Aku yang terlampau gembira saat kau jenguk,
serakah memintamu tuk mampir
meski kopiku tak enak setiap kusajikan
Aku terlalu bodoh tuk mengakui bahwa aku bodoh betulan
bahwa bulan tak merasa cakep di mata penyair
bahwa kau (masih) begitu kalem meski aku bedigasan
seperti dulu
Sok-sokan diajak main biar tambah puitis kali,
Sungguhpun demikiam, aku betul-betul konyol
karena bersorak wajahmu mampir di mimpiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar