Tampilkan postingan dengan label [POEISI]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label [POEISI]. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Maret 2025

Indonesia Emas

Indonesia itu pintar lo

Banyak lulusan sarjana yang bercita-cita jadi pejabat

kelak menguasai bangsa, lalu menjajah rakyat sendiri

 

Indonesia itu hebat

punya klasemen liga korupsi yang sangat kompetitif

Fantastis betul jumlahnya, bukti Indonesia itu kaya raya

 

Indonesia itu gokil bro!

banyak perpustakaan yang dibangun 

dan menjadi tempat paling sunyi di muka bumi ini

bener-bener sepi.... sepi manusia, sepi pikiran

 

Indonesia itu keren,

rakyat lebih senang menghujat guru yang sering dapat gratifikasi dari muridnya: 

permen bentuk cinta, coklat pink, dan nasi liwet bikinan ibunya

 

Indonesia itu lucu,

negara demokrasi biar rakyatnya bebas berekspresi,

giliran menyuarakan uneg-unegnya langsung diciduk, dihakimi

ah, gak diam salah - diam lama-lama edan

 

Apa jadi bodoh saja?

 

 

Senin, 04 Mei 2015

NARASI PEREMPUAN




Tubuh merah membara, lekas surut. Terbuang seperti kondom bekas. Seperti kenangan yang siap dikubur di makam. Mengkerut seperti keriput hari. Menggoda di tepi jalan.  Pucat seperti pajangan.... 

Mari kuliti malam, dengan sumpalan mulut bedebahmu. Selepasnya biar perempuan yang memanggul dosa. Dan lelaki berkelebat seperti pemburu. Mengincar dan memangsa. Dengan senapan dan sepatu bot. Berderap merajah tubuh kami.

Menggeliat. Melahirkan ratusan anak. Tumpukan uang itu telah membeli nyawa orok-orok. Tanpa nama. Tanpa bapak.
Matipun, dengan diam-diam....
[ 03 mei 2015 ]

Minggu, 05 April 2015

Dialog Kipas Angin

( Di sebuah ruang, dinding - lantai - buku- meja - kursi saling menyapa.Saling menatap. Saling bergumam. Saling menuding. Kipas angin tetap saja bising berputar-putar di langit )
Duduk dalam narasi pucat. Berbincang sambil menawan secangkir teh di tangan. Dengan pikiran untuk saling mencaci dan melarikan diri. Meski tubuh diam, seperti aksara kapital, kaku dan jarang berkawan dengan penyair. Kepengen lepas dari kungkungan ....
meja : " menjadi cuaca lebih buruk ketimbang jadi pikiran manusia yang melasat lesat dan merepotkan"
dinding : "aku sudah sedari malam kedinginan dan kalian masih tak gusar pada cuaca....mungkin buku-buku lebih menikmati dirinya ketimbang tidur"
Buku : "bagaimana kau bilang aku lebih asyik dan khusyuk ketimbang kalian ....aku seperti bom yang lama tak meledak, meski detik tetap berjalan. aku lebih gusar....mengerti semua peristiwa dalam tubuhku. pengen rasanya muntah ..."
lantai : "berdecit setiap napasku. Pengen aku jalan-jalan ke mimpi -mimpi manusia. merusak tatanan pikiran dalam sehari dan mengacaukan  keinginan yang belum tercapai dalam dunia bawah sadar mereka. dan itu lebih nakal dari elektron-elektron di tubuh mereka yang sering main petak umpet"
(Buku, meja, kursi, lantai menatap kipas angin yang tak mau berhenti ) 
kipas angin : "kalian ....jangan menatapku!! aku hanya kepengen satu ...tolong hentikan aku. aku lelah sekali. marahi saja cuaca yang menganggap keren saat dia saling adu jotos dengan hujan"
Lalu semua diam ....kipas angin terus bergumam sendiri. mengumpat sendiri. berteriak sendiri.
dan waktu masih tik tok tik tok tik tok ......
(kipas angin mulai gemar ber-monolog)


Selasa, 10 Maret 2015

SURAT untuk PRESIDEN


selamat sore Tuan presiden....
jarak masih mengingkari waktu dan begitulah :

jauh,
Tuan terlalu pongah dalam rengkuh
gagap diujung kata biar runtuh
pun koyak dalam sentuh
kemudian saksi  mengeluh
karena tuan tak menyeru
diam seperti bidak membatu
dan jelata merayap seperti belatung

jauh,
tuan masih mematung dalam kultus
jadi tuhan ... pergi tak hirau
dan kami tetap jadi belatung...

tinggal menghitung
kapan mayat bergelantung



Minggu, 23 November 2014

hujan

maka tengadahkan mukamu
dan berjingkat-jingkat diatas genangan jalan...
betapa kau akan hanyutkan
foto-foto yang berserakan seperti kapal kertas,
melenggang sampai tenggelam di selokan

juga ribuan tetes dalam sekejap
usap debu di kening, kaki, kelopak matamu,
setidaknya, hujan selalu membuat ritme nada sendiri
di mata dan telingamu

tanah : mencuri kebahagiaan
jika tak lekas kau berlari, menyatu,
dan berderai ....

