Minggu, 05 April 2015

Dialog Kipas Angin

( Di sebuah ruang, dinding - lantai - buku- meja - kursi saling menyapa.Saling menatap. Saling bergumam. Saling menuding. Kipas angin tetap saja bising berputar-putar di langit )
Duduk dalam narasi pucat. Berbincang sambil menawan secangkir teh di tangan. Dengan pikiran untuk saling mencaci dan melarikan diri. Meski tubuh diam, seperti aksara kapital, kaku dan jarang berkawan dengan penyair. Kepengen lepas dari kungkungan ....
meja : " menjadi cuaca lebih buruk ketimbang jadi pikiran manusia yang melasat lesat dan merepotkan"
dinding : "aku sudah sedari malam kedinginan dan kalian masih tak gusar pada cuaca....mungkin buku-buku lebih menikmati dirinya ketimbang tidur"
Buku : "bagaimana kau bilang aku lebih asyik dan khusyuk ketimbang kalian ....aku seperti bom yang lama tak meledak, meski detik tetap berjalan. aku lebih gusar....mengerti semua peristiwa dalam tubuhku. pengen rasanya muntah ..."
lantai : "berdecit setiap napasku. Pengen aku jalan-jalan ke mimpi -mimpi manusia. merusak tatanan pikiran dalam sehari dan mengacaukan  keinginan yang belum tercapai dalam dunia bawah sadar mereka. dan itu lebih nakal dari elektron-elektron di tubuh mereka yang sering main petak umpet"
(Buku, meja, kursi, lantai menatap kipas angin yang tak mau berhenti ) 
kipas angin : "kalian ....jangan menatapku!! aku hanya kepengen satu ...tolong hentikan aku. aku lelah sekali. marahi saja cuaca yang menganggap keren saat dia saling adu jotos dengan hujan"
Lalu semua diam ....kipas angin terus bergumam sendiri. mengumpat sendiri. berteriak sendiri.
dan waktu masih tik tok tik tok tik tok ......
(kipas angin mulai gemar ber-monolog)


Kamis, 02 April 2015

Surat Ibu



Aliran kehidupan ini sungguh menarik Gusti....
Bagaimana sebuah pikiran dapat menyatu dengan waktu yang seolah saling kejar mengejar.
Bagiku, aliran postmodern sangat akrab dengan kehidupanku, dengan frame yang sudah lama aku tatah dan kuhaluskan permukaannya sedikit demi sedikit.
Alur yang rancu kadang sengaja kuhadirkan. Kembali kuserahkan tanpa syarat dalam beberapa kesempatan.
Lalu kembali lagi.....kadang melesat ke masa depan yang sering  membuatku ingin berdiri dan tak ingin menoleh lagi.
Aku tak ingin bangkit untuk saat ini. Aku masih menyisakan kenangan yang belum kuziarahi.
Buruk...indah....tak mengapa karena aku adalah penganut postmodern & Bloom (TEORI HUMANISTIK)
Penganut tatanan yang dapat kau koyakkan setiap saat, dapat kurubah setiap saat sesuai warna  yang kuinginkan.
Sakit, benci, marah, tolol, jujur, manis , pembunuh, perusuh, pengayom, rindu, .....

Lalu kemana kau letakkan duniamu?
Disini...yah disini, di dada kedua anakku yang kelak mewarisi jiwa anti kemapanan ini, jiwa bebas ini, jiwa perombak ini, dan jiwa jujur ini dalam waktu yang bersamaan ...
Dari alur inilah, mulai kurekam jejakku melalui kata-kata, tulisan, lukisan, buku-buku, juga mimpi-mimpi yang telah mengalir kedalam darah anak-anakku...
Berkelilinglah dunia dimana dunia yang sempat hilang itu singgah di ‘dead valley’
Mendakilah di puncak Mont Blanc, Kilimanjaro dan Everest
Belahlah laut Merah, susuri Amazon yang tenang dan mematikan serta bekuan air di sungai Volga
Singgahlah di atap Pamir, sapalah Spinx dalam gundukan debu-debu kering
Dan ciumlah Hajjar Aswad dengan linangan air mata di seluruh indramu
Beginilah ending sebuah cerita.....elegi syahdu seperti perahu yang luruh dalam damai angin timur

