Selasa, 13 Januari 2026

Soerat #1

 Kangen tu terbuat dari apa to, Dul?

Sepertinya malam melumat nya jadi abu
Kuberitahu ya...pesan yg kubisikkan padamu bisa jadi hujan yang membara di bongkahan batu-batu ini
Jika tak sampai padamu, anggap saja angin mendesis itu tanda aku masih hidup dan tentu: kangen itu terbuat dr bongkahan-bongkahan batu yang menjadikannya jadi aku.

Persetan, Dul!

Aku manusia puisi yang sok-sok an romantis dengan siapa saja apa saja.
Jika kata-kata sudah muak denganku, kuikat saja kepalaku menempel dinding....
Biar adem, biar gak basi di otak yang mendidih.
Biar kamu tiba-tiba muncul jadi kuncup kembang malam yang wangi masuk lewat jendela,
Jadi jam dinding yang kasak kusuk berdebat dalam sepi 
Dan jadi lampu kamar yang kelap kelip, ogah mati ogah hidup ...
Persetan denganku...asal kau memandangku saja aku sudah cukup 
Biarpun gila biarpun waras, tohh puisi tetap kurang ajar menulis wajahmu di setiap siasatmu yang cantik....

 

Anak-anak Perempuan Itu

 

"Anak-anakku,  bolehkah Emak merawat anak-anak tak mampu dan mengasihi mereka jika kalian pergi meninggalkanku kelak?". Demikianlah pikiran-pikiran yang kusimpan dalam hati saat aku membaca bukunya Xinran, "Message From an Unknown Chinese Mother" dan segera kucatat di buku agenda merahku. Kisah nyata lintas negara yang Xinran kumpulkan saat menjadi reporter tentang kesetaraan gender di negerinya. Nasib buruk seorang anak yang terlahir berjenis kelamin perempuan menghantui setiap langkah mereka. Begitulah aku, takdir menjadi anak perempuan yang telah melahirkan tiga anak perempuan; Sekar, Kunthi dan Gendhing. Anak-anak  perempuan yang akan memikul beban berat meski sebagian orang menganggap lelaki-lah yang memiliki beban lebih berat ketimbang perempuan. Kami tak memiliki privillage untuk menyombongkan diri sebagai seorang homo sapien. Aku hanya memiliki satu kebanggaan, yaitu menjadi ibu dari anak-anak itu.

"Mak-mak'e... kapan mbak Sekar pulang ya? Atau aku berangkat duluan membawa barang dagangan ke Manahan?", teriak Kunthi dari dapur sambil mengangkat cilok yang masih panas mengebul dari panci.

“Boleh… nanti Emak kirim pesan pada mbakmu agar segera menyusul setelah kuliahnya selesai”, kubiarkan Gendhing tidur pulas di lincak dan berteman radio butut peninggalan kakeknya. Setelah selesai mengajar aku membuat dagangan untuk tambah-tambah penghasilan. Berapa-lah gaji guru honorer dan masih membiayai kuliah Sekar.

Berita di radio tentang ontran-ontran di ibukota mungkin akan menyebar di kota Solo. Hal itu tak mungkin dipungkiri. Kunthi yang dari tadi sibuk menyiapkan dagangan ciloknya malah memutar volume lebih keras seolah paham kalau Emaknya suka mendengarkan berita.

“Mak, apa nanti benar ada demo ya? Takutnya mbak Sekar ikutan demo. Tahu sendiri kan, kalau mbak Sekar si paling aktif ikut kegiatan di kampus”

“Masak to, nduk …la Mbakmu itu bentar lagi lulus dan mau jadi guru lo. Kok yo ikut-ikutan demo segala”

“Kalau besok jadi guru, mbak Sekar pasti jadi guru yang joss. Guru yang berani dan pasti disenangi murid-muridnya”, tukas Kunthi dengan lugas. Ya, Sekar dari dulu pengen sekali mengajar anak-anak di daerah pelosok. Aku sungguh melihat bara di matanya.

Aku terdiam. Aku baru sadar itu. Anak-anak perempuanku tidak ada yang pendiam, ketiganya sama-sama gak bisa diam. Mereka tak malu untuk berdagang membantu keuangan keluarga. Terlebih saat Bapak Sekar meninggal karena kecelakaan 5 tahun silam. Kunthi yang masih berumur 11 tahun saja sudah biasa jualan cilok di pinggir jalanan dekat stadion Manahan, dekat dengan keramaian anak-anak sekolah. Kepalaku menoleh padanya dan demikian juga wajah Kunthi yang melongok dari arah dapur. Mata kami beradu. Perbincangan antara kedua pasang mata ini mengatakan satu hal yang sama; bahaya!

