Rabu, 18 Februari 2026

Nasib dan Peruntungan

 

Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir yang jika puluhan tahun yang lalu tidak kuputuskan melalui jalan ini…aku mungkin terbebas dari rasa terkekang pada nasib buruk. Ah, atau mungkin tidak …

Orang-orang yang terluka karena kegagalan hidup seolah memandang dengan curiga segala keceriaan sebagai sesuatu kekanak-kanakan. Kutipan kalimat dari Nietzsche dalam bukunya Fajar (1911), membuat segalanya lebih gamblang dari realitas yang sering menutupi segala bentuk wajah asli manusia. Karena kekecewaan, ketidakberuntungan, penderitaan atau kekhawatiran yang berlebihan. Kita hanya akan berubah menggunakan topeng ketika bersama orang lain. Kita hanya akan merasa bebas dan jujur ketika sendirian. Sayang, semua bentuk kesendirian itu tak dikehendaki semua orang.

Aku tahu aku tak boleh memikirkan masa lalu. Toh sudah terjadi dan aku tak mau terkungkung masa lalu. Aku hanya mau memikirkan saat ini dan tak mau khawatir akan masa depan. Tapi ya Tuhan… aku tak bisa. Aku masih terlalu rapuh. Dadaku semakin sesak dan nyeri. Aku terus berpikir bahwa aku terus berjuang sendiri. Kenapa tidak sekalian dari dulu aku berpikir bahwa hidup berdua itu tak lebih baik? Toh, ternyata aku yang harus menanggung semuanya. Hidupku sendiri, kebahagianku atau hanya sekedar bertahan hidup. Aku masih terus berpikir apakah aku kelak masih sekuat ini. Masih bisa menahan beban untuk menyiapkan masa depan anak-anakku agar mereka tidak tersiksa seperti aku. Sebisa mungkin, jika waktuku masih banyak, aku ingin menyiapkan semua yang dibutuhkan ketiga anakku besok saat mereka berumah tangga. Berumah sendiri dan bisa merasakan privasi hidup berkeluarga dan berkecukupan.

Apa ‘cukup’ berarti cukup untukku? Tuhan tak memberi aku opsi untuk keluar dari ini semua. Ah, atau aku yang bodoh karena selalu terlewat melihat peluang? Aku hanya akan terus menimbang seluruh kemampuanku untuk bertahan dan keluar dari rasa lemah dan angkuh ini. Kenapa diri yang lemah dan tak berdaya ini bisa angkuh pada masa lalu yang terlewat dan masa depan yang belum jelas terlihat.

Bukankah kekhawatiran demi kekhawatiran ini datang dari pikiran sendiri? Aku tak punya sekutu untuk merawat nasib sial ini. Siapa sangka, jika kurawat dengan ikhlas maka nasib buruk ini akan berubah dengan nasib baik.  Nasib buruk itu seperti  kadal yang terjebak di jalan raya dan ingin melintas menemukan padang rumput. Mungkin pertanyaan bodoh anakku tak benar-benar bodoh; apa yang dilakukan ibuk jika suatu saat nanti ibuk dilahirkan sebagai Komodo? Aku hanya menjawab singkat. Aku hanya akan bertahan hidup, makan minum  tiduran dan jangan sampai mati sia-sia. Anakku tertawa. Lah, aku pasti akan jadi kadal ya? Anaknya Komodo. Iya, betul. Kita hanya akan bertahan hidup. Dan yang paling menyiksa karena Komodo gak bisa baca buku, jadi pastinya kita akan gabut.

Apakah nasib manusia juga sama dengan Komodo, burung atau cacing? Bertahan hidup dan sesekali mencari kemewahan melalui kesendiriannya meratapi hidup. Terakhir, aku bilang sama anakku…manusia itu makhluk yang paling lemah dek, itu kenapa akal kita gunakan untuk memanipulasi makhluk lain dengan alasan bertahan hidup. Dan dengan gagah kita akan bilang bahwa manusia adalah puncak rantai makanan. Haha, gila ya?

Ya mungkin kelebihan manusia karena kita hidup berkoloni. Mampus kita kalau kita hanya hidup sendirian di bumi. Manipulasi adalah kemampuan basic yang dipelajari manusia pertama untuk bertahan hidup. Bukankah begitu? Setelahnya kita akan menemukan alasan pembenaran untuk setiap tindakan menggunakan teori-teori, dalil-dalil dan dengan segala macam metode ilmiah. Jalan empiris mungkin ditempuh di opsi yang kesekian setelah kita menemukan keyakinan. Keyakinan akan benar atau salah. Kemudian metode yang diambil adalah menyiapkan alat alibi untuk menjelaskan pada orang lain bahkan pada diri sendiri untuk menguatkan.

