"Anak-anakku, bolehkah Emak merawat anak-anak tak mampu dan
mengasihi mereka jika kalian pergi meninggalkanku kelak?". Demikianlah
pikiran-pikiran yang kusimpan dalam hati saat aku membaca bukunya Xinran,
"Message From an Unknown Chinese Mother" dan segera kucatat di buku
agenda merahku. Kisah nyata lintas negara yang Xinran kumpulkan saat menjadi
reporter tentang kesetaraan gender di negerinya. Nasib buruk seorang anak yang
terlahir berjenis kelamin perempuan menghantui setiap langkah mereka. Begitulah
aku, takdir menjadi anak perempuan yang telah melahirkan tiga anak perempuan;
Sekar, Kunthi dan Gendhing. Anak-anak perempuan yang akan memikul beban berat meski
sebagian orang menganggap lelaki-lah yang memiliki beban lebih berat ketimbang
perempuan. Kami tak memiliki privillage untuk menyombongkan diri sebagai
seorang homo sapien. Aku hanya memiliki satu kebanggaan, yaitu menjadi ibu dari
anak-anak itu.
"Mak-mak'e...
kapan mbak Sekar pulang ya? Atau aku berangkat duluan membawa barang dagangan ke
Manahan?", teriak Kunthi dari dapur sambil mengangkat cilok yang masih panas
mengebul dari panci.
“Boleh… nanti
Emak kirim pesan pada mbakmu agar segera menyusul setelah kuliahnya selesai”,
kubiarkan Gendhing tidur pulas di lincak dan berteman radio butut peninggalan
kakeknya. Setelah selesai mengajar aku membuat dagangan untuk tambah-tambah
penghasilan. Berapa-lah gaji guru honorer dan masih membiayai kuliah Sekar.
Berita di radio
tentang ontran-ontran di ibukota mungkin akan menyebar di kota Solo. Hal itu
tak mungkin dipungkiri. Kunthi yang dari tadi sibuk menyiapkan dagangan
ciloknya malah memutar volume lebih keras seolah paham kalau Emaknya suka
mendengarkan berita.
“Mak, apa nanti
benar ada demo ya? Takutnya mbak Sekar ikutan demo. Tahu sendiri kan, kalau
mbak Sekar si paling aktif ikut kegiatan di kampus”
“Masak to, nduk
…la Mbakmu itu bentar lagi lulus dan mau jadi guru lo. Kok yo ikut-ikutan demo
segala”
“Kalau besok
jadi guru, mbak Sekar pasti jadi guru yang joss. Guru yang berani dan pasti
disenangi murid-muridnya”, tukas Kunthi dengan lugas. Ya, Sekar dari dulu
pengen sekali mengajar anak-anak di daerah pelosok. Aku sungguh melihat bara di
matanya.
Aku terdiam.
Aku baru sadar itu. Anak-anak perempuanku tidak ada yang pendiam, ketiganya
sama-sama gak bisa diam. Mereka tak malu untuk berdagang membantu keuangan
keluarga. Terlebih saat Bapak Sekar meninggal karena kecelakaan 5 tahun silam.
Kunthi yang masih berumur 11 tahun saja sudah biasa jualan cilok di pinggir
jalanan dekat stadion Manahan, dekat dengan keramaian anak-anak sekolah.
Kepalaku menoleh padanya dan demikian juga wajah Kunthi yang melongok dari arah
dapur. Mata kami beradu. Perbincangan antara kedua pasang mata ini mengatakan
satu hal yang sama; bahaya!
“Apa kamu libur
dulu, nduk? Emak saja yang menggantikan jualan cilok. Emak takut nanti sore ada
demo di Manahan”
“Tenang, Mak.
Mak’e bikin dagangan saja sambil nganter ke hik-hik seperti biasa. Nanti kalau
kondisi bahaya pasti Kunthi segera pulang”
“Janji?”
“Janji!”, jawab
anak perempuanku itu meski kutangkap sedikit gentar di matamya.
Setelah selesai
menata jualan ciloknya di sepeda, Kunthi menarik topi yang tergantung di
kapstok. Ia kenakan sambil meraih tanganku yang masih sibuk membungkus puluhan
nasi bandeng dan menciumnya. Kutatap matanya dan dia pergi tanpa ragu. Aku
paham sekali, ketiga anakku memiliki mata yang khas, tegas dan berbinar. Kulit
coklat sawonya mengkilap terkena panas matahari sore itu. Kudoakan langkahmu,
nduk. Gusti Allah akan menjagamu.
WA-ku masih
belum berbalas. Sekar masih belum berkabar kalau kuliahnya selesai atau posisi
di mana. Ia memang sudah berjanji padaku agar selalu memberi kabar ke manapun ia
pergi. Suara penyiar radio Pro-2 FM masih memberitakan tentang kejadian
mengerikan para pendemo di Jakarta. Dalam hati, aku berdoa agar kota ini aman dan
terjauh dari peristiwa yang memilukan.