“Apa kamu libur dulu, nduk? Emak saja yang menggantikan jualan cilok. Emak takut nanti sore ada demo di Manahan”

“Tenang, Mak. Mak’e bikin dagangan saja sambil nganter ke hik-hik seperti biasa. Nanti kalau kondisi bahaya pasti Kunthi segera pulang”

“Janji?”

“Janji!”, jawab anak perempuanku itu meski kutangkap sedikit gentar di matamya.

Setelah selesai menata jualan ciloknya di sepeda, Kunthi menarik topi yang tergantung di kapstok. Ia kenakan sambil meraih tanganku yang masih sibuk membungkus puluhan nasi bandeng dan menciumnya. Kutatap matanya dan dia pergi tanpa ragu. Aku paham sekali, ketiga anakku memiliki mata yang khas, tegas dan berbinar. Kulit coklat sawonya mengkilap terkena panas matahari sore itu. Kudoakan langkahmu, nduk. Gusti Allah akan menjagamu.

WA-ku masih belum berbalas. Sekar masih belum berkabar kalau kuliahnya selesai atau posisi di mana. Ia memang sudah berjanji padaku agar selalu memberi kabar ke manapun ia pergi. Suara penyiar radio Pro-2 FM masih memberitakan tentang kejadian mengerikan para pendemo di Jakarta. Dalam hati, aku berdoa agar kota ini aman dan terjauh dari peristiwa yang memilukan.

Aku meraih Handphone di samping Gendhing tidur. Kupencet tombol memanggil ke nomer kontak Sekar. Tanganku mulai bergetar untuk kesekian kali dan panggilan tetap tak diangkat.

“Budhe Mus…nitip Gendhing ya. Dia tidur di lincak. Aku mau nganter dagangan dan mencari Sekar. Di meja ada nasi dan lauk…makan aja, Dhe”, budhe Mus langsung manggut-manggut sambil nyuci baju di sumur depan rumah. Rumah tua ini dibagi dua untuk dikontrak keluargaku dan sebelah kiri disewa budhe Mus.

Sepeda yang penuh dengan gantungan plastik kresek isi nasi bungkus ini, bergoyang-goyang ke kanan kiri saat stang nya bergerak menjauh menuju jalan beraspal. Tanganku berkeringat. Hatiku was-was. “Nduk, kamu di mana Nduk…” batinku sambil mengayuh sepeda dengan cepat. Ia harus mengantar dagangan di tiga tempat lantas akan kucari kau. Meski kadang hatiku ciut, namun ahh, tidak …. Aku tak gentar.

Senja di ujung kota Solo indah. Tapi tidak, mataku tak mampu melihatnya dengan jelas. Kutatap setiap ujung kota dengan seksama. Kusibak setiap kerumunan anak-anak muda yang memakai almameter kampus dan melihat wajah-wajah penuh semangat itu sambil berjalan menuju barat. Beberapa teriakan masih bergemuruh sambil mengangkat spanduk dan bendera-bendera di tangan. Gelora semangat itu membara dan membakar kota.

Hatiku ikut bergemuruh, panik dan kakiku gemetar. Setengah berlari kususul ratusan massa yang masih bergerak dengan kaki dan teriakan. Sepeda kutinggal di pinggir taman tempat Kunthi jualan. Kutitip pesan pada Pak Jenggot tukang jualan buah Lotis agar menjaga anakku. Kusuruh segera pulang setelah adzan magrib berkumandang.

“Mbak… tahu Sekar di mana?”, kupegang tangan gadis berkerudung menggunakan almameter sama dengan anakku. Entah berapa gerombolan pendemo yang kutanyai sambil melihat wajahnya lekat-lekat. Tiba-tiba kumpulan massa menjadi kacau. Teriakan yel-yel dan orasi di depan sana berubah menjadi teriakan beberapa anak sekolah, mahasiswa maupun pendemo lainnya. Mataku pedih. Demo yang semula tertib, menjadi ricuh, berantakan dan kacau.

Tubuhku tak imbang dan tumbang di jalan aspal itu. Tubuh saling dorong mendorong untuk menyelamatkan diri. Tubuhku tersungkur dan tertubruk seorang pendemo dengan membawa tas ransel di punggungnya. Kupeluk lututku dengan gemetar, perlahan kuberanikan diri menoleh perempuan berkerudung hitam dan bertalikan pita merah putih di keningnya.

