Selasa, 20 November 2018
JANJI
Ditatapnya perempuan itu. Perempuan lain di hadapannya. Perempuan yang memoles bibirnya dengan gincu merah tua. Disapanya wajah yang berkali-kali menempel di cermin. Wajah yang sama muncul untuk jadi lebih berbeda. Rambut yang lebih teratur, pipi yang lebih gempal, mata yang lebih bersinar dan bibir tebal yang bisa tersenyum. Barangkali kau tak kenal bosan. Merawat hatimu untuk menyukaiku. Kau tetap menaruh wajah cantik. Aku senang kau berpura-pura. Biar kutersenyum. Agar otakku tak belingsatan kemana-mana. Mencari spion atau kaca jendela saat berjalan. Aku percaya padamu saja. Menghitung jarak dengan percaya. Bahwa medan magnet hanya kuat di ujungnya. Permukaan saja. Di dasar inti... biar aku saja yang tahu. Tugasmu hanya menghiburk, cermin. Lalu dialog merekasepi.
Perempuan masih bergembira dengan pikirannya yang lebih tenang. Masih besok untuk menyerahkan punggungnya pada tas ransel yang penuh wasiat. Dipercayakannya pada punggungnya untuk menggendongnya kemanapun dia pergi. Ke toilet, kantor, jalanan, bus, terminal, warung hik maupun di kasur.
Nir, nama singkatnya. Nama yang otomatis membuat hatinya kecut saat mengingatnya. Namun berbekal tumpukan kertas dan foto-foto yang ada di dalam tas ranselnya, perempuan itu semakin dingin. Menatap foto perempuan berwajah ayu keibuan itu. Disampingnya, tampak segepok uang yang nongol di bibir amplop.
Dia kepengen tidak tidur atau merebahkan tubuh agar ingatannya tajam dan segera tuntaskan harinya dengan baik dan cepat. Sebelumnya, ritual untuk memoleskan minyak zaitun ke bibirnya tak ia lewatkan. Biar bibirnya tak kaku saat bicara manis. Perihal yang ia benci selama ini. Bicara basa-basi.
Perempuan ini masih menunggu. Duduk di luar sebuah restoran. Bersandar tiang listrik. Membawa ransel kulit mungil nan modis. Disisir poninya dengan lembut. Namun angin mengacaknya berulang-ulang.
Ternyata, segepok uang itu membuatnya terpaksa jadi perempuan cantik, membosankan dan menunggu. Menunggu dan ia bahkan tak tahu Nir, perempuan lain yang lebih cantik itu juga menunggunya. Bahkan jauh lebih lama dan duluan bosan di dalam.
Dua perempuan yang saling menunggu untuk bertemu. Atau berharap tak bertemu. Tak berharap bertemu dalam pertemuan yang kaku. Mungkin lebih tepatnya begitu. Mereka tak tahu, bahwa tempat mereka menunggu adalah tempat yang sudah ditakdirkan jadi tempat yang biasa untuk jadi kecewa.
Perempuan yang di dalam asyik bergumul dengan sepi. Menunggu di pojok ruang. Meja, kursi dan vas kecil mengisi sebatang tanaman berdaun hijau tanpa bunga. Saling menimpali dalam sunyi.
“selamat pagi manusia...”
“selamat pagi tanaman”, jawab perempuan dengan sopan.
“kenapa kau sendiri disini. Meja ini untuk dua orang”
“aku sedang menunggu”
“kenapa manusia senang menunggu disini?”
“karena mereka suka berjanji. Aku sebagian manusia yang taat pada janjinya”
“bukankah mereka suka perhitungan? Menghitung angka-angka dan setia membicarakannya berjam-jam. Berat badan, luas rumah, tinggi badan, berapa juta dan membilang yang tak mesti dibilang dalam angka”
“aku tak punya teman. Aku kini sendiri”
“aku sekarang temanmu”
“terima kasih...bibirku tak jadi kering”
Kursi tetap kosong. Namun obrolan tak lagi sepi. Waktu menjemput keduanya untuk bertemu dan berpisah.
Dalam keramaian lain, hening hinggap dalam setiap kehadiran. Diantara banyak manusia, seorang manusia bisa sangat sendiri dan sepi. Diantara banyak manusia, ada manusia yang mengubahnya jadi sebuah planet tak berpenghuni.
Tiang listrik yang berdiri tinggi diantara tiang-tiang lampu kota beringsut tak diam. Menyapa manusia dalam wajahnya yang tenang.
“selamat sore manusia...”
“selamat sore ... kenapa kau baru menyapaku?”