[ 01 April 2015_utk anak-anakku ]



POStMODERN
[sebuah teori, namun justru menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal. Hal ini secara singkat sebenarnya ingin menghargai faktor lain (tradisi, spiritualitas) yang dihilangkan oleh rasionalisme, strukturalisme dan sekularisme]

Selasa, 31 Maret 2015

SIMBOLISASI

.....pertama mari kita bertahan pada satu sudut pandang bahwa manusia memiliki 3 kepribadian { scr garis besar), manusia yang Simbolis, Kapitalis dan Libido ...tak usah memilih, karena Tuhan sudah sangat tahu kemauan manusia melebihi Tuhan berkehendak. namun tetap saja manusia adalah Tuhan-tuhanan yang selalu senang bermain dengan kata "Tuhan".....
....sejak manusia sadar bahwa hakikat manusia yang bebas, kita senang membuat era dimana kebenaran bermula dari pencarian dari keingintahuan kita. Dengan ekstensialismenya yang radikal,manusia mulai muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar dan mencapai puncaknya bahwa tujuan manusia adalah "kebahagiaan"
....dari era romantisme,  mistis menjadi fundamental pemikiran pada waktu itu,muncul kaum filsuf yang mulai mengusik manusia dengan kehidupannya yang menyesakkan dan masadepan yang mengkhawatirkan.
....begitu juga kaum 'filistin' yang dengan hobinya gemar menuding kaum filsuf dan tehnokrat adalah kafir intelektual...rasanya akal sehat vs sains selau beradu untuk memenangkan sebuah kebenaran.
...pada akhirnya dari pertarungan ide-ide dengan membawa -isme-ismenya mereka akan kembali menjadi sebuah simbol bahwa manusia kelak akan masuk museum dengan deretan buku biografinya dan sejarah yang saling ubah-mengubah. Sangat mengenaskan ....dunia mistis penuh dengan simbol, kehidupan seks yang menyenangkan dibuat etalase, dan kemewahan akan menjadi sebuah tugu. Babak-babak kejayaan akan dikenang lewat lagu-lagu ....kemudian akan musnah menyatu dengan lembutnya debu, akar dari ketidaktahuan manusia.

Selasa, 10 Maret 2015

SURAT untuk PRESIDEN


selamat sore Tuan presiden....
jarak masih mengingkari waktu dan begitulah :

jauh,
Tuan terlalu pongah dalam rengkuh
gagap diujung kata biar runtuh
pun koyak dalam sentuh
kemudian saksi  mengeluh
karena tuan tak menyeru
diam seperti bidak membatu
dan jelata merayap seperti belatung

jauh,
tuan masih mematung dalam kultus
jadi tuhan ... pergi tak hirau
dan kami tetap jadi belatung...

tinggal menghitung
kapan mayat bergelantung



Minggu, 23 November 2014

hujan

maka tengadahkan mukamu
dan berjingkat-jingkat diatas genangan jalan...
betapa kau akan hanyutkan
foto-foto yang berserakan seperti kapal kertas,
melenggang sampai tenggelam di selokan

juga ribuan tetes dalam sekejap
usap debu di kening, kaki, kelopak matamu,
setidaknya, hujan selalu membuat ritme nada sendiri
di mata dan telingamu

tanah : mencuri kebahagiaan
jika tak lekas kau berlari, menyatu,
dan berderai ....

