Sabtu, 07 September 2024

Jam Satu Pagi (2)

 

Manusia itu sangat membosankan. Terlebih manusia dewasa, itu yang dipikirkan Rolan. Dia jadi satu-satunya lelaki di Resto yang  tak banyak bicara. "Sangat membuang energi", pikirnya. Saat bekerja, ia hanya akan mengingat pesanan dari para pembeli meski ia sudah mencatatnya di kertas. Kemudian, diulanginya dengan sapuan matanya yang tajam. "Ah, ya... tak mungkin salah"

Kertas itu dicapitnya diantara pesanan lain sesuai urutan. Japitan kertas yang melenggok-lenggok di tali kenur itu telah lama dijadikan point of view para tukang masak di dapur. Dua orang chef, senior dan asistennya dan satu lagi fokus di minuman. Resto ini memang tidak begitu ramai, namun ada musimnya ketika jam-jam malam selalu disinggahi para pemuda yang nongkrong sambil mengerjakan tugas. Laptop dan kertas-kertas yang dibawa kadang lebih memenuhi meja ketimbang makanan di menu yang mereka pesan.

"Rolan, antar pesanan ke meja 9", lelaki berambut ikal acak itu lebih lebat di bagian atas. Dia langsung mengangguk. Tak banyak cakap memang. Dia menganggap, kecakapan manusia berkomunikasi seringkali digunakan melampaui batas. Ia menganggap Resto tempatnya ia bekerja ini lebih sebagai tempat mengobrol ketimbang tempat makan. Jika dikatakan Cafe juga tidak karena di sini tak ada minuman alkohol. Juga bukan Cafe Kopi yang sekarang menjamur di mana-mana. 

Lelaki itu menikmati fungsi mata dan telinganya dengan baik dengan menjadi observer tingkat tinggi. Itu karena yang ia senangi hanya memandang dan mendengar apa yang sekilas pelanggan obrolkan. Ia senang mendengar obrolan di meja-meja terdekat kala ia menunggu chef membuatkan pesanannya. Kadang sambil menata menu yang sudah ditinggalkan, ia bersih-bersih meja dan menguping. Tentu saja, karena tidak sengaja dan memang tak bisa dihindari. 

Kata-kata yang ia dengarkan mungkin melebihi 10.000 kosakata dalam sehari. Ya, apa yang di dengarkan selama ia bekerja di situ. Itu kenapa, ia yakin mulutnya tak akan disia-siakan untuk menambah ketololan hidup manusia yang mereka habiskan dengan bercakap-cakap sampai berjam-jam dengan orang banyak dan dengan orang yang berbeda.

Kosa kata yang ia ucapkan sebatas jawaban saat pelanggan menanyakan menu yang direkomendasikan. Atau hanya ingin menunjukkan eksistensi mulutnya, agar tak dikatai 'orang bisu' oleh teman-temannya. "Ah, sungguh merepotkan ya" 

Perihal demikian, Rolan menjadi peka terhadap suara-suara meski dengan volume yang kecil. Meski di Restonya selalu menyetel lagu-lagu slow, kupingnya juga peka terhadap musik-musik yang jusru cenderung mengubah mood saat kau duduk menyendiri menunggu teman di situ. Ia mencoba memahami orang-orang dengan ekspresi kesepian, kesulitan, atau kecemasan meski akan bertemu orang yang ia nantikan. Ia butuh musik yang bagus. Itu pun sering ia tak sejalur dengan temannya yang suka menyetel lagu-lagu dengan beat yang kencang. Bukan rock. Tak ada list rock di tempat macam ini. Kebiasaan teman-temannya di sana selalu menyetel lagu indie yang nge-hits baru-baru ini.

Jika dia tak tahan dengan lagu-lagu itu, biasanya ia nekat menggantinya dengan Carla Bruni atau Norah Jones yang familiar. Namun Jazz lebih keparat bikin pusing ketika instrumen nya justru membuatmu melayang membayangkan entah apa saja yang lewat di kepala. Rolan tak ambil pusing, Gary Coleman akan selalu menjadi temannya saat ia membuka Resto di pagi dengan menyapu, mengepel dan mengelap meja satu persatu. Seperti ritual. Temannya akan membiarkannya demikian, karena memang lelaki itu senang bekerja dan mereka terbantu dengan kerja kerasnya selama ini. Mereka sesekali berkelakar "Itulah kenapa ia tak kehabisan tenaga, sampai malampun ia akan mengepel tempat ini di saat kita sudah kehabisan napas"

"Karena kau banyak bicara, tahu!' lalu tawa renyah mereka menjalar di seluruh ruangan terbuka itu. Bagusnya, tempat itu berupa open space dengan bangunan joglo di tengah dan dikelilingi taman di sekelilingnya. Taman sederhana dengan kerikil-kerikil di bawahnya dan tanaman rambat menutupi pagar tinggi. Perokokpun  tak jadi umpatan pelanggan lain yang terganggu dengan asapnya. Dia juga perokok berat. Rolan akan minggir ke belakang dapur untuk menyulut rokoknya secepat kilat, sebelum namanya diteriakkan lantang dari mikropon depan.

Malam ini gerimis agak berat. Tidak deras amat. Perempuan itu sendiri masuk dan menerobos taman dengan santai seolah hari tidak hujan. Di hentakkan pelan kakinya di pinggir tangga pertama sampai ia melenggang ke arahku.

"Mas, tolong minta Tisu." dia mengangguk dan membawakan Tissu sekotak dan menghampirinya di pinggir Joglo. 

"Mengapa duduk di situ sih. Kan masih banyak tempat di antara banyak tempat duduk", pikirnya.

"Di sini dingin, tidak ke tengah aja?" tawarnya pada perempuan itu lirih karena pasti hempasan air hujan akan sampai di tubuhnya yang kurus itu.

"Hujannya masih bisa dinikmati. Tak apa.Terima kasih tisunya" lalu diusapnya pada laptop yang terkena hujan. Tasnya yang kecil ia hempaskan di sampingnya. 

"Eh, maaf ... ada tas plastik besar seukuran ini?" tunjuknya pada laptop.

"Sial, temanku mengembalikannya tanpa tas. Kurang ajar bukan?" Rolan mengamati gerak-geriknya dan mengangguk. Matanya takjub melihat perempuan itu. Entah takjub di sebelah mana, ia terus menatap dan mendengarkan perempuan itu bicara kecil. Mengumpati temannya itu dengan ekspresi wajahnya yang sepertinya baik-baik saja. 

Setelah mengantar pesanan Roti bakar dan lemon tea-nya, ia duduk di seberang wanita itu. Agak jauh namun bisa melihatnya dengan jelas. Posturnya seolah sedang meneliti menu di dekat kasir. Matanya sesekali menatap perempuan ber sweater coklat. Ia kemudian meletakkan bokongnya dengan nyaman di kursi anyaman dan merokok. Pelanggan agak sepi. Hanya perempuan itu dan segerombol pemuda yang mengerjakan tugas sambil mengobrolkan sesuatu. Kali ini telinganya yang peka, membiarkan lagu Raim Laode dengan tenang. Ia tak menaruh perhatiannya pada obrolan anak-anak muda yang masih idealis dan agak cengengesan itu. Kelakarnya kadang mengganggu penglihatannya yang tertuju pada perempuan itu. 