“kau terlalu tenang dalam hirup pikuk jalan ini. Takut mengganggumu”
“aku sedang menunggu. Dua ratus sepuluh detik sekali waktu dan enam ratus tiga puluh detik dalam sehari”
“kau sangat sabar. Menghitung waktu yang bukan milikmu”
“manusia memiliki waktu yang sama namun aku berhak memiliki lebih dari kebanyakan manusia lainnya”
“kenapa bisa?”
“karena mereka tak mengartikannya seperti aku menghitung waktu yang berharga ini”
“Dan kau sia-siakan?”
“tidak? Waktu tak pernah sia-sia”
“kalau begitu kau bertemu saja pada sembarang manusia, waktumu akan lebih berharga”
“kau tak tahu ini adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan manusia yang paling berharga”
“dan kau tak melakukan apa-apa”
“aku menunggu”
“manusia dewasa memang kolot. Aneh. Dan kau lebih aneh dari yang kusangka”
“terima kasih”.
Perempuan ini menjawab salam terakhir dengan santun dan maklum. Perjumpaannya dengan seseorang tak harus terwujud. Kemudian dia mengemasi tas ranselnya dengan membawa kembali uang yang utuh dalam amplop. Membawa kembali bahagia yang ia kemas rapi saat datang. Perempuan pulang membawa foto wanita yang mesti ia temui. Seharusnya ia senang, seperti bahagianya ia bertemu dengan ibu yang sudah lama ia impikan. Seperti ia selalu menunggu satu jam lebih awal. Meledakkan jantungnya ketika jarum jam mendekati jam bertemu. Namun ia taat pada pekerjaannya. Ia pasti akan datang satu jam lebih awal untuk bahagia. Menunggu seseorang. Selalu begitu.
Rabu, 18 Oktober 2017
NING
Jutaan
keping potongan pikirannya melayang-layang. Terapung di lautan luas. Terkepung
rasa bosan. Entah kapan menepi dan berhenti
di sisi pulau dan segera menetap. Akal tak lantas bergembira dengan
imaji-imaji edan dan kaku membelilit akar otak. Segera, jika dapat dipotong
kecil-kecil maka akan dia lakukan. Menjadi sel-sel yang tak terlihat dan tak
terbaca. Biar tak ada ilusi dan cantiknya kupu-kupu terbang hinggap di mahkota bunga. Perempuan ini, terlalu sepi untuk diam dan
terlalu bising untuk teriak. Terkapar di tengah lautan dan masih nihil
berharap. Kapan kata-kata akan menyapa dan memungutnya segera. Kemudian angkat dari kengerian diri
yang tak terejawantahkan.
“tidak
sur...jangan menungguku”, perempuan
berkerudung hitam lebar dan bercadar itu mulai beranjak dari rumah sempit ini
dan mengambil sepeda angin yang sudah usang dan berkarat.
Kayuhan
keras kakinya tetap tak membawa sepeda berkeranjang itu cepat melaju. Sedang sepasang mata mengikuti perginya sampai ujung jalan. Diam, menatap dalam
dan sambil meronce mote, dialihkan pandangnya ke pernak-pernik mote, payet dan
batu hias di cepuk-cepuk kecil. Masih,
kusutan benang yang ada di otaknya
semakin memintal, tak karuan, dan brantakan. Jika kudu menyisir, tak cukup puluhan tahun
sisa hidupnya agar lurus kembali.
Perempuan
berkerudung itu sering dipanggil mbak Ning. Hanya dua perempuan yang tinggal di
kontrakan sempit tanpa ada akses jalan. Kontrakannya tertutup rumah
berlantai dua dan berpagar tinggi. Gang sempit satu meter satu-satunya
jalan menuju pintu kontrakannya.
Pagi-pagi
sekali perempuan itu mengendap-ngendap memasuki gang sempit. Sandal hak
tingginya di lepas. Jaket jeans biru muda tergantung di pinggang. Rok hitam
pendek tertutup kain pantai yang diikat di pinggangnya.
Beberapa
saat tangannya memutar gagang pintu, terdengar suara perempuan berisik dan
sesekali terdengar sabetan kain panjang yang mengenai tubuh seseorang dan
berulang kali. Suryani hanya diam. Yah, hanya duduk sambil membersihkan make-up
nya.
Suasana
kembali hening. Tampak dua wajah yang lesu dan tenang. Meski gejolak amarah
masih menguntit di wajah Ning, perempuan yang terlihat kerut di dahinya itu
tampak kalem.
“aku
tahu kita susah....ketiga anakku butuh biaya di pondok. Tak mungkin aku
mengharapkan Mas mu datang ngasih jatah bulanan”, dibenahinya posisi mukena
bagian kepalanya sambil menatap adiknya. Suryani masih diam. Wajahnya yang
lebih muda, dan segar hanya menatap Ning sekilas lalu mulai ganti baju daster
pendek. Tak dihiraukannya ada manusia lain yang mengusiknya.
“kau...mana
bisa diberitahu. Aku seperti bicara dengan sebongkah batu”
“kau
itu istri tua mbak... istri pertama. Seharusnya kamu itu menang. Minta hak pada
suamimu agar dipelihara anak-anak dan kebutuhanmu. Eh kau ini....malah
menyingkir dan mengalah. Pergi dari rumah dan pilih menyepi disini”
“kau
seharusnya bersyukur. Kau bisa numpang hidup denganku. Anak-anakku hidup di pondok
dan kau tak susah payah ikut memelihara anakku”
“Sudahlah
aku mau tidur”
“Kau
ini....sudah sholat Isyak belum”
“aku
tak perlu laporan padamu kalau sudah sholat belum”, sahut Sur dengan cepat.
Mendenguslah Ning dengan keras. Rasanya ia tak bisa berhenti emosi jika bertemu
dengan perempuan ini.
--o0o—
Siang
ini amat terik. Kain-kain kering yang bergelantungan di tembok-tembok saling
berpagutan. Keluarlah perempuan dengan membawa keranjang. Ditariknya baju-baju
dan kerudung besar ke dalam keranjang birunya. Sesekali angin berhembus
melewati gang kecil itu. Kering dan panas. Dulu ada sebatang pohon besar di
samping rumahnya, tempat Sur dan beberapa tetangga duduk dan ngobrol perihal
macam-macam. Dulu, sebelum ia berkutat dengan pekerjaan yang menyita obrolan banyak orang. Tetangga yang dulu
datang berkerumun dibawah pohon, kini menghilang. Mereka ganti berkerumun di
pos ronda dan sering membicarakan dua perempuan yang hidup di gang kecil ini.
Mereka tidak lupa. Yah, Mereka tidak pernah lupa untuk tidak menggunjing
perihal kecil dalam hidup kedua perempuan itu.
Ketika
Sur lewat untuk sekedar membeli teh dan sayur matang di warung sebelah, obrolan
beberapa perempuan itu tiba-tiba hening. Mereka pura-pura mengunyah makanan.
Padahal tak sedikitpun telinga Sur ia gunakan untuk menguping. Tak pula
diulurkan senyumnya untuk mereka. Ia pasang wajah acuh. Ia tak berpikir untuk
akur dengan keadaan. Sudah hancur, hancurkan saja kepercayaan pada tetangganya
itu.
Tiba-tiba
Ning berlari-lari menyusuri gang sempit itu, tanpa sepedanya. Nampak merah dan
berkeringat wajahnya. Cadarnya tak ia kenakan seperti biasa. Ia berlari lagi
kembali ke jalan dan menghampiri perempuan- perempuan yang berkumpul di pos
ronda. Ia bicara sedikit lalu bergegas lari menuju warung makan yang terletak
di pojok kampungnya. Tak dihiraukannya pertanyaan seorang tetangganya mengapa
ia amat tergesa-gesa?
“Sur,
aku butuh duitmu. Cepat kau kasih aku tiga ratus dan besok-besok aku
kembalikan”, sontak Ning menggeret lengan Sur dengan cepat. Ditolehnya wajah
perempuan yang terlihat panik itu.
“Mana
sepedamu?”, Sur agak heran karena perempuan itu terengah-engah dan memegang
dadanya.
“cepat,
tak usah banyak tanya. Penting sekali ini”
“Kapan
kau kembalikan”
“Kau
bawa uang kan.... dimana cepat kau kasih aku”, desak Ning sambil
menggoyang-goyang lengan adiknya itu. Segera ia keluarkan dompet yang ada di
saku celana jeans-nya.
“Ini
.... kau kembalikan saja seratus. Yang dua ratus ribu anggap saja buat
bayar listrik dan uang makanku.”
Disahutnya uang merah tiga lembar itu. Lalu segera ia berlalu dan berlari ke
arah dia datang. Sur hanya diam terpaku di depan warung. Ia sudah terbiasa meminjami
uang kakaknya dengan alasan untuk membiayai anaknya yang ada di pondok atau
menebus obat untuk anaknya yang sedang sakit. Hasil dagangannya berkeliling
hanya cukup untuk membayar uang kontrakan perbulan. Sejak ia bekerja di tempat
karaoke, keuangannya cukup bisa membantu biaya hidup mereka berdua. Hanya
perdebatan-perdebatan kecil yang sering dilakukan kakaknya membuatnya tidak
betah di rumah. Namun ia sadar, rasa sayangnya pada perempuan cerewet itu tidak
bisa dikurangi, juga tak bisa ditambah.
