Bagaimana kau bisa menulis? Ketika kau buka lembar kosong, yang ada hanya tatapan kosong, pikiran kosong, dan hati yang kosong. Hidup yang kupertaruhkan pada sesuatu yang itu-itu saja dan berulang setiap hari. Kadang percikan-percikan yang dirasakan datang cepat, sekelebat dan hilang lagi tanpa menyisakan apa-apa. Aku hanya menikmati hidup yang membosankan meski kubilang pada semua teman bahwa hidup ini cukup mengasyikkan. Aku akan mengumpat dan mengeluh secukupnya meski hidup bisa berjalan tanpa penuh umpatan dan keluhan. Tak ada mimpi yang benar-benar tercapai ketika sudah menginjak 40 tahun, di mana kata orang pada umur 40 inilah aku akan kembali hidup dengan sungguh-sungguh.
Owh, apa aku melewatkan hari-hari berat yang dulu kutangisi? Apa sekarang aku baru bisa menertawakan hidup yang dulu pernah kualami dengan penuh sesak dan mengerikan. Bahkan jika di kehidupan nanti aku ditanya maukah aku menjalani hidup seperti ini? Dengan tegas aku menolak. Toh, hari ini aku sudah lupa bahwa pernah memiliki mimpi yang keren dan layak dibicarakan dengan teman-teman di kantor. Mimpi yang layak diperdebatkan dan bangga untuk diperjuangkan. Saat ini, aku pada fase malas, ogah dan percuma bicara tentang mimpi yang seharusnya kita pegang erat dan terus kita perjuangkan. Omong kosong bukan?
Hiburan satir di saat melamun adalah mengingat harapan-harapan kosong seolah mimpi itu terwujud. Dan masih tersenyum lebar dalam lamunan saat berkhayal bahwa mimpi itu masih terawat rapi di ingatan. Bangunan rumah kecil, penuh tanaman hijau dan rak buku berjajar dengan kursi malasnya …dan impian itu terus terjaga sampai aku muak.
Jilid berikutnya dengan umur 40 tahun akan mengigatkan bahwa hidup dimulai lagi dengan kekacauan yang dibuat sendiri. Mengacak-acak keberadaan diri dengan terus mempertanyakan untuk apa semua ini. Toh, hidup terus berjalan dan dihabiskan dengan hal ini itu … dan semua hal remeh meski aku tahu semua itu bukanlah hal yang sia-sia. Berpikirlah yang besar atau kau akan mampus ditelan sepi.
Besar sebesar apa? Aku bahkan tak ingat idealisme yang pernah kubangun semasa muda. Bukankah hanya itu yang bisa dibanggakan saat muda? Di usia 40 tahun semua yang kau banggakan tak bersisa. Idealisme hanya hidup pada masa di mana kau belum menemukan orang lain yang sekarang telah menjadi bagian hidupmu dan kau tak bisa menyangkal sedikitpun, kini hiduppmu tergerus habis persis seperti idealism itu. Hidup macam apa yang diinginkan? Hidup macam Leo Tolstoy atau Maria Rilke yang penuh dengan gejolak penderitaan? Atau hidup seperti para pemikir yang berjaya di masa puncaknya dan berakhir tragis dan dramatis?
Ah, pada umur ini aku yakin bahwa sebagian besar buku yang telah kubaca telah mempengaruhi pemikiranku untuk bertahan hidup. Kau akan paham jika kau membaca banyak buku lantas kau seolah menjadi sama dengan orang yang kau baca. Bukan sebagai persona yang berubah-berubah, namun arus pikiran yang sama akan menjalar ke tubuhmu, nadimu, otakmu bahkan ke dalam tatapan matamu. Hidup ini penuh dengan absurditas. Hanya orang yang konyol yang mengatakan bahwa hidup ini menyenangkan?. Itu pernyataan dungu dan subyektif. Begitu kataku. Dan aku salah satu orang dungu itu? Mungkin jika kumpulan bukuku penuh dengan novel-novel murahan dan romantis aku tetap tak akan bisa bohong dan mengatakan bahwa hidup ini saking kelewat asyiknya, aku tak bisa mengakhiri penderitaanku. Semua peristiwa menyesakkan itu perlu kita rayakan dengan merokok dan ngopi. Namun, aku tak bisa merokok dan tak suka kopi. Aku hanya akan membaca puku puisi sampai pingsan. Aih, membosankan.
Puluhan ribu kata-kata yang kubaca akan 100% mempengaruhi untuk hidup kembali seperti yang kau bilang. Dan benar, aku merasakan seluruh tubuh dan nadiku hancur dan sudah tak bisa merasakan lagi apa-apa. Aku sudah kebal. Aku sudah memakannya sampai muak apa itu derita dan kesepian. Otakku sudah tak bisa lagi berpikir dan pura-pura bahagia dengan minum coklat hangat dan berdendang nyanyi kecil lagu Norah Jones. Dan aku akan menolak keras bahwa satu-satunya tujuan hidup itu hanyalah mencapai kebahagiaan. Kau berharap demikian bukan?
Tidak, aku tak akan bilang demikian.