Tiba-tiba sepi setelah pelanggan terakhir itu keluar dari Resto. Ia menatap perempuan berambut cepak dan kira-kira berumur 40-an itu menenteng tas plastik untuk membungkus laptopnya.  Wajahnya masih segar. Masih hidup menurutnya. Ia mengangguk pada Rolan sebelum keluar Resto, tanda terima kasih karena telah menampung umpatannya meski tak lama. Lalu sempat melebarkan tangannya untuk menyapu tetes-tetes hujan yang menempel di dedaunan Cataleya pinggir taman. 

"Aneh perempuan itu" batinnya

Lalu diambilnya buku menu dan merapikan tempat makan perempuan tadi. Tangannya berhenti memegang kertas nota kosong,  dan membaca tulisan tak rapi di sisi belakangnya.

~Jika membenci itu suatu hal yang bagus, maka yang kubenci pertama adalah diriku sendiri. Karena aku memang membenci diriku sendiri melebihi orang yang membenciku~

Dikatonginya  kertas itu di kantong celananya. Entah kenapa, kalimat yang dibacanya, langsung terekam di kepalanya, seperti ia selalu mengingat menu setiap pelangganya. Jelas dan tak mungkin salah ....


(bersambung)

 

 

Rabu, 04 September 2024

Jam Satu Pagi (1)

File naskah masih dipandanginya dengan aneh di layar laptopnya. Perempuan itu sudah memandanginya selama berjam-jam dan kata-kata tidak bisa keluar. Ia sesekali memencet lagu yang berhenti sendiri terlalu lama di youtube. Ia putar kembali kemudian ia tatap tulisannya sambil menggeser layar naik turun. Ia mengumpat namun yang keluar dari mulutnya hanya desahan kasar. Lalu disambarnya buku Murakami. Dibacanya lipatan halaman yang hampir tuntas. Ia mendengus lagi ....

"Kenapa Gregor Samsa muncul di tulisan orang jepang ini. Sial", ia mengumpat tanpa maksud apapun. 

Ia lelah menggeledah isi pikirannya dan tak menemukan apa-apa. Sebenarnya pikirannya tak lagi kosong. Namun bisa dikatakan tidak berisi juga. Ia berusaha mati-matian sedari pagi menulis sesuatu di layar laptopnya dan bersikeras meneruskan naskahnya minim satu bab.

"Eh, aku mungkin bisa meneruskan cerita orang. Yang kudengar rumpang, di telinga sebelah atau melihat dengan mata kiri saja. Bisa... bisa ...ah atau menerjemahkan kebisuan seseorang?"

Ia mendesah berat dan melemparkan buku Murakami di samping Laptop. Ia pikir dengan membaca sesaat, kebuntuannya akan hilang.

"Seharusnya aku sembunyikan dulu buku ini sampai naskahku selesai" 

Ia memang suka tergoda membaca buku yang setengah terbaca, di sela-sela tuntutannya menulis. Dia bahkan pengangguran, tapi ia merasa ingin jadi orang yang berguna minimal untuk dirinya sendiri. Menulis buku, yang bahkan buku-buku terdahulunya laku sedikit. Ia sudah senang jadi penulis tak terkenal. Takdir menghendaki demikian, mungkin.

 Ia tahu lelaki yang tinggal di lantai bawah ... suaminya selalu bertanya pertanyaan yang sama di setiap berpapasan di rumah, "Apa sudah selesai?"

"Ayo turun makan, atau setelah kau selesaikan itu dulu?"  membuatnya tambah gila. Ia merasa, fase beromansa selama berumah tangga hanya beberapa bulan setelah menikah. Setelahnya. Ia ingin mengubur diri hidup-hidup di kamar kerjanya ini. Ia merasa tertekan hidup di rumah ini dengan segala macam thethek bengeknya. Sedang suaminya selalu membicarakan bagaimana bisa lepas dari bujukan teman--teman kantornya untuk memulai program anak. Hal itu justru membuatnya merasa bersalah. Di rumah ini, hanya perbincangan itu yang ia hindari.

Perempuan itu kemudian kembali tekun meneliti tulisannya di layar dari atas kemudian ia geser ke bawah dengan seksama. Seolah ingin menemukan jarum kecil diantara tumpukan jerami. Sesekali ia membetulkan tulisannya dan menghapus beberapa. Dan lagi ..... ia berhenti di kalimat terakhir. Di bawahnya tertulis judul sub bab yang sudah ia tulis dengan huruf tebal dan digaris bawah.

"Eh, gila kalau lama-lama begini aku pilih mati saja", ia menirukan dialog Samsa dan perempuan bungkuk yang ada dalam buku Murakami dengan suara lantang. Namun suara itu memang lebih pas diucapkan pada situasinya. Putus asa.

Setelah itu telponnya berdering. Di tengah malam seperti itu, dering telpon rumahnya yang nyaring  sungguh membuatnya seperti kiamat. Membuatnya terkaget dan terbuyar konsentrasi. Tubuhnya yang terpaku di kursi menggeliat malas. 

"ini jam 1 pagi, ini siapa!" suaranya serak

Ia membayangkan ada telpon iseng dan akan menakut-nakutinya. Namun, yang terdengar hanya hembusan nafas yang berat di seberang telpon.

"Jika aku mati hari ini, apa kau bersedih?"

"Siapa ini? apa aku mengenalmu?" desahan di seberang telpon menghilang sesaat .....sedang ia menunggu berharap suara itu kembali tersambung dengannya. Namun, tidak! Di seberang telpon hanya terdengar suara mendengung panjang.

Kepalanya mendongak ke langit-langit kamar. Dipastikan sekali lagi, Diingatnya berulang kali. Apa pernah mendengar suara khas itu? Sial, dan ini jam 1 pagi. Ia masih mengingat-ingat suara lelaki itu. Apa teman suaminya? Dan nomer rumah ini hanya sedikit yang tahu. Telepon rumah kabel kalah dengan Handphone. 

Pada masa itu neneknya memasang telepon rumah untuk Toko Mesin Jahit di lantai bawah. Selain itu, nenek juga menerima jahitan atau perbaikan baju. Kakek neneknya memang tekun menjaga usahanya, sampai suatu ketika ibunya menikah dengan seorang lelaki yang gila judi. Toko yang seharusnya diwariskan pada ibunya, tinggal rak-rak kaca kosong yang sudah buram, tersisa satu mesin jahit kuno. Ayahnya sudah menjual beberapa mesin jahit yang bagus untuk melunasi hutang-hutangnya. Dan ibunya, sakit-sakitan karena depresi. Entahlah, hidup macam apa hingga ia terjebak di rumah toko yang berumur lebih dari umurnya. Kosong dan tua. 

"Akan kutunggu besok jam 1 pagi lagi. Apa ia akan menelponku?"