“Sekar?”, kutarik tubuhnya yang terjatuh di sampingku. Dia menepi sambil menggeret tanganku ke tepi jalan masuk ke warung dan bersembunyi dari kerumunan massa yang mulai kacau. Kutarik maskernya meski nafasku terengah-engah tak teratur. Wajahnya itu, ya mata yang menyala itu aku kenal.

“Nduk…kamu kah itu?”

Wajah yang penuh gelora itu terlihat di binar matanya. Kupeluk tubuh itu. Tubuh anak perempuanku yang masih memegang spanduk di tangannya. Matanya merah.

“Maaf, Mak… aku tak berani mengabari emak kalau ikut demo”, aku menangis sesenggukan sambil mengusapkan sapu tangan yang kubasahi dengan air.

“Diam. Cepat usap matamu. Bersihkan dengan air ini”

“Ayo pulang … cepat, sebelum malam merenggut banyak nyawa”

Kutarik tangannya sambil berlari di sisa tenagaku. Kubergerak berbalik arah dengan massa, menjauh dari kerumunan dan kekacauan. Kutengok dari kejauhan … senja yang penuh warna-warni. Jingga dan warna merah menghiasi senja di ujung kota Solo. Dua sepeda menjauh dari keramaian kota. Aku, Sekar dan Kunthi hanya ingin segera pulang. “Kita harus pulang, nduk …besok emak masih mengajar, kamu dan adik-adik masih perlu belajar. Besok, kita masih bisa memperbaiki masa depan”, gumamku dalam hati.

Kuakhiri catatan kecil di agenda merahku: “Anak-anakku perempuan. Kulahirkan kalian dengan sisa-sisa nafas. Kita akan hidup penuh gelora dan ... Jadilah guru yang berani dan penuh kehangatan”.

(Surakarta, 03 September 2025)


Senin, 25 Agustus 2025

Anakronisme-ku

Aku yang terlampau gembira saat kau jenguk,

serakah memintamu tuk mampir 

meski kopiku tak enak setiap kusajikan

 

Aku terlalu bodoh tuk mengakui bahwa aku bodoh betulan

bahwa bulan tak merasa cakep di mata penyair

bahwa kau (masih) begitu kalem meski aku bedigasan 

seperti dulu

 Sok-sokan diajak main biar tambah puitis kali,

 

Sungguhpun demikiam, aku betul-betul konyol

karena bersorak wajahmu mampir di mimpiku 

 

Rabu, 21 Mei 2025

Manusia (tidak) Bebas

Malam itu angin bergerak binal. Habis hujan dan jalanan aspal sudah mulai agak kering. Basah, beberapa dedaunan yang rimbun di pinggir jalan masih basah dan airnya muncrat saat kakiku menyerempet dengan tak sengaja. Lelaki di depanku masih mengendarai motor dengan santai dan sesekali menghisap rokoknya. Di jalanan, aku sering melamun dan lebih khusyuk ketimbang melamun di toilet. 

Saat berhenti di lampu merah, aku melanjutkan andai-andaiku dengan lelaki tadi. Ya, pengendara mas- mas itu tepat di depanku, masih dengan rokoknya. Kayaknya nikmat ya, menghisap rokok pas hujan gerimis dan jalanan basah. Aku sering kepengin jadi laki-laki kalau melihat mereka merokok di jalan. Lelaki yang merokok saat berkendara memang lebih natural, ketimbang entah saat nongkrong di cafe atau warung. Aneh, aku memang lebih aneh dari bayanganku sendiri.

Suatu saat  waktu ngobrol dengan temen cewek yang kebtulan perokok juga, ia bertanya, "mbak, kamu gak risih to nongkrong sama aku yang udud-an ini. Banyak yang ngelirik aneh gitu". Ha mbok ben bilangku padanya, "jujur ya, entah kenapa aku gak selurus seperti yang kamu kira. Aku pernah sangat ingin merokok seperti kamu dan ikutan buka jilbab kaya temen-temen waktu pentas. Tapi, aku ingat sekali perjuanganku di SMA waktu pake jilbab masih 2-3 orang dalam satu sekolahan dan aku diantara orang yang ngeyel pake jilbab itu", imbuhku saat dia ngebul pas di depanku. Kopi tinggal separuh.