(november rain ...2014)

Kamis, 30 Oktober 2014

JEJAK

jejak-jejak kata
menjejalimu
di mulut, telinga, perut, hati, paru, usus, vagina dan otak
ratapan dalam parodi
dan tawa dalam dramaturqi
tatananmu koyak
menelan ludah
Tuhan ada
mengacaukan
bahasa
manusia

PEREMPUAN #2


Perempuan
Tlah gagah menyangkal seorang lelaki :
Dua pasang mata itu,
membatu
Betapa waktu tak bisa lari
Meski matahari berjongkok
Atau mengiba tuk lepas
dari malam yang menggantung wajahmu
dalam gelap

nokturno ;
kau tak lagi bernyanyi
Meski dalam sunyi
Kurebahkan tangis dalam segelas kopi
Lalu kau tinggalkan aku dengan intro yang gagu
Memasang fotoku di pigura cantik
Lalu kau larung di kali,
Mengumpatku berkali kali
Biar rindu tak hadir,

Biar hati tak pasi

(Ah...pengelana itu tak lagi pulang ke dekapan)

Senin, 27 Oktober 2014

ANAK-ANAK




Anak anak
Adalah asteroid yang bertebaran
Adalah terik mentari yang menyilaukan
Juga siluet senja penjaga gerbang malam
Anak juga airan yang mengalir ke hilir
terbang dalam hembusan angin-angin
bernyanyi dengan diksi yang damai
Seperti lagu pengantar tidur

Anak anak
hiasi lampu-lampu jalan
Hidupi setiap jejak manusia ditrotoar... di kubangan
Mendekam sekeras karang tangis dan tawa
Sudahlah ibu.... jangan mengiba lagi
Biar angin ini yang sampaikan doamu pada Tuhan
Dan kaki serta tangan ini,
yang akan menjejal hari dalam genggaman malam

