Selasa, 13 Januari 2026

Soerat #1

 Kangen tu terbuat dari apa to, Dul?

Sepertinya malam melumat nya jadi abu
Kuberitahu ya...pesan yg kubisikkan padamu bisa jadi hujan yang membara di bongkahan batu-batu ini
Jika tak sampai padamu, anggap saja angin mendesis itu tanda aku masih hidup dan tentu: kangen itu terbuat dr bongkahan-bongkahan batu yang menjadikannya jadi aku.

Persetan, Dul!

Aku manusia puisi yang sok-sok an romantis dengan siapa saja apa saja.
Jika kata-kata sudah muak denganku, kuikat saja kepalaku menempel dinding....
Biar adem, biar gak basi di otak yang mendidih.
Biar kamu tiba-tiba muncul jadi kuncup kembang malam yang wangi masuk lewat jendela,
Jadi jam dinding yang kasak kusuk berdebat dalam sepi 
Dan jadi lampu kamar yang kelap kelip, ogah mati ogah hidup ...
Persetan denganku...asal kau memandangku saja aku sudah cukup 
Biarpun gila biarpun waras, tohh puisi tetap kurang ajar menulis wajahmu di setiap siasatmu yang cantik....

 

Anak-anak Perempuan Itu

 

"Anak-anakku,  bolehkah Emak merawat anak-anak tak mampu dan mengasihi mereka jika kalian pergi meninggalkanku kelak?". Demikianlah pikiran-pikiran yang kusimpan dalam hati saat aku membaca bukunya Xinran, "Message From an Unknown Chinese Mother" dan segera kucatat di buku agenda merahku. Kisah nyata lintas negara yang Xinran kumpulkan saat menjadi reporter tentang kesetaraan gender di negerinya. Nasib buruk seorang anak yang terlahir berjenis kelamin perempuan menghantui setiap langkah mereka. Begitulah aku, takdir menjadi anak perempuan yang telah melahirkan tiga anak perempuan; Sekar, Kunthi dan Gendhing. Anak-anak  perempuan yang akan memikul beban berat meski sebagian orang menganggap lelaki-lah yang memiliki beban lebih berat ketimbang perempuan. Kami tak memiliki privillage untuk menyombongkan diri sebagai seorang homo sapien. Aku hanya memiliki satu kebanggaan, yaitu menjadi ibu dari anak-anak itu.

"Mak-mak'e... kapan mbak Sekar pulang ya? Atau aku berangkat duluan membawa barang dagangan ke Manahan?", teriak Kunthi dari dapur sambil mengangkat cilok yang masih panas mengebul dari panci.

“Boleh… nanti Emak kirim pesan pada mbakmu agar segera menyusul setelah kuliahnya selesai”, kubiarkan Gendhing tidur pulas di lincak dan berteman radio butut peninggalan kakeknya. Setelah selesai mengajar aku membuat dagangan untuk tambah-tambah penghasilan. Berapa-lah gaji guru honorer dan masih membiayai kuliah Sekar.

Berita di radio tentang ontran-ontran di ibukota mungkin akan menyebar di kota Solo. Hal itu tak mungkin dipungkiri. Kunthi yang dari tadi sibuk menyiapkan dagangan ciloknya malah memutar volume lebih keras seolah paham kalau Emaknya suka mendengarkan berita.

“Mak, apa nanti benar ada demo ya? Takutnya mbak Sekar ikutan demo. Tahu sendiri kan, kalau mbak Sekar si paling aktif ikut kegiatan di kampus”

“Masak to, nduk …la Mbakmu itu bentar lagi lulus dan mau jadi guru lo. Kok yo ikut-ikutan demo segala”

“Kalau besok jadi guru, mbak Sekar pasti jadi guru yang joss. Guru yang berani dan pasti disenangi murid-muridnya”, tukas Kunthi dengan lugas. Ya, Sekar dari dulu pengen sekali mengajar anak-anak di daerah pelosok. Aku sungguh melihat bara di matanya.

Aku terdiam. Aku baru sadar itu. Anak-anak perempuanku tidak ada yang pendiam, ketiganya sama-sama gak bisa diam. Mereka tak malu untuk berdagang membantu keuangan keluarga. Terlebih saat Bapak Sekar meninggal karena kecelakaan 5 tahun silam. Kunthi yang masih berumur 11 tahun saja sudah biasa jualan cilok di pinggir jalanan dekat stadion Manahan, dekat dengan keramaian anak-anak sekolah. Kepalaku menoleh padanya dan demikian juga wajah Kunthi yang melongok dari arah dapur. Mata kami beradu. Perbincangan antara kedua pasang mata ini mengatakan satu hal yang sama; bahaya!

“Apa kamu libur dulu, nduk? Emak saja yang menggantikan jualan cilok. Emak takut nanti sore ada demo di Manahan”

“Tenang, Mak. Mak’e bikin dagangan saja sambil nganter ke hik-hik seperti biasa. Nanti kalau kondisi bahaya pasti Kunthi segera pulang”

“Janji?”

“Janji!”, jawab anak perempuanku itu meski kutangkap sedikit gentar di matamya.

Setelah selesai menata jualan ciloknya di sepeda, Kunthi menarik topi yang tergantung di kapstok. Ia kenakan sambil meraih tanganku yang masih sibuk membungkus puluhan nasi bandeng dan menciumnya. Kutatap matanya dan dia pergi tanpa ragu. Aku paham sekali, ketiga anakku memiliki mata yang khas, tegas dan berbinar. Kulit coklat sawonya mengkilap terkena panas matahari sore itu. Kudoakan langkahmu, nduk. Gusti Allah akan menjagamu.