Dari alur inilah manusia akan mengatakan semua kebetulan-kebetulan ini menjadi sebuah peruntungan. Dan peruntungan maupun kegetiran yang datang akan menjadi takdir jika datang bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Keberuntungan ini yang akan dicari selama masa hidupnya untuk menghindari kekecewaan dan penderitaan jiwa. Apa kau mampu melihat keberuntungan itu sembunyi?

Misteri ini yang akan terus dicari manusia dengan segala macam upaya pencarian simbol di celah-celah yang tersembunyi. Bagaimana kita mengenali tanda-tanda dan takdir manusia yang senang mencari tanda dan menyematkan simbol itu sendiri. Selama hidup kita, manusia akan terus bermain dengan tanda. Beruntung atau tidak, hidup kita seperti bermain lotre. Betapa cerdasnya kita mencari makna dibalik simbol, semakin kita jauh dari peruntungan.

Seperti menjauh dari realita, manusia yang sibuk mencari akan kehilangan makna seiring dia melupakan hidup yang ia Jalani. Semakin sibuk ia mencari, semakin menjauh apa yang ia cari. Lantas apa yang perlu diragukan dari semua ini? Cukup terus menjadi air yang mengalir atau menjadi homo sapien yang bangga dengan keberhasilan populasinya di bumi?

Terakhir, anakku terus mengatakan jika suatu saat jadi pohon, mungkin lebih enak kali ya bu? Aku mengiyakan seolah pernah merasakan jadi pohon. Atau karena aku juga bermimpi ingin jadi pohon yang umurnya ratusan tahun, ada yang berumur sangat pendek, tidak ribet, cukup diam dan bahagia dengan kesendiriannya. Apa menjadi pohon juga bisa  merasakan bahagia, buk? Iya dek, mungkin.

Rabu, 04 Februari 2026

Usia 40 tahun


 

Bagaimana kau bisa menulis? Ketika kau buka lembar kosong, yang ada hanya tatapan kosong, pikiran kosong, dan hati yang kosong. Hidup yang kupertaruhkan pada sesuatu yang itu-itu saja dan berulang setiap hari. Kadang percikan-percikan yang dirasakan datang cepat, sekelebat dan hilang lagi tanpa menyisakan apa-apa. Aku hanya menikmati hidup yang membosankan meski kubilang pada semua teman bahwa hidup ini cukup mengasyikkan. Aku akan mengumpat dan mengeluh secukupnya meski hidup bisa berjalan tanpa penuh umpatan dan keluhan. Tak ada mimpi yang benar-benar tercapai ketika  sudah menginjak 40 tahun, di mana kata orang pada umur 40 inilah aku akan kembali hidup dengan sungguh-sungguh.

Owh, apa aku melewatkan hari-hari berat yang dulu kutangisi? Apa sekarang aku baru bisa menertawakan hidup yang dulu pernah kualami dengan penuh sesak dan mengerikan. Bahkan jika di kehidupan nanti aku ditanya maukah aku menjalani hidup seperti ini? Dengan tegas aku menolak. Toh, hari ini aku sudah lupa  bahwa pernah memiliki mimpi yang keren dan layak dibicarakan dengan teman-teman di kantor. Mimpi yang layak diperdebatkan dan bangga untuk diperjuangkan. Saat ini, aku pada fase malas, ogah dan percuma bicara tentang mimpi yang seharusnya kita pegang erat dan terus kita perjuangkan. Omong kosong bukan?

Hiburan satir di saat melamun adalah mengingat harapan-harapan kosong seolah mimpi itu terwujud. Dan masih tersenyum lebar dalam lamunan saat berkhayal bahwa mimpi itu masih terawat rapi di ingatan. Bangunan rumah kecil, penuh tanaman hijau dan rak buku berjajar dengan kursi malasnya …dan impian itu terus terjaga sampai aku muak.

Jilid berikutnya dengan umur 40 tahun akan mengigatkan bahwa hidup dimulai lagi dengan kekacauan yang dibuat sendiri. Mengacak-acak keberadaan diri dengan terus mempertanyakan untuk apa semua ini. Toh, hidup terus berjalan dan dihabiskan dengan hal ini itu … dan semua hal remeh meski aku tahu semua itu bukanlah hal yang sia-sia. Berpikirlah yang besar atau kau akan mampus ditelan sepi.