"Setidaknya aku tahu dia masih hidup"


(bersambung)








Sabtu, 18 Mei 2024

Saatnya Tutup Mulut

Sesaat setelah beberapa tahun memiliki buku ini, akhirnya saya buka segelnya dan mulai membuka-buka halaman per halaman. Buku Emma Sargent &Tim Fearon "How you Can Talk to Anyone in Every Situation"(2011) membuat saya berhenti di bab-bab di mana saya tertarik membacanya. Secara umum, saya tidak terlalu menyukai buku semacam ini, namun buku tetaplah buku. Takdir membuka dan membacanya muncul saat saya membutuhkannya. Buku ini memang secara garis besar membicarakan bagaimana membangun kepercayaan diri seseorang dalam berkomunikasi dengan siapa saja dan di mana saja.  

Apakah saya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain? Tidak. Sejauh ini saya bisa berkomunikasi dengan baik dan sewajarnya dengan teman sejawat, kenalan atau pimpinan. Saya juga tak jarang tampil di podium meski hanya sebagai Master of Ceremony, melakukan presentasi atau menjadi pemateri. Demam panggung, pasti iya. Namun seiring berjalannya pembicaraan saya bisa menguasainya dengan kemampuan merespon dan menjalin benang merah dengan lawan bicara. Kunci saat saya berbicara adalah bagaimana saya mengontrol perkataan saya agar tidak melukai perasaan orang lain. Jangan sampai kamu memuji orang lain di tempat umum dengan tujuan menyindir seseorang yang lain. 

Dalam bercakap-cakap kita bisa menggambarkannya seperti puncak gunung es. Kurang lebih 10% dari kumpulan massa gunung es berada di atas permukaan air, dan 90% sisanya berada di bawahnya. Artinya saat kita berbincang dengan orang yang baru kenal, kita akan berbicara remeh seperti di mana kamu tinggal, berapa anakmu, berlibur ke mana saja dan profesimu apa. Pada saat ini kita bicara hal yang tidak penting; percakapan kecil. 

Sedangkan 90% dibawah permukaan air tersebut adalah saat kita bicara dengan orang yang sudah lama kita kenal, berada di frekuensi yang sama, panjang gelombang yang sama dan berbicara hal yang mendalam; percakapan yang besar. Di tingkat ini, kita bicara tentang 'memahami orang lain'. Dalam percakapan yang mendalam ini kita akan menyelam untuk mendapatkan sebuah opini dan sebuah 'nilai'. Nilai-nilai yang mewakili semisal: prestasi, keragaman, kejujuran, integritas, keterbukaan, kebebasan atau kebahagiaan.

Coba renungkan, nilai apa saja yang kamu dapat saat berbicara dengan grup obrolan teman sekantormu? atau teman-teman lamamu di SMA? Kamu pasti akan mencari kelompok pertemanan yang nyaman. Dan kamu akan merasakan nilai yang berbeda saat berhadapan dengan berbagai macam tipe orang dengan topik obrolan yang berbeda pula. 

Masalahnya kadang berkomunikasi dengan orang terdekat atau pasangan justru menjadi perkara bukan sepele. Dalam mengeluarkan uneg-uneg rasanya tak semudah ngobrol manis dengan teman sekantor. Mulutmu serasa terkunci meski di dalam dada membuncah ingin keluar. Ini sering terjadi denganku yang notabene sudah berkeluarga selama 17 tahun lebih. Setiap ada permasalahan pasti kita cenderung saling diam. Pribadi kita yang sama-sama introvert sangat susah mengurai persoalan dalam bentuk kata-kata di depan orang yang kita cintai. Bahkan seringnya kita terjebak dalam prasangka-prasangka yang membuat persoalan semakin rumit. 

Jika sudah terlalu lama, kadang salah satu pasangan akan membuka pembicaraan panjang lebar dan merasa kebenaran ada di salah satu pihak. Ber-apologi, berteori dan mengungkap pengalaman-pengalaman masa lalu akan membuat ingatan kita travelling. Kenangan buruk, manis itu bagus untuk menyelamatkan masa-masa sulit sebuah hubungan suami istri. Meski demikian, saya masih terasa sulit untuk membuka pembicaran terlebih dahulu. Mode defensif semacam ini sebenarnya tak begitu bagus dan cukup merugikan jiwa dan raga. Saya akan merasa overthingking dan menyalahkan diri sendiri, merasa bernasib buruk dan merasa ditinggalkan. Semakin diam semakin pikiran sibuk berargumen ke mana-mana. Setelah semua itu, saya pasti tumbang. Sakit saya kambuh

Dan ketika hal demikian muncul, tindakan yang akan saya lakukan adalah "Saatnya Tutup Mulut". Meski di saat yang sama saya akan menangis sejadi-jadinya. Saya ingin tutup mulut untuk tidak curhat pada teman karena sudah merasa tidak nyaman dan tidak kuat. Hal tersebut kadang membuat plong namun akan muncul masalah baru lagi karena banyaknya saran seolah mengerti permasalahan yang sebenarnya, padahal tidak. Banyaknya informasi yang datang tiba-tiba juga membuat kita shock. Ya, hal tersebut akan membuatmu semakin bimbang. Saya ingin tutup mulut karena semua pikiran semakin riuh dan ramai saat dalam kesunyian. Saya benci pikiran-pikiranku sendiri karena keluar deras seperti keran yang baru dibuka. Saya tak ingin ada yang sakit hati jika semua pikiran-pikiran yang bejubel di kepala keluar di depan pasangan saya. Reaksi semacam ini terasa begitu menguras energi, bikin lelah.

Kita butuh ruang sendiri. Butuh menyendiri.  Kita butuh keluar berdua saja. Mencari suasana baru, bukan di rumah dan membicarakannya dalam keadaan waras, bukan saat emosi. Setelah saya bisa mengendalikan amarah dan ego saya, maka lambat laun suasana akan mencair...seperti sungai es yang turun ke bawah. Es itu akan mencair dan mengalir menuju muaranya.

 

Pajang, 18 Mei 2024




Rabu, 15 Mei 2024

Telepon Tengah Malam

 


Ibu, maaf....

Tengah malam membuatmu selalu terjaga. Getarkan sunyi lewat desisan tangismu. Mengutuk nasib buruk yang menimpa anakmu. Bersalah diri. Menopang diri. Sambil mengenang suara gamelan yang tak cukup meraup sedihmu itu. 

Maaf, ibu....

Aku masih jadi anak yang bermimpi buruk. Menangis di bahumu saat terpuruk, bukannya mengajakmu berkeliling mall dan restoran. Tidak seperti anak-anak lain yang sering melambaikan tangan menyapamu dibalik setir mobil ... Dan aku, masih begini saja. Memijit pundakmu sambil terisak. Lalu pulang dengan lelah dan ingin lupa ....

Tidurlah, Ibu...

Malam semakin malam dan kantukmu sudah temaram. Jangan berdebat lagi dengan bayangan (bapak) yang katamu selalu hadir. Katamu dia sering bikin kopi dan baunya bikin  kangen. Jangan ngobrol lama-lama, Bu. Suruh bapak pergi dan istirahat juga, jangan suka kelayapan. Biar pagi datang dengan hangat...membasuh matamu yang lelah

Jadi begini, Ibu ...

Biarkan saja anakmu ini bergelut dengan buku-buku lusuhnya. Bergelayut di bahu mimpi-mimpi yang terserak dan beku di kulkas. Bertualang dengan tangis tawanya karena dunia terlalu luas untuk aku kelilingi. Biarkan saja aku begini bu ...asal jangan menangis lagi!


