-tiba matanya terpana pada kerumunan di suatu ruko bertingkat. Ia mendekat perlahan. Ia sedikit takut. Ada beberapa polisi yang membawa tongkat dan menggeret beberapa orang ke mobil bak terbuka. Tak ada sirine seperti dalam Televisi, namun kebisinginan karena kacaunya jalan menjadi tontonan banyak orang.
“Apa yang terjadi.... Sur ...kamu disitukah?’, tanyanya dalam hati. Di benaknya ramai adu pendapat. Apa mengapa dan bagaimana keadaan adiknya. Ia beranikan diri melongok di mobil bak terbuka milik kepolisian itu. Ditanyanya 3 perempuan cantik dan berbaju seksi itu dengan cepat.
“Mbak, dimana Sur... Suryani, yang berambut pendek dan punya tahi lalat di bawah mulut”, tanyaku berulang-ulang. Mereka hanya menggeleng cepat. Keriuhan di dalam kelab malam dan tempat karaoke membuatku enggan menelusup diantara ratusan orang. Aku celingukan kesana kemari, tak kutemukan sosok wajah yang kukenal. Aku menyerah. Kukayuh sepedaku pulang. Kembali menyusuri jalan lengang gang-gang di kampungku.
Kehidupan dua orang perempuan itu seperti sebuah poci-poci retak. Perlu tambal sulam untuk menyatukan agar utuh.  Perlu kecermatan dan kesabaran yang amat untuk mengembalikan retakan -retakan tersebut ke tempat semula. Agar bisa kembali jadi wadah. Agar bisa kembali dipandang dan berharga di mata orang lain.
Pintu kamar kontrakan Ning terbuka. Lekas ia masuk dan ia dapati sosok perempuan yang tergeletak di lantai. Rok pendek dan kaos pendeknya tersingkap sedikit. Wajahnya lebam dan memar. Dimulutnya ada darah segar yang menetes mengalir pelan. Rambutnya berantakan. Ia terduduk lesu. Membuncah tangis malam itu. Dan itu bukan untuk anaknya atau suaminya. Tangisnya itu untuk perempuan yang setiap malam ia marahi dan ia pukul dengan gagang sapu. Perempuan yang ia maki setiap ia tak melihatnya sholat. Perempuan yang sebenarnya amat ia sayangi.
“Duh Gusti ... jangan biarkan tragedi terjadi setiap malam di rumahku ini ya Guati”, tangisnya sambil bersimpuh di lantai. Ada rasa yang berkecamuk dalam dada. Bahagia karena dia tak menemukan adiknya dalam mobil polisi tersebut, sedih karena ia temukan adiknya dalam keadaan yang memilukan.
“katakan padaku Sur... mengapa kau seperti ini. Mengapa keadaanmu payah seperti ini? Kamu diapakan oleh lelaki-lelaki hidung belang itu?”, Sur hanya menggeleng. Tangannya bergerak memegang tangan Ning.  Dia terus menggeleng sambil menyeringai.
“Aku tak apa-apa mbak.... aku cuma pengin pulang. Aku cuma pengin pulang kerumah. Tapi polisi itu menggeretku. Mereka memukulku mbak. Tapi aku harus pulang”, desahnya dengan pelan. Wajahnya tak karuan lagi. Wajah ayu dan muda itu jadi layu, tak berani Sur menatap wajah Ning. Wajah perempuan yang amat ia sayangi.
Ning hanya menangis sejadi-jadinya sambil bergumam, “kau bodoh Sur... kau memang bodoh....”.
Malam terlalu malam dan pagi terlambat untuk menitipkan mimpi-mimpi kedua perempuan itu. Pengembaraan mereka tidak pernah selesai. Sebuah poci yang retak benar-benar tak bisa kembali utuh. Dikumpulkannya retakan itu sampai mereka bisa menempelkan ke tempat semula. Meski tdak persis ke tempat semula.
(Solo, 16 Oktober 2017)