--o0o-
Malam
terpekur di dalam penatnya jarum jam berdetak. Angin malam berisik memainkan
ranting pohon dan sobekan poster
dibelakang rumahnya. Dapur kecilnya hanya ia tutup dengan bekas poster yang ia
tempelkan di tiang bambu. Mata perempuan itu mulai lelah. Diletakkan nya mote,
jarum dan benang di cepuk plastiknya. Diberesi jahitan baju pesanan penjahit
kampung sebelah. Ia hanya bisa menyelesaikan pesanan menjahit mote yang tidak
terlalu rumit. Misal hanya di ujung lengan atau bagian dada. Dengan demikian ia
dapat pemasukan untuk membelikan baju koko untuk ketiga anaknya yang ada di
pondok.
Napas
Ning mendesah kuat. Dihentikan tangannya yang sedari tadi memberesi baju-baju.
Jarum menunjukkan pukul 12 malam. Mengapa suara telapak kaki Sur tidak lekas ia
dengar-dengar?. Ia memang selalu menunggu adiknya pulang meski wajahnya berubah
masam saat berhadapan dengannya. Ia selalu ingin membuat keributan dengannya.
Seolah dengan meneriakinya tentang segala hal, hatinya akan lega. Yang pasti
adalah cara berpakaian Sur yang harus mengenakan celana jeans dan kaos ketat
saat bekerja. Meski ia sendiri tak yakin membuat ia mau memakai kerudung
seperti dirinya. Kadang ia menyalahkan ibunya yang terlalu bebas terhadap
pilihan anak-anaknya.
Ia
mulai panik saat jarum panjang menuju angka 6. Sudah dini hari dan Sur belum
pulang. Ingin rasanya ia tak perlu menganggap penting perihal ini. Tapi ini
memang diluar kebiasaannya. Ia mulai mengeluarkan sepeda mininya. Dikenakan
kerudung hitam lebarnya dan bergegas keluar. Angin malam menyapa dengan sabitannya
di ujung-ujung kerudung. Dadanya mulai panas. Jantungnya berdegup kencang. Ia
mulai membayangkan yang buruk-buruk.
“Kau
ini kemana saja Sur....kenapa kau tak sampai-sampai”, gumamnya dalam
perjalanannya menuju jalan besar. Barangkali Sur tak menemukan angkot di
pinggir kota. Atau tak ada yang ia tumpangi sampai ke rumah. “ Sur.... Sur ....
“, desahnya dalam hati. Ia ingin kemungkinan skenario yang ia bayangkan salah
satunya terjadi, bukan hal yang buruk. Namun pikirannya yang tidak enak terus
saja mengganggu. Tak biasa ia merasa aneh malam ini.
Tiba-tiba
matanya terpana pada kerumunan di suatu ruko bertingkat. Ia mendekat perlahan.
Ia sedikit takut. Ada beberapa polisi yang membawa tongkat dan menggeret
beberapa orang ke mobil bak terbuka. Tak ada sirine seperti dalam Televisi,
namun kebisinginan karena kacaunya jalan menjadi tontonan banyak orang.
“Apa
yang terjadi.... Sur ...kamu disitukah?’, tanyanya dalam hati. Di benaknya
ramai adu pendapat. Apa mengapa dan bagaimana keadaan adiknya. Ia beranikan
diri melongok di mobil bak terbuka milik kepolisian itu. Ditanyanya 3 perempuan
cantik dan berbaju seksi itu dengan cepat.
“Mbak,
dimana Sur... Suryani, yang berambut pendek dan punya tahi lalat di bawah
mulut”, tanyaku berulang-ulang. Mereka hanya menggeleng cepat. Keriuhan di
dalam kelab malam dan tempat karaoke membuatku enggan menelusup diantara
ratusan orang. Aku celingukan kesana kemari, tak kutemukan sosok wajah yang
kukenal. Aku menyerah. Kukayuh sepedaku pulang. Kembali menyusuri jalan lengang
gang-gang di kampungku.
Kehidupan
dua orang perempuan itu seperti sebuah poci-poci retak. Perlu tambal sulam
untuk menyatukan agar utuh. Perlu
kecermatan dan kesabaran yang amat untuk mengembalikan retakan -retakan
tersebut ke tempat semula. Agar bisa kembali jadi wadah. Agar bisa kembali
dipandang dan berharga di mata orang lain.
Pintu
kamar kontrakan Ning terbuka. Lekas ia masuk dan ia dapati sosok perempuan yang
tergeletak di lantai. Rok pendek dan kaos pendeknya tersingkap sedikit.
Wajahnya lebam dan memar. Dimulutnya ada darah segar yang menetes mengalir
pelan. Rambutnya berantakan. Ia terduduk lesu. Membuncah tangis malam itu. Dan
itu bukan untuk anaknya atau suaminya. Tangisnya itu untuk perempuan yang
setiap malam ia marahi dan ia pukul dengan gagang sapu. Perempuan yang ia maki
setiap ia tak melihatnya sholat. Perempuan yang sebenarnya amat ia sayangi.