Nusukan, Mei 2024

Minggu, 12 Mei 2024

Gelora dan Kematian

Aku mungkin tahu kapan aku akan mati. Suatu saat (entah) di mana aku akan menatap wajahmu dengan segenap hati dan masih angkuh tak kan mengatakan 'aku amat mencintaimu sampai mati'. Ucapan norak yang sering diucapkan di lirik lagu itu ... mungkin saja terkelabat dalam batin, sekilas sebelum waktu itu datang.

Namun, kau pun tak kan percaya. Hidupku tak memerlukan kata itu dalam lagu. Aku tak bisa mengucapkannya dengan benar. Aku tak bisa menuliskannya dengan romantis, atau bahkan bisa bilang bahwa 'cinta' itu kujalani dalam hidupku dengan gegap gempita duka tangis yang menghabiskan tulang-tulang rusukku, meniruskan wajahku, dan menurunkan berat badanku. Sial

Aku yakin tak pernah tahu waktu itu datang. Namun, kuyakin bahwa cintaku padamu tak terucap seperti  puisi Sapardi yang menguar ke udara, lepas dan membebaskan kata dari maknanya.

Atau mungkin kita sudah muak. Karena cinta sudah memeluk tubuh kita, menerobos dengan hangat seperti sinar pagi. Kita sudah merasakannya karena sanggup hidup sampai detik ini, karena kita pernah membenci, telah mencintai. Kita telah menangis dan menderita karena mencintai... bukankah kau sudah muak?

Atau kita terus akan muak pada hidup karena kita amat mencintai hidup ini. Mengecup aroma tangis di pagi hari, sapaan cemberut dan pelukan rindu saat jauh. Apa begitu saja ... tak usah lagi ngobrol berat tentang cinta, Toh, hujan sering menyapu di setiap rintiknya dan membakar dingin dengan kuyupnya.


Solo, 13 Mei 2024



Rabu, 08 Mei 2024

REBORN!


"Tidakkah rutinitas yang terlalu banyak akan merenggut gelora dan spontanitas dalam hidup?" (James Clear)

Aku bukan 'morning person', aku payah dalam menghitung, aku payah dalam mengingat nama orang, aku tak tegaan, aku sangat payah dalam memasak dan masih banyak lagi kepayahanku yang lain. Dalam situasi paling kritis dalam hidupku pun aku tak bisa memikirkan diriku sendiri. Untuk mengenal diri sendiri, identitas  sebagai manusia dapat kita lihat dari kebiasaan yang dilakukan. Perubahan identitas adalah kiblat untuk perubahan kebiasaan, demikian ungkap James Clear dalam bukunya Atomic Habits terbitan Gramedia  tahun 2019.

Bukannya sedang gundah dalam pencarian identitas diri, namun saya tergelitik saat membaca buku ini beberapa bab dan sebenarnya yang James Clear coba ungkapkan sangat relevan oleh siapapun tanpa memandang umur. Setua ini saya sadar bahwa kebiasaan yang saya lakukan rutin setiap harinya akan membentuk sebuah identitas secara otomatis. Saya yang terbilang bukan 'morning person' tapi juga terbilang tidak pernah terlambat seharipun dalam hidup saya saat bekerja. Saya termasuk disiplin perihal  waktu meski tak bisa dianggap pula teladan dalam hal discipline manner. Untuk beberapa hal yang tidak saya sukai, saya cenderung berani membangkang dan tak mau pura-pura patuh sepenuhnya. Itulah kelemahan saya, saya tidak bisa 100% disiplin dalam segala hal.

Konyolnya, ketika membaca buku ini saya dengan spontan mengangguk dan mengiyakan beberapa kalimat kunci yang sering saya garis bawahi karena yang dikatakan James Clear bukan omong kosong belaka. Buku ini sebenarnya lebih mengungkapkan bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil, perbaikan kecil meski 1% namun jika hal baik ini kita lakukan secara kontinyu akan membawa dampak yang luarbiasa. Masalahnya, selama dalam prosesnya, sistem yang  dibentuk perlu keyakinan yang kuat untuk mencapai sasaran atau tujuan kita. 

Sial, enak ya sebenarnya ketika mendengar hasil atau pencapaian-pencapaian yang luar biasa para tokoh, artis, atlet yang telah mencapai sasarannya dengan sebuah prestasi dan segala kesuksesannya. Tanpa kita tahu, dibalik kesuksesan tersebut terdapat sistem atau proses yang sangat gila. Dilakukan secara perlahan, rutin, meski hal tersebut remeh dan dipandang sebelah mata dan butuh waktu yang tidak sebentar.

 Pada awalnya, rutinitas sangat kecil ini terkesan tak bermakna, tapi sejalan dengan waktu akan saling membangun dan menjadi bahan bakar untuk kemenanggan-kemenangan lebih besar yang berlipat ganda sampai tingkat uang jauh lebih besar daripada biaya investasi awal. Seorang penulis akan menulis secara rutin setiap hari untuk sebuah bukunya, seorang yang concern akan kesehatan akan jogging setiap paginya agar membentuk tubuh bugarnya, seorang lelaki yang berhenti merokok, suatu saat dapat menolak ajakan teman dengan "maaf, saya bukan perokok".

Pada praktiknya, kegagalan-kegagalan muncul sebelum semua proses dijalani dengan sempurma. Saya sering membuat outline buku yang akan saya tulis. Niat bulat terlihat dari kerangka yang manis tertulis di layar laptop, lengkap dengan schedule di kertas notice warna-warni yang kutempel di meja kantor. Dalam hitungan minggu, angka-angka lewat begitu saja di kalender dan tulisanku berhenti begitu saja. Ini sering terjadi, bukan hanya saat membuat target sebuah buku. Beberapa perilaku habitual yang ingin kucapai sering terlaksana beberapa hari saja dan setelahnya saya merasa itu akan menjadi sebuah gangguan saja. Mencoba, gagal. belajar, mencoba lagi cara lain akan membentuk sebuah penguatan-penguatan diluar sadar dan hal-hal yang merasa tak berguna tersebut pelan-pelan hilang. Begitulah kebiasaan terbentuk.

Hal yang sudah terlaksana yang semula berjalan tak begitu bagus, lambat laun menjadi kebiasaan yang berjalan secara otomatis di rumah. Setelah ibadah magrib, saya dan anak kecil saya tak lupa mengaji. Setelah mengaji, dia akan siap bersama saya dengan buku yang sudah saya siapkan di meja kecilnya. List buku-buku untuknya memang sudah saya siapkan. Saya juga demikian, momen 'no HP' dan waktu khusus untuk membaca sudah menjadi rumus dan berjalan secara otomatis. Baru-baru ini saya juga memulai kebiasaan baru dengan menyediakan toples kecil yang kutulis 'Anak yatim', peraturannya anak-anak setiap hari menyisakan uangnya meski 500 rupiah untuk dimasukkan ke toples. Pada akhir bulan nanti kita kumpulkan dan kita masukkan ke masjid. Hal tersebut sebenarnya sudah lama ada di angan, hanya saja baru benar-benar kulakoni baru-baru ini. 