Minggu, 26 Oktober 2014

ILALANG KERING BELAKANG RUMAH

[ bagian1 ]
Matahari perlahan sembunyi di balik gunung. Tak kuhiraukan HP bergetar di meja. Kutatap warna-warni senja di ujung barat. Awan lembut menyapu langit. Kali ini HP ku bergetar lama. Kuraih HP mungil merk lawas yang sudah terkelupas huruf-hurufnya. Kulihat dengan seksama. Nomor pribadi muncul di layar. Kembali kuletakkan di meja teras. Malam segera turun, hari mulai gelap. Jalan di depan rumahku terasa lengang. Rumahku yang terhitung masih baru dan masih berbau cat ini terletak jauh dari hiruk pikuk kota dengan segala gemerlap lampu-lampu di penjuru tempat. Suara katak tak jarang bersahutan karena beberapa hari ini hujan mengguyur.
Ada dua-tiga rumah yang berdiri di sekitar rumahku. Selebihnya terhampar sawah dan kebun jati yang sengaja ditanam para pemilik tanah yang tinggal di kota. Masih membutuhkan 10 menit lagi untuk sampai perkampungan penduduk yang padat. Setelah perceraian setahun yang lalu, aku mencoba bangkit dan membeli sedikit lahan yang terletak di pelosok desa ini. Selain murah, aku dan anak-anak dapat jauh dari orangtuaku juga orangtua mantan suamiku. Dengan begini, aku agak tenang dan ada alasan untuk tidak selalu mengantar kedua anakku pada mereka setiap akhir pekan.
Ohh....senja yang mahal. Dimana lagi aku menyaksikan suasana tenang seperti ini selain di halaman rumahku yang masih belum tuntas. Meski mulai gelap,  goresan warna oranye dan merah itu masih menyisir langit. Rumput  ilalang masih menyembul dibalik pagar bambu yang dibuat dari sisa-sisa bangunan rumah ini.  Wajahmu tampak disana. Berdiri dengan kemeja putih, lengan dilipat sampai siku. Rambutmu sudah panjang sekarang. Kau juga menatap senja yang tinggal sepotong. Angin bergemuruh dari selatan. Kau masih tenang dalam alam pikiranmu. Aku merasakan ketenangan itu. Ada rindu ..... juga sesuatu yang kau tunggu. Dan malam merambat naik. Lampu di halaman belakang ini cukup menerangiku. Kutulis surat lagi.
.....
Ini malam kelima aku disini. Mencari padang ilalang. Tempat yang sering kita datangi, berlarian dan rebahan di rumput hijau. Kau dengan kaki telanjangmu, dan aku dengan buku kecil lusuh  dan pensil  yang kutali ujungnya dengan pita merah pembatas buku. Ya, kita akan selalu  menunggu sebuah goncangan dahsyat untuk kita tulis, tapi kadang kau berseteru bahwa kehadiran yang lembut tak bersuara itupun lebih dahsyat dari sebuah bom. Kami tertawa bersama....dan diam. Bertemu dengan ujung hari di padang ilalang tanpa berpikir waktu akan menghapus perlahan seperti awan cumulus nimbus yang tersapu kuas matahari.
                                               ( Aku & kau_di padangku sendiri )
Kulipat kertas itu lalu kumasukkan ke dalam amplop. Kumasukkan di kotak coklat, bersama tumpukan amplop lain didalamnya.  Lalu napas ini berhembus perlahan. Kau sudah tak terlihat di belakang rumah. Aku segera masuk. Anak-anak masih setia dengan acara Televisinya. Kututup tirai di kaca jendela. Biar malam menemanimu disana.
--0—