“Duh
Gusti ... jangan biarkan tragedi terjadi setiap malam di rumahku ini ya Guati”,
tangisnya sambil bersimpuh di lantai. Ada rasa yang berkecamuk dalam dada.
Bahagia karena dia tak menemukan adiknya dalam mobil polisi tersebut, sedih
karena ia temukan adiknya dalam keadaan yang memilukan.
“katakan
padaku Sur... mengapa kau seperti ini. Mengapa keadaanmu payah seperti ini?
Kamu diapakan oleh lelaki-lelaki hidung belang itu?”, Sur hanya menggeleng.
Tangannya bergerak memegang tangan Ning.
Dia terus menggeleng sambil menyeringai.
“Aku
tak apa-apa mbak.... aku cuma pengin pulang. Aku cuma pengin pulang kerumah.
Tapi polisi itu menggeretku. Mereka memukulku mbak. Tapi aku harus pulang”,
desahnya dengan pelan. Wajahnya tak karuan lagi. Wajah ayu dan muda itu jadi
layu, tak berani Sur menatap wajah Ning. Wajah perempuan yang amat ia sayangi.
Ning
hanya menangis sejadi-jadinya sambil bergumam, “kau bodoh Sur... kau memang
bodoh....”.
Malam
terlalu malam dan pagi terlambat untuk menitipkan mimpi-mimpi kedua perempuan
itu. Pengembaraan mereka tidak pernah selesai. Sebuah poci yang retak benar-benar
tak bisa kembali utuh. Dikumpulkannya retakan itu sampai mereka bisa
menempelkan ke tempat semula. Meski tdak persis ke tempat semula.
(Solo,
16 Oktober 2017)
“
Senin, 14 Agustus 2017
ANAKKU SERUPA PUISI
Anakku
serupa puisi. Puisi adalah kata-kata yang mahal makna. Aksara yang musti
dirangkai betul sampai si pembaca paham maknanya. Puisi yang lepas dari
hujatan, kecaman dan olokan. Bukan prosa. Sebab ribuan kata musti dibaca dan
dicerna. Cukup puisi, singkat padat makna. Serupa anak-anak yang sederhana
memainkan kata tanya pada ibunya. Yang lugas dengan cara berpikirnya. Yang
rindu pada setiap teguran manis ibunya. Anak serupa puisi. Yang perlu dibaca
dan dipahami maknanya. Bukan sebuah kamus yang berisi petunjuk arti kata.
Saya
terpaksa jadi melankolis. Setelah tugas keluar kota yang membuat seorang ibu
dilema akut. Bagaimana mungkin, saya meninggalkan anak kecil yang masih
mempunyai ketergantungan pada ASI (Air Susu Ibu). Sekelebat saya langsung
memutuskan untuk urungkan niat berangkat Diklat ke Malang. Duh Gusti, ini seperti persoalan negara rupanya. Untuk seorang ibu,
saya yakin tidak semudah itu. Namun, dorongan dari teman-teman kerja membuat
saya bangkit kembali untuk semangat belajar.
Saya
susun strategi. Langkah-langkah birokrasi yang musti saya lampaui. Pertama,
ijin Kepala Sekolah, karena saya baru saja mutasi ke sekolah yang baru di tahun
ajaran ini. Kedua, suami selaku pemimpin keluarga, dan ketiga yaitu eyang putri
yang selalu menemani anak saya di rumah. H-2 keberangkatan, saya baru
mendapatkan ACC dari Kepala Sekolah dan suami. Dan yang paling mendebarkan
adalah mendapatkan ijin dari eyang putri yang notabene pengasuh anak saya
selama saya bekerja. Keputusan Tuhan tak pernah salah. Akhirnya sehari sebelum
keberangkatan semua birokrasi sudah saya lalui dengan status “yes”.
Saya
berangkat dengan membawa ribuan memori tingkah lucu dan kenakalannya. Dalam
perjalanan di kereta, saya mendendangkan musikalisasi puisi ciptaan Penyair
Solo Sosiawan Leak, “Anak....anakku seperti puisi. Dirangkai dari kata yang
dikawin makna. Dirangkum dengan sebuah tembang kehidupan. Hingga menjelma irama
kangen...irama kangen. Yang tak pernah rampung kudendangkan”. Sekalipun dalam lelapnya,
rentetan aksara ubahnya jadi puisi.