Tidakkah rutinitas yang terlalu banyak akan merenggut gelora dan spontanitas dalam hidup? Justru gelora itu muncul saat kegagalan-kegagalan muncul dan semua yang direncanakan tidak berjalan baik. Kacau, kecewa, dan muncul perasaan tak berguna adalah percikan-percikan gila yang mengganggu intensitas kemapanan. Einstein bilang, gila jika kau melakukan hal yang sama namun menginginkan hasil yang berbeda. Itu kenapa kita terus belajar, mencoba lagi dengan segala perbaikan dan perubahan. Dentuman-dentuman kecil itu mustahil terlewat dalam hidup, dan kau akan diuji dengan mengulang-ulang upayamu sampai kau gila.

Sasaran atau target? saya tidak terlalu memusingkannya. Saya akan menikmati prosesnya dan menjaga ritmenya. Setelah semua yang kita rencanakan berjalan baik, aku akan merasa lega seperti kau baru saja mandi dan merasakan segar seolah terlahir kembali.

(Solo, 9/5/2024)



 

 

 

 

Minggu, 05 Mei 2024

WHATS WRONG WITH ME?


Aku sudah tak lagi muda. Tanganku keriput dan kurus. Hampir tulang jariku terlihat saking kurusnya. Tapi anehnya, teman-teman menganggap tubuh kurusku adalah porsi ideal bagi perempuan paruh baya. Porsi yang diimpikan ibu-ibu yang gampang gemuk dan perut bergelambir. 

Wajah lelaki muda di depanku itu tersenyum kecut saat aku terkaget dia muncul dari belakang punggungku. "Ibuk terlambat lagi?"
"Iya, maaf kak... di mana ruang bu Hana?", kemudian tangannya menggandeng tanganku sambil menaiki tangga. Diikuti teman-temannya, beberapa anak lelaki berseragam putih biru berlari dibelakang kami. Anak lelakiku satu ini memang pandai bergaul dan satu-satunya anak yang tak suka belajar. Namun dialah yang paling humoris diantara dua saudaranya. Aku bersyukur, hari ini tak ada keluhan dan aduan dari gurunya perihal anakku. Karena, setiap aku datang ke sekolah ini jantungku berdetak kencang. Bersiap mendengar keluhan tentang anakku yang luar biasa ini. Aku bisa menghela napas lega, meski angka-angka di lembar rapor ini juga tak bisa membuatku tersenyum bangga. Aku harus cukup bersabar satu bulan lagi dia lulus dan mencarikan dia sekolah yang cocok dengan minatnya.

Menjadi ibu dari anak-anak sungguh bukan perkara sepele. Entah porsi kebahagiaan yang Tuhan maksud adalah kebahagiaan yang bagaimana, sehingga hal imateri ini bakal sulit didefinisikan serta dapat dirasakan melalui berbagai versi sudut pandang manusia. Dalam buku keparat "Sains & Agama"nya Albert Einstein, menggambarkan jelas pemikiran-pemikiran yang tak sejalan orang jamak lainnya. Meski tak secara gamblang. mengatakan bahwa kebahagiaan itu tak bisa diukur secara ilmiah dengan segala macam hitungan rumit sekalipun. Di sini aku paham meski sambil misuh, karena memang semua tulisannya tak mudah dibaca dalam sekali baca. Kadang, saat pembatas buku itu hilang, dan saat kau membukanya acak seakan kau membaca buku itu pertama kalinya.

Kebahagiaan kecil ini terasa membuncah saat kerumunan anak lelaki dari kelasnya berteriak, "Hati-hati di jalan buk!" dan sempat terdengar ada yang berteriak. "Maliq nakal, Buk..." aku melambaikan tangan sambil berjalan cepat di tengah lapangan sekolah yang luas dan panas.

Perasaan semacam ini sering kusimpan sendiri. Entah dalam berbagai hal, melankolisasi pada peristiwa kecil membawa ke sesuatu secara inklusif. Bahkan orang-orang terdekatpun, tak bisa kubercerita se-detail ini. Sedangkan hal-hal yang mengganggu sekecil apapun dapat mempengaruhi pikiran dan tubuhku secara signifikan dan berkala. Kesedihan, kekhawatiran kecil yang muncul terakumulasi sehingga menggunung di sebuah ruang tersendiri. 

Aku akan merasa menjadi perempuan yang menyedihkan dan menggembirakan dalam waktu yang bersamaan. Bipolar? bisa iya bisa tidak. Aku bukan lagi perempuan muda yang masih labil dan mudah membuncah oleh pertemuan-pertemuan dengan seseorang. Perempuan dewasa kadang tetap merindukan masa-masa itu dan merasa bosan menjadi dewasa. 

Kau tak bisa kemana-mana dengan alasan tertentu. Kau tak bisa menyukai sesuatu karena kau sudah dewasa. Kau tak boleh membenci sesuatu dan harus mudah memaafkan karena kau telah dewasa. Kau tak bisa jadi apa yang sering kau pikirkan karena kau sudah dewasa. Kau tak boleh bermimpi karena kau sudah dewasa. Kau hanya akan terus memikirkan apa yang kau butuhkan karena kau sudah dewasa.

Oh, aku lelah, muak dan tetap tak bisa menangis. Aku bahkan tak bisa menangisi kesedihanku sendiri. 

(Solo, 6 Mei 2024)