Sedang aku, melarang suamiku merokok di dalam rumah. Dia pasti merokok di teras atau di pinggir jalan. Tak se rupiahpun dia meminta uang  jika rokoknya habis. Persetan, itu urusanmu! Aku melarang anak-anakku merokok meski mereka laki-laki. Aku berjuang mati-matian agar anakku tidak merokok. Bahkan, aku bisa bertengkar hebat dengan anak keduaku, karena ia jujur pernah mencoba merokok karena temannya. Aku tidak suka saja. Bukan alasan ragawi saja, namun juga idealisme ku yang kolot dengan norma sosial. Meski aku tak menampik, aku sangat pernah ingin merokok. Aku juga bukan saklek bab itu, betul karena tidak suka saja. Setidaknya aku ingin mereka hidup lama ....ya, lama. Tidak seperti bapakku, perokok berat yang meninggal usia 60 an. Seharusnya, ia bisa hidup sesuai dugaanku, Serakah ya!

Sudah menjadi kebiasaanku, mengendarai motor menjadi hal yang sangat menyenangkan karena melamun tadi. Tidak seperti dulu waktu masih umur 20-30an, aku suka ngebut.  Tapi seiring waktu, mengemudi dengan santai membuatku bisa menikmati waktu, merasakan suasana jalanan dan berdialog dengan diri sendiri. Ya, Eyel-eyelan dengan diri sendiri. Mengapa Sigmund Freud yang terkenal dengan kehendak bebasnya itu    justru membuktikan bahwa manusia itu sangat tidak bebas. Meski ia memiliki kehendak bebas atas prakarsanya sendiri, namun ia tetap terikat dengan aturan, etika dan produk pikirannya sendiri. Ini mustahil ditolak. Manusia yang bebas itu masih terbelenggu dengan pikirannya sendiri,

Saat melamun, kau selalu berjibaku dengan semua alasan kamu hidup dan terus melakukan banyak hal meski tak kau sukai. Ini mengapa penulis menulis novel. Itu kenapa Sartre senang membahas Novel sebagai sesuatu yang tidak 'asal'. Dia pernah mengatakan, "novel mendatangi kita dari sisi lain cakrawala, sisi lain samudra, ia berbicara kepada kita tentang matahari pada musim semi yang pahit dan dingin tanpa adanya batu bara untuk menghangatkan.."

Aku mengamininya dengan lantang. Bahwa novel adalah sebuah bentuk pembebasan untuk lepas dari kungkungan hidup yang bebas namun tidak bebas ini. Sungguhpun kau menampik dengan mengatakan kamu bisa melakukan apapun yang kau mau, tapi produk yang kamu lakukan sekarang hanyalah buah pembalasan atas kekecewaanmu pada hidup. Kamu hanya tak bisa mengatakan bahwa aku melakukan hal tersebut karena seseorang, karena keadaan, karena jika tak melakukannya aku akan mati... seperti itulah hidup yang kita jalani saat ini.

Lantas, keberuntungan penulis adalah ia bisa menangkap momen hidupnya dalam kata-kata dan mengumpulkan kekecewaan, kesedihan, gelora dan kematian dengan tulisan. Dalam bukunya "What I Talk About, When I Talk About Running"(2007) Haruki Murakami membahas bagaimana ia menulis justru di tengah kesibukannya melamun saat berlari. Saat latihan lari untuk lomba Marathon, entah di Hokkaido, New York maupun di Athena, Murakami selalu berkutat dengan pikirannya saat melamun. Lamunannya tak kosong dan tak khayal. Ia menggambarkan pekerjaan menulis seperti tukang pandai besi yang tekun melakukan pekerjaannya setiap hari. Asimilasi antara lamunan dan dialognya saat berinteraksi dengan sesuatu yang ia temui menjadi hidup dalam ingatan kolektif dan serupa kontemplasi ia rangkum dalam esai-esai larinya.

Dalam bukunya itu, Murakami secara personal membahas pandangannya sebagai penulis Novel. Bagaimana ia menganggap pekerjaan menulis itu pekerjaan manual sekaligus mental. Ia menulis untuk menjadi sebuah karya buku membutuhkan waktu yang tak singkat. Meskipun menulis hanya mengetikkan kata-kata dan menunggu sampai tulisanmu jadi, kau anggap hal itu selesai. Realitasnya, menulis butuh mental yang tidak dipakai orang dalam menggunakan energi mereka untuk mengangkat kursi atau secangkir kopi. Tidak. Dan tidak hanya butuh intelektualitas dan ketenangan di ruang kerja . Akhirnya Murakami mengatakan bahwa secara mentalitas, penulis harus memiliki daya tahan dan ketabahan. 