Besar sebesar apa? Aku bahkan tak ingat idealisme yang pernah kubangun semasa muda. Bukankah hanya itu yang bisa dibanggakan saat muda? Di usia 40 tahun semua yang kau banggakan tak bersisa. Idealisme hanya hidup pada masa di mana kau belum menemukan orang lain yang sekarang telah menjadi bagian hidupmu dan kau tak bisa menyangkal sedikitpun, kini hiduppmu tergerus habis persis seperti idealism itu. Hidup macam apa yang diinginkan? Hidup macam Leo Tolstoy atau Maria Rilke yang penuh dengan gejolak penderitaan? Atau hidup seperti para pemikir yang berjaya di masa puncaknya dan  berakhir tragis dan dramatis?

Ah, pada umur ini aku yakin bahwa sebagian besar buku yang telah kubaca telah mempengaruhi pemikiranku untuk bertahan hidup. Kau akan paham jika kau membaca banyak buku lantas kau seolah menjadi sama dengan orang yang kau baca. Bukan sebagai persona yang berubah-berubah, namun arus pikiran yang sama akan menjalar ke tubuhmu, nadimu, otakmu bahkan ke dalam tatapan matamu. Hidup ini penuh dengan absurditas. Hanya orang yang konyol yang mengatakan bahwa hidup ini menyenangkan?. Itu pernyataan dungu dan subyektif. Begitu kataku. Dan aku salah satu orang dungu itu? Mungkin jika kumpulan bukuku penuh dengan novel-novel murahan dan romantis aku tetap tak akan bisa bohong dan mengatakan bahwa hidup ini saking kelewat asyiknya, aku tak bisa mengakhiri penderitaanku. Semua peristiwa menyesakkan itu perlu kita rayakan dengan merokok dan ngopi. Namun, aku tak bisa merokok dan tak suka kopi. Aku hanya akan membaca puku puisi sampai pingsan. Aih, membosankan.

Puluhan ribu kata-kata yang kubaca akan 100% mempengaruhi untuk hidup kembali seperti yang kau bilang. Dan benar, aku merasakan seluruh tubuh dan nadiku hancur dan sudah tak bisa merasakan lagi apa-apa. Aku sudah kebal. Aku sudah memakannya sampai muak apa itu derita dan kesepian. Otakku sudah tak bisa lagi berpikir dan pura-pura bahagia dengan minum coklat hangat dan berdendang nyanyi kecil lagu Norah Jones. Dan aku akan menolak keras bahwa satu-satunya tujuan hidup itu hanyalah mencapai kebahagiaan. Kau berharap demikian bukan?

Tidak, aku tak akan bilang demikian.

Selasa, 13 Januari 2026

Soerat #1

 Kangen tu terbuat dari apa to, Dul?

Sepertinya malam melumat nya jadi abu
Kuberitahu ya...pesan yg kubisikkan padamu bisa jadi hujan yang membara di bongkahan batu-batu ini
Jika tak sampai padamu, anggap saja angin mendesis itu tanda aku masih hidup dan tentu: kangen itu terbuat dr bongkahan-bongkahan batu yang menjadikannya jadi aku.

Persetan, Dul!

Aku manusia puisi yang sok-sok an romantis dengan siapa saja apa saja.
Jika kata-kata sudah muak denganku, kuikat saja kepalaku menempel dinding....
Biar adem, biar gak basi di otak yang mendidih.
Biar kamu tiba-tiba muncul jadi kuncup kembang malam yang wangi masuk lewat jendela,
Jadi jam dinding yang kasak kusuk berdebat dalam sepi 
Dan jadi lampu kamar yang kelap kelip, ogah mati ogah hidup ...
Persetan denganku...asal kau memandangku saja aku sudah cukup 
Biarpun gila biarpun waras, tohh puisi tetap kurang ajar menulis wajahmu di setiap siasatmu yang cantik....

 

Anak-anak Perempuan Itu

 

"Anak-anakku,  bolehkah Emak merawat anak-anak tak mampu dan mengasihi mereka jika kalian pergi meninggalkanku kelak?". Demikianlah pikiran-pikiran yang kusimpan dalam hati saat aku membaca bukunya Xinran, "Message From an Unknown Chinese Mother" dan segera kucatat di buku agenda merahku. Kisah nyata lintas negara yang Xinran kumpulkan saat menjadi reporter tentang kesetaraan gender di negerinya. Nasib buruk seorang anak yang terlahir berjenis kelamin perempuan menghantui setiap langkah mereka. Begitulah aku, takdir menjadi anak perempuan yang telah melahirkan tiga anak perempuan; Sekar, Kunthi dan Gendhing. Anak-anak  perempuan yang akan memikul beban berat meski sebagian orang menganggap lelaki-lah yang memiliki beban lebih berat ketimbang perempuan. Kami tak memiliki privillage untuk menyombongkan diri sebagai seorang homo sapien. Aku hanya memiliki satu kebanggaan, yaitu menjadi ibu dari anak-anak itu.