Selasa, 20 November 2018

JANJI


Ditatapnya perempuan itu. Perempuan lain di hadapannya. Perempuan yang memoles bibirnya dengan gincu merah tua. Disapanya wajah yang berkali-kali menempel di cermin. Wajah yang sama muncul untuk jadi lebih berbeda. Rambut yang lebih teratur, pipi yang lebih gempal, mata yang lebih bersinar dan bibir tebal yang bisa tersenyum. Barangkali kau tak kenal bosan. Merawat hatimu untuk menyukaiku. Kau tetap menaruh wajah cantik. Aku senang kau berpura-pura. Biar kutersenyum. Agar otakku tak belingsatan kemana-mana. Mencari spion atau kaca jendela saat berjalan. Aku percaya padamu saja. Menghitung jarak dengan percaya. Bahwa medan magnet hanya kuat di ujungnya. Permukaan saja. Di dasar inti... biar aku saja yang tahu. Tugasmu hanya menghiburk, cermin. Lalu dialog merekasepi.
Perempuan masih bergembira dengan pikirannya yang lebih tenang. Masih besok untuk menyerahkan punggungnya pada tas ransel yang penuh wasiat. Dipercayakannya pada punggungnya untuk menggendongnya kemanapun dia pergi. Ke toilet, kantor, jalanan, bus, terminal, warung hik maupun di kasur.
Nir, nama singkatnya. Nama yang otomatis membuat hatinya kecut saat mengingatnya. Namun berbekal tumpukan kertas dan foto-foto yang ada di dalam tas ranselnya, perempuan itu semakin dingin. Menatap foto perempuan berwajah ayu keibuan itu. Disampingnya, tampak segepok uang yang nongol di bibir amplop.
Dia kepengen tidak tidur atau merebahkan tubuh agar ingatannya tajam dan segera tuntaskan harinya dengan baik dan cepat. Sebelumnya, ritual untuk memoleskan minyak zaitun ke bibirnya tak ia lewatkan. Biar bibirnya tak kaku saat bicara manis. Perihal yang ia benci selama ini. Bicara basa-basi.
Perempuan ini masih menunggu. Duduk di luar sebuah restoran. Bersandar tiang listrik. Membawa ransel kulit mungil nan modis. Disisir poninya dengan lembut. Namun angin mengacaknya berulang-ulang.
Ternyata, segepok uang itu membuatnya terpaksa jadi perempuan cantik, membosankan dan menunggu. Menunggu dan ia bahkan tak tahu Nir, perempuan lain yang lebih cantik itu juga menunggunya. Bahkan jauh lebih lama dan duluan bosan di dalam.
Dua perempuan yang saling menunggu untuk bertemu. Atau berharap tak bertemu. Tak  berharap bertemu dalam pertemuan yang kaku. Mungkin lebih tepatnya begitu. Mereka tak tahu, bahwa tempat mereka menunggu adalah tempat yang sudah ditakdirkan jadi tempat yang biasa untuk jadi kecewa.
Perempuan yang di dalam asyik bergumul dengan sepi. Menunggu di pojok ruang. Meja, kursi dan vas kecil mengisi sebatang tanaman berdaun hijau tanpa bunga. Saling menimpali dalam sunyi.
“selamat pagi manusia...”
“selamat pagi tanaman”, jawab perempuan dengan sopan.
“kenapa kau sendiri disini. Meja ini untuk dua orang”
“aku sedang menunggu”
“kenapa manusia senang menunggu disini?”
“karena mereka suka berjanji. Aku sebagian manusia yang taat pada janjinya”
“bukankah mereka suka perhitungan? Menghitung angka-angka dan setia membicarakannya berjam-jam. Berat badan, luas rumah, tinggi badan, berapa juta dan membilang yang tak mesti dibilang dalam angka”
“aku tak punya teman. Aku kini sendiri”
“aku sekarang temanmu”
“terima kasih...bibirku tak jadi kering”
Kursi tetap kosong. Namun obrolan tak lagi sepi. Waktu menjemput keduanya untuk bertemu dan berpisah.
Dalam keramaian lain, hening hinggap dalam setiap kehadiran. Diantara banyak manusia, seorang manusia bisa sangat sendiri dan sepi. Diantara banyak manusia, ada manusia yang mengubahnya jadi sebuah planet tak berpenghuni.
Tiang listrik yang berdiri tinggi diantara tiang-tiang lampu kota beringsut tak diam. Menyapa manusia dalam wajahnya yang tenang.
“selamat sore manusia...”
“selamat sore ... kenapa kau baru menyapaku?”
“kau terlalu tenang dalam hirup pikuk jalan ini. Takut mengganggumu”
“aku sedang menunggu. Dua ratus sepuluh detik sekali waktu dan enam ratus tiga puluh detik dalam sehari”
“kau sangat sabar. Menghitung waktu yang bukan milikmu”
“manusia memiliki  waktu yang sama namun aku berhak memiliki lebih dari kebanyakan manusia lainnya”
“kenapa bisa?”
“karena mereka tak mengartikannya seperti aku menghitung waktu yang berharga ini”
“Dan kau sia-siakan?”
“tidak? Waktu tak pernah sia-sia”
“kalau begitu kau bertemu saja pada sembarang manusia, waktumu akan lebih berharga”
“kau tak tahu ini adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan manusia yang paling berharga”
“dan kau tak melakukan apa-apa”
“aku menunggu”
“manusia dewasa memang kolot. Aneh. Dan kau lebih aneh dari yang kusangka”
“terima kasih”.
Perempuan ini menjawab salam terakhir dengan santun dan maklum. Perjumpaannya dengan seseorang tak harus terwujud. Kemudian dia mengemasi tas ranselnya dengan membawa kembali uang yang utuh dalam amplop. Membawa kembali bahagia yang ia kemas rapi saat datang. Perempuan pulang membawa foto wanita yang mesti ia temui. Seharusnya ia senang, seperti bahagianya ia bertemu dengan ibu yang sudah lama ia impikan. Seperti ia selalu menunggu satu jam lebih awal. Meledakkan jantungnya ketika jarum jam mendekati jam bertemu. Namun ia taat pada pekerjaannya. Ia pasti akan datang satu jam lebih awal untuk bahagia. Menunggu seseorang. Selalu begitu.