WA-ku masih belum berbalas. Sekar masih belum berkabar kalau kuliahnya selesai atau posisi di mana. Ia memang sudah berjanji padaku agar selalu memberi kabar ke manapun ia pergi. Suara penyiar radio Pro-2 FM masih memberitakan tentang kejadian mengerikan para pendemo di Jakarta. Dalam hati, aku berdoa agar kota ini aman dan terjauh dari peristiwa yang memilukan.

Aku meraih Handphone di samping Gendhing tidur. Kupencet tombol memanggil ke nomer kontak Sekar. Tanganku mulai bergetar untuk kesekian kali dan panggilan tetap tak diangkat.

“Budhe Mus…nitip Gendhing ya. Dia tidur di lincak. Aku mau nganter dagangan dan mencari Sekar. Di meja ada nasi dan lauk…makan aja, Dhe”, budhe Mus langsung manggut-manggut sambil nyuci baju di sumur depan rumah. Rumah tua ini dibagi dua untuk dikontrak keluargaku dan sebelah kiri disewa budhe Mus.

Sepeda yang penuh dengan gantungan plastik kresek isi nasi bungkus ini, bergoyang-goyang ke kanan kiri saat stang nya bergerak menjauh menuju jalan beraspal. Tanganku berkeringat. Hatiku was-was. “Nduk, kamu di mana Nduk…” batinku sambil mengayuh sepeda dengan cepat. Ia harus mengantar dagangan di tiga tempat lantas akan kucari kau. Meski kadang hatiku ciut, namun ahh, tidak …. Aku tak gentar.

Senja di ujung kota Solo indah. Tapi tidak, mataku tak mampu melihatnya dengan jelas. Kutatap setiap ujung kota dengan seksama. Kusibak setiap kerumunan anak-anak muda yang memakai almameter kampus dan melihat wajah-wajah penuh semangat itu sambil berjalan menuju barat. Beberapa teriakan masih bergemuruh sambil mengangkat spanduk dan bendera-bendera di tangan. Gelora semangat itu membara dan membakar kota.

Hatiku ikut bergemuruh, panik dan kakiku gemetar. Setengah berlari kususul ratusan massa yang masih bergerak dengan kaki dan teriakan. Sepeda kutinggal di pinggir taman tempat Kunthi jualan. Kutitip pesan pada Pak Jenggot tukang jualan buah Lotis agar menjaga anakku. Kusuruh segera pulang setelah adzan magrib berkumandang.

“Mbak… tahu Sekar di mana?”, kupegang tangan gadis berkerudung menggunakan almameter sama dengan anakku. Entah berapa gerombolan pendemo yang kutanyai sambil melihat wajahnya lekat-lekat. Tiba-tiba kumpulan massa menjadi kacau. Teriakan yel-yel dan orasi di depan sana berubah menjadi teriakan beberapa anak sekolah, mahasiswa maupun pendemo lainnya. Mataku pedih. Demo yang semula tertib, menjadi ricuh, berantakan dan kacau.

Tubuhku tak imbang dan tumbang di jalan aspal itu. Tubuh saling dorong mendorong untuk menyelamatkan diri. Tubuhku tersungkur dan tertubruk seorang pendemo dengan membawa tas ransel di punggungnya. Kupeluk lututku dengan gemetar, perlahan kuberanikan diri menoleh perempuan berkerudung hitam dan bertalikan pita merah putih di keningnya.

“Sekar?”, kutarik tubuhnya yang terjatuh di sampingku. Dia menepi sambil menggeret tanganku ke tepi jalan masuk ke warung dan bersembunyi dari kerumunan massa yang mulai kacau. Kutarik maskernya meski nafasku terengah-engah tak teratur. Wajahnya itu, ya mata yang menyala itu aku kenal.

“Nduk…kamu kah itu?”

Wajah yang penuh gelora itu terlihat di binar matanya. Kupeluk tubuh itu. Tubuh anak perempuanku yang masih memegang spanduk di tangannya. Matanya merah.

“Maaf, Mak… aku tak berani mengabari emak kalau ikut demo”, aku menangis sesenggukan sambil mengusapkan sapu tangan yang kubasahi dengan air.

“Diam. Cepat usap matamu. Bersihkan dengan air ini”

“Ayo pulang … cepat, sebelum malam merenggut banyak nyawa”

Kutarik tangannya sambil berlari di sisa tenagaku. Kubergerak berbalik arah dengan massa, menjauh dari kerumunan dan kekacauan. Kutengok dari kejauhan … senja yang penuh warna-warni. Jingga dan warna merah menghiasi senja di ujung kota Solo. Dua sepeda menjauh dari keramaian kota. Aku, Sekar dan Kunthi hanya ingin segera pulang. “Kita harus pulang, nduk …besok emak masih mengajar, kamu dan adik-adik masih perlu belajar. Besok, kita masih bisa memperbaiki masa depan”, gumamku dalam hati.

Kuakhiri catatan kecil di agenda merahku: “Anak-anakku perempuan. Kulahirkan kalian dengan sisa-sisa nafas. Kita akan hidup penuh gelora dan ... Jadilah guru yang berani dan penuh kehangatan”.

(Surakarta, 03 September 2025)


Nasib dan Peruntungan

  Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...