"Mak-mak'e... kapan mbak Sekar pulang ya? Atau aku berangkat duluan membawa barang dagangan ke Manahan?", teriak Kunthi dari dapur sambil mengangkat cilok yang masih panas mengebul dari panci.

“Boleh… nanti Emak kirim pesan pada mbakmu agar segera menyusul setelah kuliahnya selesai”, kubiarkan Gendhing tidur pulas di lincak dan berteman radio butut peninggalan kakeknya. Setelah selesai mengajar aku membuat dagangan untuk tambah-tambah penghasilan. Berapa-lah gaji guru honorer dan masih membiayai kuliah Sekar.

Berita di radio tentang ontran-ontran di ibukota mungkin akan menyebar di kota Solo. Hal itu tak mungkin dipungkiri. Kunthi yang dari tadi sibuk menyiapkan dagangan ciloknya malah memutar volume lebih keras seolah paham kalau Emaknya suka mendengarkan berita.

“Mak, apa nanti benar ada demo ya? Takutnya mbak Sekar ikutan demo. Tahu sendiri kan, kalau mbak Sekar si paling aktif ikut kegiatan di kampus”

“Masak to, nduk …la Mbakmu itu bentar lagi lulus dan mau jadi guru lo. Kok yo ikut-ikutan demo segala”

“Kalau besok jadi guru, mbak Sekar pasti jadi guru yang joss. Guru yang berani dan pasti disenangi murid-muridnya”, tukas Kunthi dengan lugas. Ya, Sekar dari dulu pengen sekali mengajar anak-anak di daerah pelosok. Aku sungguh melihat bara di matanya.

Aku terdiam. Aku baru sadar itu. Anak-anak perempuanku tidak ada yang pendiam, ketiganya sama-sama gak bisa diam. Mereka tak malu untuk berdagang membantu keuangan keluarga. Terlebih saat Bapak Sekar meninggal karena kecelakaan 5 tahun silam. Kunthi yang masih berumur 11 tahun saja sudah biasa jualan cilok di pinggir jalanan dekat stadion Manahan, dekat dengan keramaian anak-anak sekolah. Kepalaku menoleh padanya dan demikian juga wajah Kunthi yang melongok dari arah dapur. Mata kami beradu. Perbincangan antara kedua pasang mata ini mengatakan satu hal yang sama; bahaya!

“Apa kamu libur dulu, nduk? Emak saja yang menggantikan jualan cilok. Emak takut nanti sore ada demo di Manahan”

“Tenang, Mak. Mak’e bikin dagangan saja sambil nganter ke hik-hik seperti biasa. Nanti kalau kondisi bahaya pasti Kunthi segera pulang”

“Janji?”

“Janji!”, jawab anak perempuanku itu meski kutangkap sedikit gentar di matamya.

Setelah selesai menata jualan ciloknya di sepeda, Kunthi menarik topi yang tergantung di kapstok. Ia kenakan sambil meraih tanganku yang masih sibuk membungkus puluhan nasi bandeng dan menciumnya. Kutatap matanya dan dia pergi tanpa ragu. Aku paham sekali, ketiga anakku memiliki mata yang khas, tegas dan berbinar. Kulit coklat sawonya mengkilap terkena panas matahari sore itu. Kudoakan langkahmu, nduk. Gusti Allah akan menjagamu.

WA-ku masih belum berbalas. Sekar masih belum berkabar kalau kuliahnya selesai atau posisi di mana. Ia memang sudah berjanji padaku agar selalu memberi kabar ke manapun ia pergi. Suara penyiar radio Pro-2 FM masih memberitakan tentang kejadian mengerikan para pendemo di Jakarta. Dalam hati, aku berdoa agar kota ini aman dan terjauh dari peristiwa yang memilukan.

Aku meraih Handphone di samping Gendhing tidur. Kupencet tombol memanggil ke nomer kontak Sekar. Tanganku mulai bergetar untuk kesekian kali dan panggilan tetap tak diangkat.