Rabu, 18 Oktober 2017

NING


Jutaan keping potongan pikirannya melayang-layang. Terapung di lautan luas. Terkepung rasa bosan. Entah kapan menepi dan berhenti  di sisi pulau dan segera menetap. Akal tak lantas bergembira dengan imaji-imaji edan dan kaku membelilit akar otak. Segera, jika dapat dipotong kecil-kecil maka akan dia lakukan. Menjadi sel-sel yang tak terlihat dan tak terbaca. Biar tak ada ilusi dan cantiknya kupu-kupu terbang  hinggap di mahkota bunga.  Perempuan ini, terlalu sepi untuk diam dan terlalu bising untuk teriak. Terkapar di tengah lautan dan masih nihil berharap. Kapan kata-kata akan menyapa dan  memungutnya  segera. Kemudian angkat dari kengerian diri yang tak terejawantahkan.
“tidak sur...jangan  menungguku”, perempuan berkerudung hitam lebar dan bercadar itu mulai beranjak dari rumah sempit ini dan mengambil sepeda angin yang sudah usang dan berkarat.
Kayuhan keras kakinya tetap tak membawa sepeda berkeranjang itu cepat melaju.  Sedang sepasang mata mengikuti  perginya sampai ujung jalan. Diam, menatap dalam dan sambil meronce mote, dialihkan pandangnya ke pernak-pernik mote, payet dan batu hias di cepuk-cepuk kecil.  Masih, kusutan benang yang ada di otaknya  semakin memintal, tak karuan, dan brantakan.  Jika kudu menyisir, tak cukup puluhan tahun sisa hidupnya agar lurus kembali.
Perempuan berkerudung itu sering dipanggil mbak Ning. Hanya dua perempuan yang tinggal di kontrakan sempit tanpa ada akses jalan. Kontrakannya tertutup  rumah  berlantai dua dan berpagar tinggi. Gang sempit satu meter satu-satunya jalan menuju pintu kontrakannya.
Pagi-pagi sekali perempuan itu mengendap-ngendap memasuki gang sempit. Sandal hak tingginya di lepas. Jaket jeans biru muda tergantung di pinggang. Rok hitam pendek tertutup kain pantai yang diikat di pinggangnya.
Beberapa saat tangannya memutar gagang pintu, terdengar suara perempuan berisik dan sesekali terdengar sabetan kain panjang yang mengenai tubuh seseorang dan berulang kali. Suryani hanya diam. Yah, hanya duduk sambil membersihkan make-up nya.
Suasana kembali hening. Tampak dua wajah yang lesu dan tenang. Meski gejolak amarah masih menguntit di wajah Ning, perempuan yang terlihat kerut di dahinya itu tampak kalem.
“aku tahu kita susah....ketiga anakku butuh biaya di pondok. Tak mungkin aku mengharapkan Mas mu datang ngasih jatah bulanan”, dibenahinya posisi mukena bagian kepalanya sambil menatap adiknya. Suryani masih diam. Wajahnya yang lebih muda, dan segar hanya menatap Ning sekilas lalu mulai ganti baju daster pendek. Tak dihiraukannya ada manusia lain yang mengusiknya.
“kau...mana bisa diberitahu. Aku seperti bicara dengan sebongkah batu”
“kau itu istri tua mbak... istri pertama. Seharusnya kamu itu menang. Minta hak pada suamimu agar dipelihara anak-anak dan kebutuhanmu. Eh kau ini....malah menyingkir dan mengalah. Pergi dari rumah dan pilih menyepi disini”
“kau seharusnya bersyukur. Kau bisa numpang hidup denganku. Anak-anakku hidup di pondok dan kau tak susah payah ikut memelihara anakku”
“Sudahlah aku mau tidur”
“Kau ini....sudah sholat Isyak belum”
“aku tak perlu laporan padamu kalau sudah sholat belum”, sahut Sur dengan cepat. Mendenguslah Ning dengan keras. Rasanya ia tak bisa berhenti emosi jika bertemu dengan perempuan ini.
--o0o—
Siang ini amat terik. Kain-kain kering yang bergelantungan di tembok-tembok saling berpagutan. Keluarlah perempuan dengan membawa keranjang. Ditariknya baju-baju dan kerudung besar ke dalam keranjang birunya. Sesekali angin berhembus melewati gang kecil itu. Kering dan panas. Dulu ada sebatang pohon besar di samping rumahnya, tempat Sur dan beberapa tetangga duduk dan ngobrol perihal macam-macam. Dulu, sebelum ia berkutat dengan pekerjaan yang menyita  obrolan banyak orang. Tetangga yang dulu datang berkerumun dibawah pohon, kini menghilang. Mereka ganti berkerumun di pos ronda dan sering membicarakan dua perempuan yang hidup di gang kecil ini. Mereka tidak lupa. Yah, Mereka tidak pernah lupa untuk tidak menggunjing perihal kecil dalam hidup kedua perempuan itu.
Ketika Sur lewat untuk sekedar membeli teh dan sayur matang di warung sebelah, obrolan beberapa perempuan itu tiba-tiba hening. Mereka pura-pura mengunyah makanan. Padahal tak sedikitpun telinga Sur ia gunakan untuk menguping. Tak pula diulurkan senyumnya untuk mereka. Ia pasang wajah acuh. Ia tak berpikir untuk akur dengan keadaan. Sudah hancur, hancurkan saja kepercayaan pada tetangganya itu.
Tiba-tiba Ning berlari-lari menyusuri gang sempit itu, tanpa sepedanya. Nampak merah dan berkeringat wajahnya. Cadarnya tak ia kenakan seperti biasa. Ia berlari lagi kembali ke jalan dan menghampiri perempuan- perempuan yang berkumpul di pos ronda. Ia bicara sedikit lalu bergegas lari menuju warung makan yang terletak di pojok kampungnya. Tak dihiraukannya pertanyaan seorang tetangganya mengapa ia amat tergesa-gesa?
“Sur, aku butuh duitmu. Cepat kau kasih aku tiga ratus dan besok-besok aku kembalikan”, sontak Ning menggeret lengan Sur dengan cepat. Ditolehnya wajah perempuan yang terlihat panik itu.
“Mana sepedamu?”, Sur agak heran karena perempuan itu terengah-engah dan memegang dadanya.
“cepat, tak usah banyak tanya. Penting sekali ini”
“Kapan kau kembalikan”
“Kau bawa uang kan.... dimana cepat kau kasih aku”, desak Ning sambil menggoyang-goyang lengan adiknya itu. Segera ia keluarkan dompet yang ada di saku celana jeans-nya.
“Ini .... kau kembalikan saja seratus. Yang dua ratus ribu anggap saja buat bayar  listrik dan uang makanku.” Disahutnya uang merah tiga lembar itu. Lalu segera ia berlalu dan berlari ke arah dia datang. Sur hanya diam terpaku di depan warung. Ia sudah terbiasa meminjami uang kakaknya dengan alasan untuk membiayai anaknya yang ada di pondok atau menebus obat untuk anaknya yang sedang sakit. Hasil dagangannya berkeliling hanya cukup untuk membayar uang kontrakan perbulan. Sejak ia bekerja di tempat karaoke, keuangannya cukup bisa membantu biaya hidup mereka berdua. Hanya perdebatan-perdebatan kecil yang sering dilakukan kakaknya membuatnya tidak betah di rumah. Namun ia sadar, rasa sayangnya pada perempuan cerewet itu tidak bisa dikurangi, juga tak bisa ditambah.
--o0o-
Malam terpekur di dalam penatnya jarum jam berdetak. Angin malam berisik memainkan ranting pohon  dan sobekan poster dibelakang rumahnya. Dapur kecilnya hanya ia tutup dengan bekas poster yang ia tempelkan di tiang bambu. Mata perempuan itu mulai lelah. Diletakkan nya mote, jarum dan benang di cepuk plastiknya. Diberesi jahitan baju pesanan penjahit kampung sebelah. Ia hanya bisa menyelesaikan pesanan menjahit mote yang tidak terlalu rumit. Misal hanya di ujung lengan atau bagian dada. Dengan demikian ia dapat pemasukan untuk membelikan baju koko untuk ketiga anaknya yang ada di pondok.
Napas Ning mendesah kuat. Dihentikan tangannya yang sedari tadi memberesi baju-baju. Jarum menunjukkan pukul 12 malam. Mengapa suara telapak kaki Sur tidak lekas ia dengar-dengar?. Ia memang selalu menunggu adiknya pulang meski wajahnya berubah masam saat berhadapan dengannya. Ia selalu ingin membuat keributan dengannya. Seolah dengan meneriakinya tentang segala hal, hatinya akan lega. Yang pasti adalah cara berpakaian Sur yang harus mengenakan celana jeans dan kaos ketat saat bekerja. Meski ia sendiri tak yakin membuat ia mau memakai kerudung seperti dirinya. Kadang ia menyalahkan ibunya yang terlalu bebas terhadap pilihan anak-anaknya.
Ia mulai panik saat jarum panjang menuju angka 6. Sudah dini hari dan Sur belum pulang. Ingin rasanya ia tak perlu menganggap penting perihal ini. Tapi ini memang diluar kebiasaannya. Ia mulai mengeluarkan sepeda mininya. Dikenakan kerudung hitam lebarnya dan bergegas keluar. Angin malam menyapa dengan sabitannya di ujung-ujung kerudung. Dadanya mulai panas. Jantungnya berdegup kencang. Ia mulai membayangkan yang buruk-buruk.
“Kau ini kemana saja Sur....kenapa kau tak sampai-sampai”, gumamnya dalam perjalanannya menuju jalan besar. Barangkali Sur tak menemukan angkot di pinggir kota. Atau tak ada yang ia tumpangi sampai ke rumah. “ Sur.... Sur .... “, desahnya dalam hati. Ia ingin kemungkinan skenario yang ia bayangkan salah satunya terjadi, bukan hal yang buruk. Namun pikirannya yang tidak enak terus saja mengganggu. Tak biasa ia merasa aneh malam ini.
Tiba-tiba matanya terpana pada kerumunan di suatu ruko bertingkat. Ia mendekat perlahan. Ia sedikit takut. Ada beberapa polisi yang membawa tongkat dan menggeret beberapa orang ke mobil bak terbuka. Tak ada sirine seperti dalam Televisi, namun kebisinginan karena kacaunya jalan menjadi tontonan banyak orang.
“Apa yang terjadi.... Sur ...kamu disitukah?’, tanyanya dalam hati. Di benaknya ramai adu pendapat. Apa mengapa dan bagaimana keadaan adiknya. Ia beranikan diri melongok di mobil bak terbuka milik kepolisian itu. Ditanyanya 3 perempuan cantik dan berbaju seksi itu dengan cepat.
“Mbak, dimana Sur... Suryani, yang berambut pendek dan punya tahi lalat di bawah mulut”, tanyaku berulang-ulang. Mereka hanya menggeleng cepat. Keriuhan di dalam kelab malam dan tempat karaoke membuatku enggan menelusup diantara ratusan orang. Aku celingukan kesana kemari, tak kutemukan sosok wajah yang kukenal. Aku menyerah. Kukayuh sepedaku pulang. Kembali menyusuri jalan lengang gang-gang di kampungku.
Kehidupan dua orang perempuan itu seperti sebuah poci-poci retak. Perlu tambal sulam untuk menyatukan agar utuh.  Perlu kecermatan dan kesabaran yang amat untuk mengembalikan retakan -retakan tersebut ke tempat semula. Agar bisa kembali jadi wadah. Agar bisa kembali dipandang dan berharga di mata orang lain.
Pintu kamar kontrakan Ning terbuka. Lekas ia masuk dan ia dapati sosok perempuan yang tergeletak di lantai. Rok pendek dan kaos pendeknya tersingkap sedikit. Wajahnya lebam dan memar. Dimulutnya ada darah segar yang menetes mengalir pelan. Rambutnya berantakan. Ia terduduk lesu. Membuncah tangis malam itu. Dan itu bukan untuk anaknya atau suaminya. Tangisnya itu untuk perempuan yang setiap malam ia marahi dan ia pukul dengan gagang sapu. Perempuan yang ia maki setiap ia tak melihatnya sholat. Perempuan yang sebenarnya amat ia sayangi.
“Duh Gusti ... jangan biarkan tragedi terjadi setiap malam di rumahku ini ya Guati”, tangisnya sambil bersimpuh di lantai. Ada rasa yang berkecamuk dalam dada. Bahagia karena dia tak menemukan adiknya dalam mobil polisi tersebut, sedih karena ia temukan adiknya dalam keadaan yang memilukan.
“katakan padaku Sur... mengapa kau seperti ini. Mengapa keadaanmu payah seperti ini? Kamu diapakan oleh lelaki-lelaki hidung belang itu?”, Sur hanya menggeleng. Tangannya bergerak memegang tangan Ning.  Dia terus menggeleng sambil menyeringai.
“Aku tak apa-apa mbak.... aku cuma pengin pulang. Aku cuma pengin pulang kerumah. Tapi polisi itu menggeretku. Mereka memukulku mbak. Tapi aku harus pulang”, desahnya dengan pelan. Wajahnya tak karuan lagi. Wajah ayu dan muda itu jadi layu, tak berani Sur menatap wajah Ning. Wajah perempuan yang amat ia sayangi.
Ning hanya menangis sejadi-jadinya sambil bergumam, “kau bodoh Sur... kau memang bodoh....”.
Malam terlalu malam dan pagi terlambat untuk menitipkan mimpi-mimpi kedua perempuan itu. Pengembaraan mereka tidak pernah selesai. Sebuah poci yang retak benar-benar tak bisa kembali utuh. Dikumpulkannya retakan itu sampai mereka bisa menempelkan ke tempat semula. Meski tdak persis ke tempat semula.
(Solo, 16 Oktober 2017)