Seharian ini suara-suara kacau datang dari penjuru ruang. Kuliah padat memenuhi 2 hari akhir pekanku dengan kejam. Sabtu dan minggu tidak ada sisa meski untuk mengantar Fikri dan Dzikri ke taman kota. Tapi mereka sudah terbiasa dengan ketidakhadiranku di hari minggu. Mereka pasti berakhir pekan dengan ayahnya di kota. Kuliah penyetaraan jurusan ini hanya membutuhkan 3 semester untuk dapat mengantongi ijazah setara dengan ketentuan dinas. Teman-teman pengajar di kotaku nampak kerepotan ketika bertemu di minggu pagi. Saling menyapa dan berjalan bersama sambil bergumam keadaan anak-anak mereka yang ditinggal bersama mertua atau suami, bahkan kadang dipercayakan pada tetangga. Ah, betapa mengerikan bekerja di negeri ini. Para pengajar yang notabene belum diangkat Pegawai Negeri Sipil selalu direpotkan dengan peraturan dinas yang tiba-tiba datang di meja kerja. Mereka memang lihai membuat derita kaum proletar semakin mengerikan. Yah, faktanya memang  guru non PNS berpendapatan dibawah buruh pabrik.
“Bu Elsa...Bu Neni!”, teriak seorang teman yang tergopoh-gopoh membawa 4 buku tebal dari area parkir. Kami berdua menoleh dan berhenti menunggu seorang perempuan bertubuh kecil dan genit itu mendekat.
“Ah...senyum kalian seolah menjawab semua pertanyaanku Bu”, sentilnya sambil menata nafasnya yang tersengal-sengal.
“Bu Riski-bu Riski ....sejak kapan kita selalu mengerjakan tugas tepat waktu. Umur dan ‘kengeyelan’ kita yang menentukan kapan tugas itu tuntas tepat pada waktunya”, jawabku sekenanya.
“maksudnya”, teriak bu Neni tepat di telingaku. Hah, reflek kupingku kututup dengan buku.
“yah kita sudah tidak se-idealisme waktu muda bu...nah biasanya tugas kita kepepet selesai meski nggak tahu betul atau salah, ngeyel saja kita anggap betul....haha”, argumenku ditutup dengan tawa renyah kami bertiga. Tak sadar kelas-kelas yang kami lewati sudah tenang, tanda dosen-dosen telah duduk manis menunggu para mahasiswanya.
Kami bertiga hanya berpandangan dan nyengir bebarengan. Satu persatu kami masuk kelas yang berada di pojok sekolah. Nampak tenang....dan uhh aku dan bu Neni selalu kebagian duduk di deret  kedua dari tembok, baris kedua. Meja ini sengaja ditandai bagi mahasiswa yang terlambat. Dan baris pertama selalu dikosongkan karena meja-meja sering diubah posisi ketika presentasi kelompok. Praktis, kami berdualah yang selalu bertatap muka paling frontal dengan dosen ketika berdiri di depan.
“dosennya mana bu? Tanyaku pada bu Tanti yang duduk dibelakangku.
“Tuh...”, tunjuknya dengan bolpen Standart hitam pada lelaki berhem kotak-kotak dan sedang memasang proyektor dengan pak Fuad ketua kelasku.
“Ohh...tapi, kayak bukan Pak Basuki ya?”, tolehku lagi pada Bu Tanti.
“Ah kau ini, kemarin kan pamitan mau naik Haji...jadi ni diganti ma Dosen baru”
“Ohh....”, jawabku manggut-manggut sambil mengeluarkan alat tulis, modul kuliah Penelitian Tindakan Kelas dan buku tulis.
“ketika lelaki berbaju kotak-kotak itu duduk di meja dosen, mataku terbelalak....Astaghfirullah Ya Rabbi,  kuletakkan kedua tanganku di dada, rasanya sesak sekali. Langsung kupalingkan muka ke belakang dan kuaduk-aduk tas ransel bagian depan.
“ada apa Bu?”, tanya bu Neni melihat gelagatku yang aneh. Aku hanya geleng-geleng dan segera melepas kacamata dan kuganti dengan contact-lens. Aku ingin menjadi orang lain. Bukan perempuan sama yang kau kenal dulu. Meski kutahu kau tak bodoh
“loh kok?”, tunjuk bu Neni pada mataku yang masih beradapsi dengan contact lensaku. “Kacamataku agak kendor sekrupnya, untung bawa lensa kontak...”, jawabku sambil kedip-kedip. Aduh, kenapa dadaku masih berdegup kencang. Apa benar dia mas Abdi? Yah setelah 9 tahun lebih tak bertemu. Kabar terakhir dia jadi dosen di Lampung. Ohh, ini azab atau berkah? Tanganku berkeringat hebat. Dingin.