(
Malang, 14 Agustus 2017)
Selasa, 25 Oktober 2016
Doa Debu
Deru tanyamu menggebu
entah sudah berapa subuh kau tersungkur
pada papan doa dan ruang sesal
jalan sempit dan gang-gang becek
terima salam jutaan bidak
berjalan, lewat, berlalu, berlari, berhenti
sembunyi, juga linglung
Papan nama akan menjawab
atas kebingungan awak yang sekarat
kadang lupa, wajah mana yang tersimpan
dan iba mana yang mesti enyah
angin tak mungkin diam
diruang-ruang papa lupa bahasa doa
(okt' 2016)
entah sudah berapa subuh kau tersungkur
pada papan doa dan ruang sesal
jalan sempit dan gang-gang becek
terima salam jutaan bidak
berjalan, lewat, berlalu, berlari, berhenti
sembunyi, juga linglung
Papan nama akan menjawab
atas kebingungan awak yang sekarat
kadang lupa, wajah mana yang tersimpan
dan iba mana yang mesti enyah
angin tak mungkin diam
diruang-ruang papa lupa bahasa doa
(okt' 2016)
Senin, 04 Mei 2015
NARASI PEREMPUAN
Tubuh merah membara, lekas surut. Terbuang seperti kondom
bekas. Seperti kenangan yang siap dikubur di makam. Mengkerut seperti keriput
hari. Menggoda di tepi jalan. Pucat
seperti pajangan....
Mari kuliti malam, dengan sumpalan mulut bedebahmu.
Selepasnya biar perempuan yang memanggul dosa. Dan lelaki berkelebat seperti
pemburu. Mengincar dan memangsa. Dengan senapan dan sepatu bot. Berderap
merajah tubuh kami.
Menggeliat. Melahirkan ratusan anak. Tumpukan uang itu telah
membeli nyawa orok-orok. Tanpa nama. Tanpa bapak.
Matipun, dengan diam-diam....
[ 03 mei 2015 ]
Minggu, 05 April 2015
Dialog Kipas Angin
( Di sebuah ruang, dinding - lantai - buku- meja - kursi saling menyapa.Saling menatap. Saling bergumam. Saling menuding. Kipas angin tetap saja bising berputar-putar di langit )
Duduk dalam narasi pucat. Berbincang sambil menawan secangkir teh di tangan. Dengan pikiran untuk saling mencaci dan melarikan diri. Meski tubuh diam, seperti aksara kapital, kaku dan jarang berkawan dengan penyair. Kepengen lepas dari kungkungan ....
meja : " menjadi cuaca lebih buruk ketimbang jadi pikiran manusia yang melasat lesat dan merepotkan"
dinding : "aku sudah sedari malam kedinginan dan kalian masih tak gusar pada cuaca....mungkin buku-buku lebih menikmati dirinya ketimbang tidur"
Buku : "bagaimana kau bilang aku lebih asyik dan khusyuk ketimbang kalian ....aku seperti bom yang lama tak meledak, meski detik tetap berjalan. aku lebih gusar....mengerti semua peristiwa dalam tubuhku. pengen rasanya muntah ..."
lantai : "berdecit setiap napasku. Pengen aku jalan-jalan ke mimpi -mimpi manusia. merusak tatanan pikiran dalam sehari dan mengacaukan keinginan yang belum tercapai dalam dunia bawah sadar mereka. dan itu lebih nakal dari elektron-elektron di tubuh mereka yang sering main petak umpet"
(Buku, meja, kursi, lantai menatap kipas angin yang tak mau berhenti )
kipas angin : "kalian ....jangan menatapku!! aku hanya kepengen satu ...tolong hentikan aku. aku lelah sekali. marahi saja cuaca yang menganggap keren saat dia saling adu jotos dengan hujan"
Lalu semua diam ....kipas angin terus bergumam sendiri. mengumpat sendiri. berteriak sendiri.
dan waktu masih tik tok tik tok tik tok ......
(kipas angin mulai gemar ber-monolog)
Duduk dalam narasi pucat. Berbincang sambil menawan secangkir teh di tangan. Dengan pikiran untuk saling mencaci dan melarikan diri. Meski tubuh diam, seperti aksara kapital, kaku dan jarang berkawan dengan penyair. Kepengen lepas dari kungkungan ....
meja : " menjadi cuaca lebih buruk ketimbang jadi pikiran manusia yang melasat lesat dan merepotkan"
dinding : "aku sudah sedari malam kedinginan dan kalian masih tak gusar pada cuaca....mungkin buku-buku lebih menikmati dirinya ketimbang tidur"
Buku : "bagaimana kau bilang aku lebih asyik dan khusyuk ketimbang kalian ....aku seperti bom yang lama tak meledak, meski detik tetap berjalan. aku lebih gusar....mengerti semua peristiwa dalam tubuhku. pengen rasanya muntah ..."