Tak mungkin seorang penulis hebat memiliki tubuh yang tak sehat. Daya tahannya dalam melahirkan halaman per halaman tulisan menguras energi dan pikiran. Lihat saja buku-buku Leo Tolstoy, Dan Brown, J.K. Rawling yang menghasilkan tiga sampai lima ratusan halaman dan tetap menarik dibaca sampai akhir. Tidak cukup hanya kuat secara fisik, namun juga psikis dalam menjaga alur cerita, kebosanan dan kebuntuan. Setelahnya, kesabarannya dalam menulis akan menuai hasilnya saat cerita yang ia tulis dapat dibaca oleh pembaca. 

Meski demikian, Murakami berani berkata bahwa bekerja sebagai penulis novel itu sungguh tidak sehat. Ia akan tenggelam di ruang kerjanya dan berkutat dengan pikirannya sampai mentok. Setelahnya, makan, minum dan merokok menjadi satu-satunya pelarian. Ia mengakui sendiri, saat mengerjakan salah satu novelnya tubuhnya jadi gemuk, suka gelisah dan tak pernah latihan berlari lagi. Ia terpuruk dengan pola hidupnya yang mengerikan itu. Dari situ, ia mulai ingin berlari lagi. Ia ingin hidup lebih lama dan ikut lomba Marathon meski umurnya tak lagi muda.

Sebagai pembaca, membaca novel itu seperti kamu bisa merasakan perasaan, emosi, dan lamunan seseorang. Ya, persis saat aku mengendarai motor selama berangkat dan pulang kerja. Aku sangat bisa merasakan dialog yang kulakukan dalam diam sekaligus berisik di kepala. Mungkin hal tersebut yang membuat Murakami tak mau melewatkan apapun yang terlewat di mata, telinga, betis, telapak kaki, otot-otot, nafas dan pikirannya saat berlari. Dan benar, saat kau membaca buku "What I Talk About, When I Talk About Running", apa yang Murakami rasakan bisa benar-benar kau rasakan seolah kau mengalaminya. Ya gilanya, setelah membaca buku ini aku benar-benar ingin berlari. Meski tak jadi atlet Marathon dan tak kuat membeli sepatu 'Mizuno'.


 

Selasa, 13 Mei 2025

Punggung Lebar itu

 Ku senang-senang saja hanya melihat punggungmu dari belakang. Kata Ibu, punggung lebar itu siap menerima hujan dari langit. Siap memelukmu saat malam. Siap menampung air matamu, dan kuat menerima beban hidup yang gila ini.

Tapi anakmu ini, tak punya punggung itu, bu! Punggungku bungkuk. Tubuhku kurus, tak berlemak. Punggungku tidak tegap seperti bapak. Dan benar saja, aku sudah sinting saja hidup seperti ini

Lelaki berpunggung lebar itu tak menoleh. Dia hanya lewat dan pergi menghilang di punggung malam. Gelap menelan neraka di ujung jalan dengan congkak. Tuhan sengaja mengecat hitam pada langit agar tubuhku hilang dan lumat tertelan malam.

Mimpi Perempuan Paruh Baya

Api terlihat membumbung di kilau matamu. Itu bukan neraka kan, bu? Itu seperti kelopak yang merekah di malam hari. Mataku berair, geloramu berapi. Sungguhpun Tuhan tak ke mana-mana, Dia menantimu di perempatan jalan. Ditemani tukang becak yang lelap di mimpi-mimpinya.

Sungguh Tuhan tak ke mana-mana, bu. Hanya saja kau penat dan menyangkalnya mati-matian. Bahwa senja kau anggap ingkar janji. Bahwa hujan lelah menanggung sepi. Bahwa bulan sering nangis di kuburan, sendiri. Bahwa kau terkungkung di bola mata yang berapi-api dan penuh gejolak.

Setelahnya, kau minta mati dalam dekapan malam dibalut luka, katanya akar-akar pohon beringin itu kulkas penyimpan lupa: dingin dan beku.

Di pojok Kelas

Aku suka duduk di pojok belakang.
Mepet dinding dan tak terlihat. Aku suka diam, bersandar di tembok dan merasakan betapa dingin tubuhnya, hangat degupnya

Aku akan menempelkan pipi dan telingaku, sambil menguping apa yang dibicarakan orang lain. Tentu aku lebih diam dari tembok itu sendiri. Dinding ini tidak angkuh dan kita sudah berteman lama. Ya, kan?

Aku bisa menyatu dengannya. Aku bisa memejamkan mata berjam-jam di kelas. Tentu, karena aku suka diam. Aku tak suka bicara, aku malas melihat ... aku suka mendengar degup jam dinding. Tentu, karena aku biasa menunggu. 

Takdir Seorang Pemimpi

Alarm berdering. Tubuh mulai menggeliat. Membersihkan sisa mimpi semalam. Kau tahu, wajahmu hanya muncul samar-samar. Lebih jelas namamu yang kutulis dalam kontak telpon.