“Selamat pagi Ibu-ibu...juga bapak-bapak sekalian. Maaf ijinkan saya memperkenalkan diri di depan guru-guru yang sebenarnya lebih berpengalaman dibanding saya yang mungkin seumuran dengan bapak ibu sekalian atau bahkan seumuran Ibu saya”, suaranya datar dan jauh dari ramah. Tapi wajah yang begitu hangat membuat mataku tak berani memandangmu. Oh please...jangan berdiri didepanku,atau lupakan ingatanmu  pada wajahku.
“Baik....langsung saja ya, nama saya Abdi Rasidi, selama pak Basuki di tanah suci sayalah yang akan menemani bapak ibu sekalian mempelajari mata kuliah penelitian tindakan Kelas....”, dan selama kau memperkenalkan diri, kau mulai beranjak dari tempat dudukmu dan mulai menghampiri titik fokus kami di kelas. Yah, tepatnya di depan mejaku dan bu Neni. Kupegang tangan bu neni yang ada di paha kanannya. Reflek, kupegang agar aku tidak  lari keluar kelas. Tiba-tiba bu Neni menoleh padaku tepat saat matanya menatapku. Agak lama. Yah, suaramu tiba-tiba berhenti saat menatapku. Kutepis matamu dan kupandang wajah Bu Neni yang keheranan, atau mungkin geli saat tangannya kuremas. Aku panik. Lalu agak mereda saat menepukkan tanganmu sekali ...keras dan membangunkan.
”Baiklah, saya pengen kenalan juga ya sama bapak ibu sekalian...”, kau mulai memanggil nama teman-teman satu persatu dan rasanya semakin tak karuan...pengen rasanya keluar kelas dan berlari tak kembali.
“Bu, kamu sakit ya....ijin pulang aja gak papa,  tak bilangke pak Abdi”, ahh jangan sebut nama itu lagi. Ya bu pengen sekali pulang, namun keinginan untuk menghilang itu sama kuatnya untuk sekedar mendengar suaramu saat kuliah. Gusti, jika kutahu rencana ini mungkin aku akan ......ahh kuusap wajahku berulang kali. Tiba-tiba pundakku diguncang-guncang dari belakang.
“Ya pak....”, jawabku tanpa menatap wajahmu dan kuangkat telapak tanganku ketika namaku dipanggil berulangkali. Gagap sekali saat ingin membuka mulut.
“Bu Elsa Setyarini? Mengajar dimana Bu?”, sahutmu sambil berdiri menghampiriku. Tepat dihadapanku. Sekali lagi kucari pegangan, kali ini kuremas-remas buku tulis yang kebetulan kubawa. Kupandang Bu Neni yang juga menatapku lama, mungkin juga yang lain karena aku  terlihat gugup. Lama untuk menjawab pertanyaan remeh semacam itu.
“Al-islam pak...di SD Al-Islam satu”, dan kuliahpun berjalan tidak seperti yang kubayangkan. Aku lebih banyak merenung dan gelagapan saat ditanya. Kenapa kau datang mas. Kenapa kau muncul dengan skenario seperti ini? Bukankah kita janji untuk bertemu saat kita sudah 40 tahun. Ah tidak, itu hanya janjiku sendiri saja untuk menemuimu jika kita sudah berumur 40 tahun. Gusti....janji macam apa ini?
Aku langsung melesat keluar kelas. Berjalan cepat, agak berlari. Menjauh dari laki-laki berkemeja kotak-kotak itu. Lari dari kenyataan bahwa aku sangat rindu padamu. Betapa dekatpun saat ini, aku tak ingin semua ini terjadi. Aku tak ingin menjadi lemah karena kekecewaan di masa lalu. Kita telah menemukan ruang kita masing-masing. Aku tak ingin masuk lagi ke ruang itu. Kaupun demikian, jangan pernah mampir lagi ke ruangku yang sempit ini. Terlalu sesak. Biarku mengingatmu dengan caraku sendiri. Tidak seperti ini.