Senin, 14 Agustus 2017

ANAKKU SERUPA PUISI

Anakku serupa puisi. Puisi adalah kata-kata yang mahal makna. Aksara yang musti dirangkai betul sampai si pembaca paham maknanya. Puisi yang lepas dari hujatan, kecaman dan olokan. Bukan prosa. Sebab ribuan kata musti dibaca dan dicerna. Cukup puisi, singkat padat makna. Serupa anak-anak yang sederhana memainkan kata tanya pada ibunya. Yang lugas dengan cara berpikirnya. Yang rindu pada setiap teguran manis ibunya. Anak serupa puisi. Yang perlu dibaca dan dipahami maknanya. Bukan sebuah kamus yang berisi petunjuk arti kata.
Saya terpaksa jadi melankolis. Setelah tugas keluar kota yang membuat seorang ibu dilema akut. Bagaimana mungkin, saya meninggalkan anak kecil yang masih mempunyai ketergantungan pada ASI (Air Susu Ibu). Sekelebat saya langsung memutuskan untuk urungkan niat berangkat Diklat ke Malang. Duh Gusti, ini seperti persoalan negara rupanya. Untuk seorang ibu, saya yakin tidak semudah itu. Namun, dorongan dari teman-teman kerja membuat saya bangkit kembali untuk semangat belajar.
Saya susun strategi. Langkah-langkah birokrasi yang musti saya lampaui. Pertama, ijin Kepala Sekolah, karena saya baru saja mutasi ke sekolah yang baru di tahun ajaran ini. Kedua, suami selaku pemimpin keluarga, dan ketiga yaitu eyang putri yang selalu menemani anak saya di rumah. H-2 keberangkatan, saya baru mendapatkan ACC dari Kepala Sekolah dan suami. Dan yang paling mendebarkan adalah mendapatkan ijin dari eyang putri yang notabene pengasuh anak saya selama saya bekerja. Keputusan Tuhan tak pernah salah. Akhirnya sehari sebelum keberangkatan semua birokrasi sudah saya lalui dengan status “yes”.
Saya berangkat dengan membawa ribuan memori tingkah lucu dan kenakalannya. Dalam perjalanan di kereta, saya mendendangkan musikalisasi puisi ciptaan Penyair Solo Sosiawan Leak, “Anak....anakku seperti puisi. Dirangkai dari kata yang dikawin makna. Dirangkum dengan sebuah tembang kehidupan. Hingga menjelma irama kangen...irama kangen. Yang tak pernah rampung kudendangkan”. Sekalipun dalam lelapnya, rentetan aksara ubahnya jadi puisi.


( Malang, 14 Agustus 2017)

Selasa, 25 Oktober 2016

Doa Debu

Deru tanyamu menggebu
entah sudah berapa subuh kau tersungkur
pada papan doa dan ruang sesal
jalan sempit dan gang-gang becek
terima salam jutaan bidak
berjalan, lewat, berlalu, berlari, berhenti
sembunyi, juga linglung
Papan nama akan menjawab
atas kebingungan awak yang sekarat
kadang lupa, wajah mana yang tersimpan
dan iba mana yang mesti enyah

angin tak mungkin diam
diruang-ruang papa lupa bahasa doa
(okt' 2016)


Nasib dan Peruntungan

  Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...