( Di sebuah ruang, dinding - lantai - buku- meja - kursi saling menyapa.Saling menatap. Saling bergumam. Saling menuding. Kipas angin tetap saja bising berputar-putar di langit )
Duduk dalam narasi pucat. Berbincang sambil menawan secangkir teh di tangan. Dengan pikiran untuk saling mencaci dan melarikan diri. Meski tubuh diam, seperti aksara kapital, kaku dan jarang berkawan dengan penyair. Kepengen lepas dari kungkungan ....
meja : " menjadi cuaca lebih buruk ketimbang jadi pikiran manusia yang melasat lesat dan merepotkan"
dinding : "aku sudah sedari malam kedinginan dan kalian masih tak gusar pada cuaca....mungkin buku-buku lebih menikmati dirinya ketimbang tidur"
Buku : "bagaimana kau bilang aku lebih asyik dan khusyuk ketimbang kalian ....aku seperti bom yang lama tak meledak, meski detik tetap berjalan. aku lebih gusar....mengerti semua peristiwa dalam tubuhku. pengen rasanya muntah ..."
lantai : "berdecit setiap napasku. Pengen aku jalan-jalan ke mimpi -mimpi manusia. merusak tatanan pikiran dalam sehari dan mengacaukan keinginan yang belum tercapai dalam dunia bawah sadar mereka. dan itu lebih nakal dari elektron-elektron di tubuh mereka yang sering main petak umpet"
(Buku, meja, kursi, lantai menatap kipas angin yang tak mau berhenti )
kipas angin : "kalian ....jangan menatapku!! aku hanya kepengen satu ...tolong hentikan aku. aku lelah sekali. marahi saja cuaca yang menganggap keren saat dia saling adu jotos dengan hujan"
Lalu semua diam ....kipas angin terus bergumam sendiri. mengumpat sendiri. berteriak sendiri.
dan waktu masih tik tok tik tok tik tok ......
(kipas angin mulai gemar ber-monolog)
Minggu, 05 April 2015
Kamis, 02 April 2015
Surat Ibu
Aliran kehidupan ini sungguh menarik
Gusti....
Bagaimana sebuah pikiran dapat
menyatu dengan waktu yang seolah saling kejar mengejar.
Bagiku, aliran postmodern sangat
akrab dengan kehidupanku, dengan frame yang sudah lama aku tatah dan kuhaluskan
permukaannya sedikit demi sedikit.
Alur yang rancu kadang sengaja
kuhadirkan. Kembali kuserahkan tanpa syarat dalam beberapa kesempatan.
Lalu kembali lagi.....kadang melesat
ke masa depan yang sering membuatku
ingin berdiri dan tak ingin menoleh lagi.
Aku tak ingin bangkit untuk saat ini.
Aku masih menyisakan kenangan yang belum kuziarahi.
Buruk...indah....tak mengapa karena
aku adalah penganut postmodern & Bloom (TEORI HUMANISTIK)
Penganut tatanan yang dapat kau
koyakkan setiap saat, dapat kurubah setiap saat sesuai warna yang kuinginkan.
Sakit, benci, marah, tolol, jujur,
manis , pembunuh, perusuh, pengayom, rindu, .....
Lalu kemana kau letakkan duniamu?
Disini...yah disini, di dada kedua
anakku yang kelak mewarisi jiwa anti kemapanan ini, jiwa bebas ini, jiwa
perombak ini, dan jiwa jujur ini dalam waktu yang bersamaan ...
Dari alur inilah, mulai kurekam
jejakku melalui kata-kata, tulisan, lukisan, buku-buku, juga mimpi-mimpi yang
telah mengalir kedalam darah anak-anakku...
Berkelilinglah dunia dimana dunia
yang sempat hilang itu singgah di ‘dead valley’
Mendakilah di puncak Mont Blanc,
Kilimanjaro dan Everest
Belahlah laut Merah, susuri Amazon
yang tenang dan mematikan serta bekuan air di sungai Volga
Singgahlah di atap Pamir, sapalah
Spinx dalam gundukan debu-debu kering
Dan ciumlah Hajjar Aswad dengan linangan
air mata di seluruh indramu
Beginilah ending sebuah
cerita.....elegi syahdu seperti perahu yang luruh dalam damai angin timur
[ 01 April 2015_utk anak-anakku ]
POStMODERN
[sebuah teori, namun
justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang
tunggal. Hal ini secara
singkat sebenarnya ingin menghargai faktor lain (tradisi, spiritualitas) yang
dihilangkan oleh rasionalisme, strukturalisme
dan sekularisme]
Langganan:
Komentar (Atom)
Nasib dan Peruntungan
Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...
-
Malam itu angin bergerak binal. Habis hujan dan jalanan aspal sudah mulai agak kering. Basah, beberapa dedaunan yang rimbun di pinggir jalan...
-
Ku senang-senang saja hanya melihat punggungmu dari belakang. Kata Ibu, punggung lebar itu siap menerima hujan dari langit. Siap memelukmu ...