'Jangan hubungi aku. Abaikan saja saat berpapasan'. Pesan itu yang terakhir kau kirim. Sepaginya, kubiarkan kopi pahit yang kubenci tersaji di atas meja. Kuteguk dan kutemukan nasib sial terasa di lidah.

Andai takdir bisa kukarang, maka pertemuan X dan Y dalam genomku, akan kupertemukan sesuka hati, dengan tarian sepasang kromosom yang bergelimang cinta.

Aiih, jika itu karanganku saja ....

Sabtu, 08 Maret 2025

Indonesia Emas

Indonesia itu pintar lo

Banyak lulusan sarjana yang bercita-cita jadi pejabat

kelak menguasai bangsa, lalu menjajah rakyat sendiri

 

Indonesia itu hebat

punya klasemen liga korupsi yang sangat kompetitif

Fantastis betul jumlahnya, bukti Indonesia itu kaya raya

 

Indonesia itu gokil bro!

banyak perpustakaan yang dibangun 

dan menjadi tempat paling sunyi di muka bumi ini

bener-bener sepi.... sepi manusia, sepi pikiran

 

Indonesia itu keren,

rakyat lebih senang menghujat guru yang sering dapat gratifikasi dari muridnya: 

permen bentuk cinta, coklat pink, dan nasi liwet bikinan ibunya

 

Indonesia itu lucu,

negara demokrasi biar rakyatnya bebas berekspresi,

giliran menyuarakan uneg-unegnya langsung diciduk, dihakimi

ah, gak diam salah - diam lama-lama edan

 

Apa jadi bodoh saja?

 

 

Rabu, 30 Oktober 2024

Se'kere' inikah sate kere?


 

Setiap pulang sore dari kerja, di jalanan aku selalu mikir sayur atau lauk apa yang harus aku beli buat makan malam. Sebelum masuk gang ke rumahku, aku melewati penjual sate yang buka setiap sore. Aroma kebulan asap yang membakar sate menusuk hidung. Sambil menoleh, kupelankan laju sepeda motorku. Rupanya bukan sate biasa. Itu sate kere! teriakku dalam hati. Terus terang sate itu sudah jarang kutemui di kota ini. Hanya kadang kutemui saat pasar malam, yang buka musiman. Kupikir selama ini sate yang dijual ibu itu sate ponorogo yang biasanya.

Aku putar balik tanpa pikir panjang. Meski kutahu anak-anakku pasti tidak suka dan hanya aku dan Eyang yang mau menyantap 'old-food' ini. Saat menunggu saya berpikir kenapa orang jaman dahulu menamai sate ini dengan sate 'kere'. Toh jika kita menilik asal muasal makanan ini dibuat, histori masa kompeni langsung kembali. Masa jaman susah ketika rakyat jelata juga ingin menikmati sensasi makan nikmat ala ningrat berbahan daging itu. Kawula alit ini tentu tak bisa beli daging yang harganya mahal dan bisa menyesal seumur hidup dengan menghabiskan uang simpanannya hanya untuk menikmati sate.

Kere sendiri merupakan makna yang secara konotatif disematkan pada kata miskin yang semiskin-miskinnya. Itu kenapa orang jawa menggunakan kata 'kere' sebagai umpatan yang dapat meluapkan emosinya 'to the deep ocean'. Anehnya kata tersebut memang pantas dicap kan pada rakyat jelata pada jaman dahulu yang tidak layak memakan makanan kelas atas tersebut bagaimanapun caranya. Sate yang berbahan daging tersebut, di-adakan di depan mata dengan bahan yang mirip dan berasa  seperti daging betulan. Apesnya, bahan penting kere justru bukan jerohan sapi seperti usus, hati, jantung dan kikil sapi namun tempe gembus yang terbuat dari ampas (sisa) pembuatan tahu dan tempe. Tempe gembus yang direbus terlebih dahulu sebelum dibakar dengan arang kemudian terasa nikmat jika disajikan dengan saus kacang. Tentu saus kacang sate kere berbeda rasa dengan sate ponorogo pada umumnya. Dari sinilah aku paham kenapa sate ini dinamakan begini amat. Se-kere ini lah yang menunjukkan hirarki terbawah dalam makna kata miskin. 