(november rain ...2014)

Kamis, 30 Oktober 2014

JEJAK

jejak-jejak kata
menjejalimu
di mulut, telinga, perut, hati, paru, usus, vagina dan otak
ratapan dalam parodi
dan tawa dalam dramaturqi
tatananmu koyak
menelan ludah
Tuhan ada
mengacaukan
bahasa
manusia

PEREMPUAN #2


Perempuan
Tlah gagah menyangkal seorang lelaki :
Dua pasang mata itu,
membatu
Betapa waktu tak bisa lari
Meski matahari berjongkok
Atau mengiba tuk lepas
dari malam yang menggantung wajahmu
dalam gelap

nokturno ;
kau tak lagi bernyanyi
Meski dalam sunyi
Kurebahkan tangis dalam segelas kopi
Lalu kau tinggalkan aku dengan intro yang gagu
Memasang fotoku di pigura cantik
Lalu kau larung di kali,
Mengumpatku berkali kali
Biar rindu tak hadir,

Biar hati tak pasi

(Ah...pengelana itu tak lagi pulang ke dekapan)

Senin, 27 Oktober 2014

ANAK-ANAK




Anak anak
Adalah asteroid yang bertebaran
Adalah terik mentari yang menyilaukan
Juga siluet senja penjaga gerbang malam
Anak juga airan yang mengalir ke hilir
terbang dalam hembusan angin-angin
bernyanyi dengan diksi yang damai
Seperti lagu pengantar tidur

Anak anak
hiasi lampu-lampu jalan
Hidupi setiap jejak manusia ditrotoar... di kubangan
Mendekam sekeras karang tangis dan tawa
Sudahlah ibu.... jangan mengiba lagi
Biar angin ini yang sampaikan doamu pada Tuhan
Dan kaki serta tangan ini,
yang akan menjejal hari dalam genggaman malam

Minggu, 26 Oktober 2014

PEREMPUAN

Jika sebuah mawar kau tancapkan di makam ini,
tak ada sedu sedan yang layak kau tumpahkan di tanah ini
Nisan perempuan-perempuan yang istirahat di pangkuan malaikat
masih berbalut senyum,
pernah terlukis diatas kanvas, di dalam buku,
 dalam sejarah, juga dalam doa

“tak ada ajaran cinta yang lepas dari perempuan,
dan lelaki belajar mencintai melalui jalannya...
tuan, tak apa kau tinggalkan kami
kami adalah tanah, lahan, sawah
dan rumah tempat semua anak-anak kembali”


(okt’14 _ Ibu-ibu jalanan)

Senin, 20 Oktober 2014

MEMOAR #2




(1)
Ada sebagian tubuhku yang hilang ...... entah kemana.
Bukan karena residu atas kekecewaan atas hidupku saat ini.
Keberadaan yang inkonsisten sebagai seorang perempuan...
Merasa gagal sebelum menjalani secara utuh cita-cita yang sederhana, tidak muluk, namun menguras hati dan pikiran.
Sekilas semua beranjak dari ketidak mapanan tekad dalam menjalani waktu demi waktu yang menggerus wajah
Terombang ambing antara pasrah dan tak berdaya,
Mencoba tegak meski letih
Kadang tertawa sendiri karena bahasa terlalu satir untuk diucap
Seperti guyonan yang menyakitkan,
Selebihnya tak ada ampun atas kekecewaan dan masa lalu
Jika ada mesin penghapus jejak , mungkin tak sekeras ini aku mengelak
Bahwa aku bahagia disaat aku dengan kekanak-kanakanku,
Lugu dengan kerasionalan berpikir, “aku dan bukan dengan tanpa sadar”

(2)
Jika bertahan pada salah dan benar... mungkin aku berada diantara dua titik itu.
Terlambat untuk menjadi tahu,  mengiba pada yang kuasa,
Nah itulah semestinya,  tapi aku hanya berdiri dan pergi
Pada suatu waktu suatu ruang dan kejadian

Mimpi....kombinasi antara kenyataan, fantasi, emosi
dan santap malammu...
sadar penuh atas cinta, penderitaan serta agama
dan agama lahir di negeri ini dengan berdiri gagah diantara keduanya,
aku sedang menuju penyangkalan atas derita sebuah humanitas,
dan masih diam...
seperti debu yang siap terenggut!
( oktober 2014)

Minggu, 19 Oktober 2014

PARODI KATA


 (1)
Ada kejenuhan pada puisi
Resah pada kata yang hilang
Seperti Memungut sampah di tong
Berkumpul tuk jadi budak
Kekejaman dalam kata kata
Hujani kata kata di mulut
Berkoar-koar, mengaduh, menuduh, memburu
Membunuh makna di awal dan akhir
Kemudian jadi temuan lain dalam kotak yang berbeda
Kejahatan yang tak bisa dimaafkan
(Permainan belum tuntas)

(2)

                                        Sejak kapan hujan membuang peluh di selokan
                                        Dia merelakan diri di panas dan dingin
                                        menyiasati malam
                                        Kemudian menyatu dalam waktu
                                        Setelahnya kau renggut dalam simbol
                                        jadi dewa juga iblis
                                        mengendap dalam-dalam ke inti
                                        untuk kau temu lagi nanti kembali
                                        kemudian... dan seterusnya
 




Nasib dan Peruntungan

  Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...