lantai : "berdecit setiap napasku. Pengen aku jalan-jalan ke mimpi -mimpi manusia. merusak tatanan pikiran dalam sehari dan mengacaukan keinginan yang belum tercapai dalam dunia bawah sadar mereka. dan itu lebih nakal dari elektron-elektron di tubuh mereka yang sering main petak umpet"
(Buku, meja, kursi, lantai menatap kipas angin yang tak mau berhenti )
kipas angin : "kalian ....jangan menatapku!! aku hanya kepengen satu ...tolong hentikan aku. aku lelah sekali. marahi saja cuaca yang menganggap keren saat dia saling adu jotos dengan hujan"
Lalu semua diam ....kipas angin terus bergumam sendiri. mengumpat sendiri. berteriak sendiri.
dan waktu masih tik tok tik tok tik tok ......
(kipas angin mulai gemar ber-monolog)
Kamis, 02 April 2015
Surat Ibu
Aliran kehidupan ini sungguh menarik
Gusti....
Bagaimana sebuah pikiran dapat
menyatu dengan waktu yang seolah saling kejar mengejar.
Bagiku, aliran postmodern sangat
akrab dengan kehidupanku, dengan frame yang sudah lama aku tatah dan kuhaluskan
permukaannya sedikit demi sedikit.
Alur yang rancu kadang sengaja
kuhadirkan. Kembali kuserahkan tanpa syarat dalam beberapa kesempatan.
Lalu kembali lagi.....kadang melesat
ke masa depan yang sering membuatku
ingin berdiri dan tak ingin menoleh lagi.
Aku tak ingin bangkit untuk saat ini.
Aku masih menyisakan kenangan yang belum kuziarahi.
Buruk...indah....tak mengapa karena
aku adalah penganut postmodern & Bloom (TEORI HUMANISTIK)
Penganut tatanan yang dapat kau
koyakkan setiap saat, dapat kurubah setiap saat sesuai warna yang kuinginkan.
Sakit, benci, marah, tolol, jujur,
manis , pembunuh, perusuh, pengayom, rindu, .....
Lalu kemana kau letakkan duniamu?
Disini...yah disini, di dada kedua
anakku yang kelak mewarisi jiwa anti kemapanan ini, jiwa bebas ini, jiwa
perombak ini, dan jiwa jujur ini dalam waktu yang bersamaan ...
Dari alur inilah, mulai kurekam
jejakku melalui kata-kata, tulisan, lukisan, buku-buku, juga mimpi-mimpi yang
telah mengalir kedalam darah anak-anakku...
Berkelilinglah dunia dimana dunia
yang sempat hilang itu singgah di ‘dead valley’
Mendakilah di puncak Mont Blanc,
Kilimanjaro dan Everest
Belahlah laut Merah, susuri Amazon
yang tenang dan mematikan serta bekuan air di sungai Volga
Singgahlah di atap Pamir, sapalah
Spinx dalam gundukan debu-debu kering
Dan ciumlah Hajjar Aswad dengan linangan
air mata di seluruh indramu
Beginilah ending sebuah
cerita.....elegi syahdu seperti perahu yang luruh dalam damai angin timur
[ 01 April 2015_utk anak-anakku ]
POStMODERN
[sebuah teori, namun
justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang
tunggal. Hal ini secara
singkat sebenarnya ingin menghargai faktor lain (tradisi, spiritualitas) yang
dihilangkan oleh rasionalisme, strukturalisme
dan sekularisme]
Selasa, 31 Maret 2015
SIMBOLISASI
.....pertama mari kita bertahan pada satu sudut pandang bahwa manusia memiliki 3 kepribadian { scr garis besar), manusia yang Simbolis, Kapitalis dan Libido ...tak usah memilih, karena Tuhan sudah sangat tahu kemauan manusia melebihi Tuhan berkehendak. namun tetap saja manusia adalah Tuhan-tuhanan yang selalu senang bermain dengan kata "Tuhan".....
....sejak manusia sadar bahwa hakikat manusia yang bebas, kita senang membuat era dimana kebenaran bermula dari pencarian dari keingintahuan kita. Dengan ekstensialismenya yang radikal,manusia mulai muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar dan mencapai puncaknya bahwa tujuan manusia adalah "kebahagiaan"
....dari era romantisme, mistis menjadi fundamental pemikiran pada waktu itu,muncul kaum filsuf yang mulai mengusik manusia dengan kehidupannya yang menyesakkan dan masadepan yang mengkhawatirkan.
....begitu juga kaum 'filistin' yang dengan hobinya gemar menuding kaum filsuf dan tehnokrat adalah kafir intelektual...rasanya akal sehat vs sains selau beradu untuk memenangkan sebuah kebenaran.