“Budhe Mus…nitip Gendhing ya. Dia tidur di lincak. Aku mau nganter dagangan dan mencari Sekar. Di meja ada nasi dan lauk…makan aja, Dhe”, budhe Mus langsung manggut-manggut sambil nyuci baju di sumur depan rumah. Rumah tua ini dibagi dua untuk dikontrak keluargaku dan sebelah kiri disewa budhe Mus.

Sepeda yang penuh dengan gantungan plastik kresek isi nasi bungkus ini, bergoyang-goyang ke kanan kiri saat stang nya bergerak menjauh menuju jalan beraspal. Tanganku berkeringat. Hatiku was-was. “Nduk, kamu di mana Nduk…” batinku sambil mengayuh sepeda dengan cepat. Ia harus mengantar dagangan di tiga tempat lantas akan kucari kau. Meski kadang hatiku ciut, namun ahh, tidak …. Aku tak gentar.

Senja di ujung kota Solo indah. Tapi tidak, mataku tak mampu melihatnya dengan jelas. Kutatap setiap ujung kota dengan seksama. Kusibak setiap kerumunan anak-anak muda yang memakai almameter kampus dan melihat wajah-wajah penuh semangat itu sambil berjalan menuju barat. Beberapa teriakan masih bergemuruh sambil mengangkat spanduk dan bendera-bendera di tangan. Gelora semangat itu membara dan membakar kota.

Hatiku ikut bergemuruh, panik dan kakiku gemetar. Setengah berlari kususul ratusan massa yang masih bergerak dengan kaki dan teriakan. Sepeda kutinggal di pinggir taman tempat Kunthi jualan. Kutitip pesan pada Pak Jenggot tukang jualan buah Lotis agar menjaga anakku. Kusuruh segera pulang setelah adzan magrib berkumandang.

“Mbak… tahu Sekar di mana?”, kupegang tangan gadis berkerudung menggunakan almameter sama dengan anakku. Entah berapa gerombolan pendemo yang kutanyai sambil melihat wajahnya lekat-lekat. Tiba-tiba kumpulan massa menjadi kacau. Teriakan yel-yel dan orasi di depan sana berubah menjadi teriakan beberapa anak sekolah, mahasiswa maupun pendemo lainnya. Mataku pedih. Demo yang semula tertib, menjadi ricuh, berantakan dan kacau.

Tubuhku tak imbang dan tumbang di jalan aspal itu. Tubuh saling dorong mendorong untuk menyelamatkan diri. Tubuhku tersungkur dan tertubruk seorang pendemo dengan membawa tas ransel di punggungnya. Kupeluk lututku dengan gemetar, perlahan kuberanikan diri menoleh perempuan berkerudung hitam dan bertalikan pita merah putih di keningnya.

“Sekar?”, kutarik tubuhnya yang terjatuh di sampingku. Dia menepi sambil menggeret tanganku ke tepi jalan masuk ke warung dan bersembunyi dari kerumunan massa yang mulai kacau. Kutarik maskernya meski nafasku terengah-engah tak teratur. Wajahnya itu, ya mata yang menyala itu aku kenal.

“Nduk…kamu kah itu?”

Wajah yang penuh gelora itu terlihat di binar matanya. Kupeluk tubuh itu. Tubuh anak perempuanku yang masih memegang spanduk di tangannya. Matanya merah.

“Maaf, Mak… aku tak berani mengabari emak kalau ikut demo”, aku menangis sesenggukan sambil mengusapkan sapu tangan yang kubasahi dengan air.

“Diam. Cepat usap matamu. Bersihkan dengan air ini”

“Ayo pulang … cepat, sebelum malam merenggut banyak nyawa”

Kutarik tangannya sambil berlari di sisa tenagaku. Kubergerak berbalik arah dengan massa, menjauh dari kerumunan dan kekacauan. Kutengok dari kejauhan … senja yang penuh warna-warni. Jingga dan warna merah menghiasi senja di ujung kota Solo. Dua sepeda menjauh dari keramaian kota. Aku, Sekar dan Kunthi hanya ingin segera pulang. “Kita harus pulang, nduk …besok emak masih mengajar, kamu dan adik-adik masih perlu belajar. Besok, kita masih bisa memperbaiki masa depan”, gumamku dalam hati.

Kuakhiri catatan kecil di agenda merahku: “Anak-anakku perempuan. Kulahirkan kalian dengan sisa-sisa nafas. Kita akan hidup penuh gelora dan ... Jadilah guru yang berani dan penuh kehangatan”.

(Surakarta, 03 September 2025)


Nasib dan Peruntungan

  Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...