Ya, tempe gembus adalah sisa-sisa pembuatan tahu yang bagi orang lain seharusnya dibuang. Sedangkan jerohan: usus, hati dan kikil sapi adalah sisa atau sampah yang tak termakan untuk sajian makanan orang ningrat. Bagi orang jawa, keterbatasan justru membuatnya jadi kreatif. Bahan-bahan yang sebenarnya sampah (ampas) diolah bisa menjadi makanan enak. Jerohan yang dibuang dan dianggap bukan daging itu bisa ditusuk di lidi dan bisa jadi sate. Kekreatifan para kawulo alit tersebut bisa bermanfaat dan menepis keinginan mengincip makanan kelas atas dengan sama-sama bernama sate. Ironisnya, penamaan tersebut memang disepakati sebagai bentuk protes sosial atas kondisi gap yang terlampau jauh di masyarakat Indonesia jaman dahulu. Kere vs Ningrat tidak akan kejam dalam konotasinya jika dinamai miskin vs ningrat. Satire masyarakat belum tentu dirasakan oleh pemerintah pada waktu itu. Makanan tetaplah makanan, yang memiliki hirarki kekuasaan berdasarkan status keberadaanya di strata sosial ekonomi. Perwujudan bahasa bisa masuk dalam perjuangan anti penjajah waktu itu. Namun, kebiasaan mendengar kere untuk jaman sekarang terasa risih dan kasar meski kita tahu seluk beluknya, kronologis pragmatis.

Makanan kreatif senikmat itu belum tentu bernama indah dan estetik. Sejauh ini, makanan jawa yang memiliki nama khas dan aneh di telinga gen Z justru memiliki nilai historis dan mencipta jalan memori ke masa silam. Suar kenangan muncul di ingatan orang-orang tua yang pernah bergesekan pada jaman tersebut. Meski aku hanya mengincip sisa-sisa jajahan dalam segi budaya, kuliner dan pendidikan, aku masih sanggup menerimanya. Takjub dengan penamaan, istilah dengan maknanya yang 'jomplang' dari segi semantik dan pragmatis justru memiliki segi nostalgic. 

Pernah menganggap konyol dengan segala bentuk pemaknaan yang melo dan sentimentil, toh nyatanya aku selalu bernostalgia dengan makanan atau tempat-tempat yang menggiringku ke masa lalu. Sate kere memiliki tempat tersendiri untukku. Sate kere cukup sering kutemui di kampungku waktu kecil. Ada Simbah-simbah yang berjualan menaiki sepeda onthel dan sering berhenti di depan rumah. Masalahnya, dulu saking aku sukanya dengan sate tempe gembus ini aku dilarang terlalu sering oleh ibuku. Aku hanya beli jika benar-benar diperbolehkan ibuku. Entah karena ngirit atau apa, ibu jarang membelikanku sate kere. Kesukaanku dengan sausnya sering aku habiskan di akhir sambil kutambahi nasi. Lontong yang cuma sedikit dengan tempe dan kikil nya langsung kulahap habis, kusisakan sausnya untuk "gong" nya sampai kusapu dengan jariku atau kadang dengan 'suru' atau sendok yang terbuat dari daun pisang yang dilipat jadi dua. Pada akhirnya, sampai aku dewasa sate kere selalu menjadi makanan yang menempati ruang 'nostalgia' tersendiri. 


Solo, 31 Okt 2024


Selasa, 15 Oktober 2024

“JIKAPUN TIDAK, AKU AKAN BERKATA IYA” (sebuah monolog)

 



Aku   :  Adam…Eva …kuciptakan untuk diriku sendiri. Jika aku jadi orang jahat, maka aku akan senang hati menjadi pembunuh. Satu orang yang ingin kubunuh dengan tanpa belas kasih adalah aku sendiri. Namun jika aku ditakdirkan jadi manusia yang berhati malaikat, maka aku akan jadi malaikat betulan… yang bisa menyelamatkan diriku sendiri dari kungkungan kegelapan dan terkubang di lubang yang dalam ….Biarlah mereka saling bunuh dan menyelamatkan. Sampai mana aku bisa kuat menghadapinya. Menghadapi kekacauan ini.

 

Adam  :

“Seperti cerahnya matahari pertama yang kulihat…

matamu bersinar menyorotkan kehidupan, Eva

Rambutmu legam, seperti segenggam arang dan segelap malam yang kutemui.

Bahasamu lembut, selembut angin sore yang berhembus berbisik di telinga dedaun,

Entah sampai kapan ….aku terus mengusut jejakmu,

Aku berjanji menyambut yang dijanjikan Tuhan padaku

O, sampai kapan aku mencarimu?

 

Di mana kamu, Eva?”

 

SurTejo:

(berteriak-teriak)

“Haaaiiii….. Mbah Adaammm, kami di sini…..!