Aku meraih
Handphone di samping Gendhing tidur. Kupencet tombol memanggil ke nomer kontak
Sekar. Tanganku mulai bergetar untuk kesekian kali dan panggilan tetap tak
diangkat.
“Budhe
Mus…nitip Gendhing ya. Dia tidur di lincak. Aku mau nganter dagangan dan
mencari Sekar. Di meja ada nasi dan lauk…makan aja, Dhe”, budhe Mus langsung
manggut-manggut sambil nyuci baju di sumur depan rumah. Rumah tua ini dibagi
dua untuk dikontrak keluargaku dan sebelah kiri disewa budhe Mus.
Sepeda yang
penuh dengan gantungan plastik kresek isi nasi bungkus ini, bergoyang-goyang ke
kanan kiri saat stang nya bergerak menjauh menuju jalan beraspal. Tanganku
berkeringat. Hatiku was-was. “Nduk, kamu di mana Nduk…” batinku sambil mengayuh
sepeda dengan cepat. Ia harus mengantar dagangan di tiga tempat lantas akan
kucari kau. Meski kadang hatiku ciut, namun ahh, tidak …. Aku tak gentar.
Senja di ujung
kota Solo indah. Tapi tidak, mataku tak mampu melihatnya dengan jelas. Kutatap
setiap ujung kota dengan seksama. Kusibak setiap kerumunan anak-anak muda yang
memakai almameter kampus dan melihat wajah-wajah penuh semangat itu sambil
berjalan menuju barat. Beberapa teriakan masih bergemuruh sambil mengangkat
spanduk dan bendera-bendera di tangan. Gelora semangat itu membara dan membakar
kota.
Hatiku ikut
bergemuruh, panik dan kakiku gemetar. Setengah berlari kususul ratusan massa
yang masih bergerak dengan kaki dan teriakan. Sepeda kutinggal di pinggir taman
tempat Kunthi jualan. Kutitip pesan pada Pak Jenggot tukang jualan buah Lotis
agar menjaga anakku. Kusuruh segera pulang setelah adzan magrib berkumandang.
“Mbak… tahu
Sekar di mana?”, kupegang tangan gadis berkerudung menggunakan almameter sama
dengan anakku. Entah berapa gerombolan pendemo yang kutanyai sambil melihat
wajahnya lekat-lekat. Tiba-tiba kumpulan massa menjadi kacau. Teriakan yel-yel
dan orasi di depan sana berubah menjadi teriakan beberapa anak sekolah,
mahasiswa maupun pendemo lainnya. Mataku pedih. Demo yang semula tertib,
menjadi ricuh, berantakan dan kacau.
Tubuhku tak
imbang dan tumbang di jalan aspal itu. Tubuh saling dorong mendorong untuk
menyelamatkan diri. Tubuhku tersungkur dan tertubruk seorang pendemo dengan
membawa tas ransel di punggungnya. Kupeluk lututku dengan gemetar, perlahan kuberanikan
diri menoleh perempuan berkerudung hitam dan bertalikan pita merah putih di
keningnya.
“Sekar?”,
kutarik tubuhnya yang terjatuh di sampingku. Dia menepi sambil menggeret
tanganku ke tepi jalan masuk ke warung dan bersembunyi dari kerumunan massa
yang mulai kacau. Kutarik maskernya meski nafasku terengah-engah tak teratur.
Wajahnya itu, ya mata yang menyala itu aku kenal.
“Nduk…kamu kah
itu?”
Wajah yang
penuh gelora itu terlihat di binar matanya. Kupeluk tubuh itu. Tubuh anak
perempuanku yang masih memegang spanduk di tangannya. Matanya merah.
“Maaf, Mak… aku
tak berani mengabari emak kalau ikut demo”, aku menangis sesenggukan sambil
mengusapkan sapu tangan yang kubasahi dengan air.
“Diam. Cepat
usap matamu. Bersihkan dengan air ini”
“Ayo pulang …
cepat, sebelum malam merenggut banyak nyawa”
Kutarik
tangannya sambil berlari di sisa tenagaku. Kubergerak berbalik arah dengan
massa, menjauh dari kerumunan dan kekacauan. Kutengok dari kejauhan … senja
yang penuh warna-warni. Jingga dan warna merah menghiasi senja di ujung kota
Solo. Dua sepeda menjauh dari keramaian kota. Aku, Sekar dan Kunthi hanya ingin
segera pulang. “Kita harus pulang, nduk …besok emak masih mengajar, kamu dan
adik-adik masih perlu belajar. Besok, kita masih bisa memperbaiki masa depan”,
gumamku dalam hati.
Kuakhiri
catatan kecil di agenda merahku: “Anak-anakku perempuan. Kulahirkan kalian
dengan sisa-sisa nafas. Kita akan hidup penuh gelora dan ... Jadilah guru yang
berani dan penuh kehangatan”.
(Surakarta, 03 September
2025)