Kuberhenti di taman kecil belakang Mushola. Agak sepi. Hanya ada beberapa ibu-ibu yang duduk dan menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Maklum kuliah padat dari pagi sampai sore. Kuletakkan tas ranselku yang berat perlahan. Kulepas kontak lensaku dengan hati-hati. Mati-matian rasanya menahan pusing karena kurang bisa berdaptasi. Segera kupasang kacamata tebalku dan  kuusap dengan kain. Perubahan wajahku, tanpa kacamata, wajah agak putih (kata teman-teman sih), dan tidak pernah kenal celana jins lagi.. apa tidak berubah sedikitpun sampai kau masih bisa mengenaliku? gerutuku dalam hati.
Masih merasa aneh dengan kejadian pagi ini. Alur cerita yang terlalu cepat. Kuteguk air mineral yang agak keras dilidah ini dengan agak kesal. Kuraih HP di saku yang dari tadi kubiarkan di mode ‘silent’. Kuaktifkan ‘google play musik”. Kupencet Norah Jones. Lagunya yang bisa menenangkanku barangkali.
Huh...kubiarkan kepala ini kuletakkan di meja bundar ini. Suara Norah Jones masih melenggang dan sesekali kubarengi liriknya yang kebetulan sama dengan suasana hatiku....”oh would you let me go now...”, namun tiba-tiba kulihat sepasang sepatu hitam, hmm yang pasti bukan bu Neni. Kuangkat kepalaku perlahan....oh jangan Tuhan, aku belum siap.
“album tahun 2009”, suaramu terdengar serak mesti lagu itu terdengar lebih parau. Aku hanya menatap wajahmu yang sudah agak berbeda denganmu terakhir kita bertemu. Yah, saat kau datang di pernikahanku waktu itu. Sekarang lebih berisi. Wajahmu tak lagi tirus, jelas kau bahagia sekarang.
“Oh Pak Abdi .... maaf saya kaget”, jawabku untuk menghilangkan kegugupan.
“kau memanggilku Pak? ... kenapa tadi kau begitu konyol”, tanyamu tiba-tiba dan seolah tahu aku ingin melarikan diri.
“Konyol? Maaf saya tidak mengerti Pak”
“kau .... kau Elsa kan? Bukan Elsa yang lain?”, tanyanya heran melihat keanehanku.
“iya pak.... apa kita sudah bertemu sebelumnya?”, tukasku memberanikan diri, sambil mematikan lagu dan kumasukkan ke saku.
“Elsa...”
“Maaf pak atas ketidaknyamanan ini, mungkin Bapak salah orang. Permisi...”, timpalku tanpa melihat tatapan matamu yang masih bertanya-tanya. Kuseret tasku yang berat dan kugantung di pundak kiriku. Kutinggalkan taman itu dengan rasa yang tak karuan. Berantakan. Entah mas....akupun bertanya-tanya mengapa aku melakukan hal ini Barangkali aku harus mengejar senja yang tersisa sedikit. Bertemu denganmu. Bukan denganmu yang sekarang. Mulutku komat-kamit tak karuan :
“Mata... ilalang....senja... muram... mata....ilalang .... senja... muram...tolong jangan pergi mas ....tunggu aku dibelakang rumah.  Mata...ilalang...senja...muram....mata.....” aku hampir tak ingat lagi jalan mana yang kulalui untuk pulang.
[ pukul 17.05 ]

--bersambung--

  






PEREMPUAN

Jika sebuah mawar kau tancapkan di makam ini,
tak ada sedu sedan yang layak kau tumpahkan di tanah ini
Nisan perempuan-perempuan yang istirahat di pangkuan malaikat
masih berbalut senyum,
pernah terlukis diatas kanvas, di dalam buku,
 dalam sejarah, juga dalam doa

“tak ada ajaran cinta yang lepas dari perempuan,
dan lelaki belajar mencintai melalui jalannya...
tuan, tak apa kau tinggalkan kami
kami adalah tanah, lahan, sawah
dan rumah tempat semua anak-anak kembali”


(okt’14 _ Ibu-ibu jalanan)

Nasib dan Peruntungan

  Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...