Kau bisa mendengarku??

Aku bisa mendengar suaramu  dari sini.

Aku tadi bertemu dengan Nenek Eva lo Mbah …

Kenapa kau tak menoleh wahai, mbah Adam?

Aku sudah menemukan yang ingin kau temukan

Aku punya alat dengan radar ini, mudah untuk mencari sesuatu yang hilang….

Kau tentunya bisa belajar dengan mencari pengetahuan di manapun itu, bukan?

Lalu kau akan bisa menemukan ini itu lalu kau bisa menamai mereka yang kau temui,  meniru apapun yang kau lihat, memakan apa yang mereka makan, dan mengenakaan baju yang mereka kenakan…. Sebuah pohon pengetahuan yang luarbiasa bukan?

 

 

Halah kamu bicara apa to Sur…sur …

Jangan sok-sokan kamu
wajahmu saja biasa-biasa saja, otakmu juga gak besar-besar amat,

Kenapa kau terus nerocos bab kebidupan?

Betulkan dulu tuh, bajumu yang compang camping
sepatumu yang jebol dan rumahmu yang reot
dunia tak menerima kekurangan manusia seperti itu

Kau harus cantik mulus ganteng gagah dan kaya untuk bisa hidup

Permak dulu wajahmu itu
dunia itu kejam, Sur!

Kejam Sekali!!!”

 

Eva:

“Aku telah berjalan jauuhhh sekali, Adam
menyeberang lautan, naik gunung berkelok kelok menuruni lembah dan berlarian di padang rumput yang tak berbunga…..dan musim selalu berubah

Selalu berubah

 

Bagaimana kabarmu di sana, Adam

Mungkin permainan ini bisa berubah cara mainnya,

Berubah endingnya

Kita hanya dilahirkan demi program yang dirancang…

Kita sudah mengawalinya, Adam…

Kapan kita bisa mengakhirinya?

Apa kita bisa me-reset permainan ini dan bisa mengubah cara mainnya?

 

Namun, kita tahu benar…

Permainan ini hanya bisa dimainkan kita berdua

Dan aku belum menemukanmu”

 

SurTejo:

(Surti berteriak)

“Wahai mbah Adam …..Nenek Eva …..
kemarilah, kalian bisa bertemu di sini!
menengoklah Adam Eva….
Suaraku habis terus meneriakimu…

 

Sur…Surti, sudahlah,

Mereka yang seharusnya bertemu di sini atau di sana itu bukan urusanmu

Dandanlah demi esok bisa bertemu matahari

Kita perlu cantik dan ganteng agar bisa hidup layaknya manusia jaman ini

Demi bisa foto keren dan mempostingnya dengan bangga

Demi matahari yang setiap hari kalem menemui kita dan mengantar bekalmu di tempat kerja

Kita bisa melaut, berselancar kapanpun sejauh mungkin tanpa repot-repot bergerak

 

Tejo-tejo… kau salah

Kita bisa hidup layak seperti saat ini karena Mbah Adam Nenek Eva bisa bertemu

Seperti dalam kitab takdir

Adam dan Eva yang gagal bertemu itu suatu keniscayaan dunia lain yang perlu dipertimbangkan….

Dunia bakal edan,,,, dunia sudah edan sekarang

Gila seperti kamu!

Yang selalu menganggap wajahku jelek dan otakku kecil!

Biarpun kulitku hitam, badanku pendek, hidungku pesek dan aku tidak kaya..

HIDUP hidung pesek…HIDUP kulit coklat…HIDUP rambut kutuan. Hidup hidupaannnnnn!

(sambil mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang mengepal)

Aku layak memperjuangkan hidup ini

Demi perjuangan Mbah Adam dan nenek Eva yang bertemu dengan penuh duka cita!

Entah terlalu cepat atau terlambat mereka bertemu…

Atau bahkan GAGAL BERTEMU

Hentikan omong kosongmu itu….

Aku mencintai hidup ini, Tejo

 

Minggir… aku akan menanam padi, merumput di kebun beternak sapi

Atau menjahit baju untuk anak-anakku

Mengocehlah sesukamu ….

 

(Berteriak)

Wahai Mbah Adam …Nenek Eva …. Selamat berjuang

Semoga kalian segera bertemu!

(membatin diam…amat diam)

Atau tidak sama sekali!

Tidak sama sekali…..

 

Solo,  2023-2024

 

Soerat #1

 Kangen tu terbuat dari apa to, Dul? Sepertinya malam melumat nya jadi abu Kuberitahu ya...pesan yg kubisikkan padamu bisa jadi hujan yang m...