...pada akhirnya dari pertarungan ide-ide dengan membawa -isme-ismenya mereka akan kembali menjadi sebuah simbol bahwa manusia kelak akan masuk museum dengan deretan buku biografinya dan sejarah yang saling ubah-mengubah. Sangat mengenaskan ....dunia mistis penuh dengan simbol, kehidupan seks yang menyenangkan dibuat etalase, dan kemewahan akan menjadi sebuah tugu. Babak-babak kejayaan akan dikenang lewat lagu-lagu ....kemudian akan musnah menyatu dengan lembutnya debu, akar dari ketidaktahuan manusia.
....sejak manusia sadar bahwa hakikat manusia yang bebas, kita senang membuat era dimana kebenaran bermula dari pencarian dari keingintahuan kita. Dengan ekstensialismenya yang radikal,manusia mulai muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar dan mencapai puncaknya bahwa tujuan manusia adalah "kebahagiaan"
....dari era romantisme, mistis menjadi fundamental pemikiran pada waktu itu,muncul kaum filsuf yang mulai mengusik manusia dengan kehidupannya yang menyesakkan dan masadepan yang mengkhawatirkan.
....begitu juga kaum 'filistin' yang dengan hobinya gemar menuding kaum filsuf dan tehnokrat adalah kafir intelektual...rasanya akal sehat vs sains selau beradu untuk memenangkan sebuah kebenaran.
...pada akhirnya dari pertarungan ide-ide dengan membawa -isme-ismenya mereka akan kembali menjadi sebuah simbol bahwa manusia kelak akan masuk museum dengan deretan buku biografinya dan sejarah yang saling ubah-mengubah. Sangat mengenaskan ....dunia mistis penuh dengan simbol, kehidupan seks yang menyenangkan dibuat etalase, dan kemewahan akan menjadi sebuah tugu. Babak-babak kejayaan akan dikenang lewat lagu-lagu ....kemudian akan musnah menyatu dengan lembutnya debu, akar dari ketidaktahuan manusia.
Selasa, 10 Maret 2015
SURAT untuk PRESIDEN
selamat sore Tuan presiden....
jarak masih mengingkari waktu dan begitulah :
jauh,
Tuan terlalu pongah dalam rengkuh
gagap diujung kata biar runtuh
pun koyak dalam sentuh
kemudian saksi mengeluh
karena tuan tak menyeru
diam seperti bidak membatu
dan jelata merayap seperti belatung
jauh,
tuan masih mematung dalam kultus
jadi tuhan ... pergi tak hirau
dan kami tetap jadi belatung...
tinggal menghitung
kapan mayat bergelantung
Minggu, 23 November 2014
hujan
maka tengadahkan mukamu
dan berjingkat-jingkat diatas genangan jalan...
betapa kau akan hanyutkan
foto-foto yang berserakan seperti kapal kertas,
melenggang sampai tenggelam di selokan
juga ribuan tetes dalam sekejap
usap debu di kening, kaki, kelopak matamu,
setidaknya, hujan selalu membuat ritme nada sendiri
di mata dan telingamu
tanah : mencuri kebahagiaan
jika tak lekas kau berlari, menyatu,
dan berderai ....
(november rain ...2014)
dan berjingkat-jingkat diatas genangan jalan...
betapa kau akan hanyutkan
foto-foto yang berserakan seperti kapal kertas,
melenggang sampai tenggelam di selokan
juga ribuan tetes dalam sekejap
usap debu di kening, kaki, kelopak matamu,
setidaknya, hujan selalu membuat ritme nada sendiri
di mata dan telingamu
tanah : mencuri kebahagiaan
jika tak lekas kau berlari, menyatu,
dan berderai ....
(november rain ...2014)
Kamis, 30 Oktober 2014
JEJAK
jejak-jejak kata
menjejalimu
di mulut, telinga, perut, hati, paru, usus, vagina dan otak
ratapan dalam parodi
dan tawa dalam dramaturqi
tatananmu koyak
menelan ludah
Tuhan ada
mengacaukan
bahasa
manusia
menjejalimu
di mulut, telinga, perut, hati, paru, usus, vagina dan otak
ratapan dalam parodi
dan tawa dalam dramaturqi
tatananmu koyak
menelan ludah
Tuhan ada
mengacaukan
bahasa
manusia
Langganan:
Postingan (Atom)
Nasib dan Peruntungan
Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...
-
" Anak-anakku, bolehkah Emak merawat anak-anak tak mampu dan mengasihi mereka jika kalian pergi meninggalkanku kelak ?". Dem...
-
Malam itu angin bergerak binal. Habis hujan dan jalanan aspal sudah mulai agak kering. Basah, beberapa dedaunan yang rimbun di pinggir jalan...