Minggu, 26 Oktober 2014

ILALANG KERING BELAKANG RUMAH

[ bagian1 ]
Matahari perlahan sembunyi di balik gunung. Tak kuhiraukan HP bergetar di meja. Kutatap warna-warni senja di ujung barat. Awan lembut menyapu langit. Kali ini HP ku bergetar lama. Kuraih HP mungil merk lawas yang sudah terkelupas huruf-hurufnya. Kulihat dengan seksama. Nomor pribadi muncul di layar. Kembali kuletakkan di meja teras. Malam segera turun, hari mulai gelap. Jalan di depan rumahku terasa lengang. Rumahku yang terhitung masih baru dan masih berbau cat ini terletak jauh dari hiruk pikuk kota dengan segala gemerlap lampu-lampu di penjuru tempat. Suara katak tak jarang bersahutan karena beberapa hari ini hujan mengguyur.
Ada dua-tiga rumah yang berdiri di sekitar rumahku. Selebihnya terhampar sawah dan kebun jati yang sengaja ditanam para pemilik tanah yang tinggal di kota. Masih membutuhkan 10 menit lagi untuk sampai perkampungan penduduk yang padat. Setelah perceraian setahun yang lalu, aku mencoba bangkit dan membeli sedikit lahan yang terletak di pelosok desa ini. Selain murah, aku dan anak-anak dapat jauh dari orangtuaku juga orangtua mantan suamiku. Dengan begini, aku agak tenang dan ada alasan untuk tidak selalu mengantar kedua anakku pada mereka setiap akhir pekan.
Ohh....senja yang mahal. Dimana lagi aku menyaksikan suasana tenang seperti ini selain di halaman rumahku yang masih belum tuntas. Meski mulai gelap,  goresan warna oranye dan merah itu masih menyisir langit. Rumput  ilalang masih menyembul dibalik pagar bambu yang dibuat dari sisa-sisa bangunan rumah ini.  Wajahmu tampak disana. Berdiri dengan kemeja putih, lengan dilipat sampai siku. Rambutmu sudah panjang sekarang. Kau juga menatap senja yang tinggal sepotong. Angin bergemuruh dari selatan. Kau masih tenang dalam alam pikiranmu. Aku merasakan ketenangan itu. Ada rindu ..... juga sesuatu yang kau tunggu. Dan malam merambat naik. Lampu di halaman belakang ini cukup menerangiku. Kutulis surat lagi.
.....
Ini malam kelima aku disini. Mencari padang ilalang. Tempat yang sering kita datangi, berlarian dan rebahan di rumput hijau. Kau dengan kaki telanjangmu, dan aku dengan buku kecil lusuh  dan pensil  yang kutali ujungnya dengan pita merah pembatas buku. Ya, kita akan selalu  menunggu sebuah goncangan dahsyat untuk kita tulis, tapi kadang kau berseteru bahwa kehadiran yang lembut tak bersuara itupun lebih dahsyat dari sebuah bom. Kami tertawa bersama....dan diam. Bertemu dengan ujung hari di padang ilalang tanpa berpikir waktu akan menghapus perlahan seperti awan cumulus nimbus yang tersapu kuas matahari.
                                               ( Aku & kau_di padangku sendiri )
Kulipat kertas itu lalu kumasukkan ke dalam amplop. Kumasukkan di kotak coklat, bersama tumpukan amplop lain didalamnya.  Lalu napas ini berhembus perlahan. Kau sudah tak terlihat di belakang rumah. Aku segera masuk. Anak-anak masih setia dengan acara Televisinya. Kututup tirai di kaca jendela. Biar malam menemanimu disana.
--0—
Seharian ini suara-suara kacau datang dari penjuru ruang. Kuliah padat memenuhi 2 hari akhir pekanku dengan kejam. Sabtu dan minggu tidak ada sisa meski untuk mengantar Fikri dan Dzikri ke taman kota. Tapi mereka sudah terbiasa dengan ketidakhadiranku di hari minggu. Mereka pasti berakhir pekan dengan ayahnya di kota. Kuliah penyetaraan jurusan ini hanya membutuhkan 3 semester untuk dapat mengantongi ijazah setara dengan ketentuan dinas. Teman-teman pengajar di kotaku nampak kerepotan ketika bertemu di minggu pagi. Saling menyapa dan berjalan bersama sambil bergumam keadaan anak-anak mereka yang ditinggal bersama mertua atau suami, bahkan kadang dipercayakan pada tetangga. Ah, betapa mengerikan bekerja di negeri ini. Para pengajar yang notabene belum diangkat Pegawai Negeri Sipil selalu direpotkan dengan peraturan dinas yang tiba-tiba datang di meja kerja. Mereka memang lihai membuat derita kaum proletar semakin mengerikan. Yah, faktanya memang  guru non PNS berpendapatan dibawah buruh pabrik.
“Bu Elsa...Bu Neni!”, teriak seorang teman yang tergopoh-gopoh membawa 4 buku tebal dari area parkir. Kami berdua menoleh dan berhenti menunggu seorang perempuan bertubuh kecil dan genit itu mendekat.
“Ah...senyum kalian seolah menjawab semua pertanyaanku Bu”, sentilnya sambil menata nafasnya yang tersengal-sengal.
“Bu Riski-bu Riski ....sejak kapan kita selalu mengerjakan tugas tepat waktu. Umur dan ‘kengeyelan’ kita yang menentukan kapan tugas itu tuntas tepat pada waktunya”, jawabku sekenanya.
“maksudnya”, teriak bu Neni tepat di telingaku. Hah, reflek kupingku kututup dengan buku.
“yah kita sudah tidak se-idealisme waktu muda bu...nah biasanya tugas kita kepepet selesai meski nggak tahu betul atau salah, ngeyel saja kita anggap betul....haha”, argumenku ditutup dengan tawa renyah kami bertiga. Tak sadar kelas-kelas yang kami lewati sudah tenang, tanda dosen-dosen telah duduk manis menunggu para mahasiswanya.
Kami bertiga hanya berpandangan dan nyengir bebarengan. Satu persatu kami masuk kelas yang berada di pojok sekolah. Nampak tenang....dan uhh aku dan bu Neni selalu kebagian duduk di deret  kedua dari tembok, baris kedua. Meja ini sengaja ditandai bagi mahasiswa yang terlambat. Dan baris pertama selalu dikosongkan karena meja-meja sering diubah posisi ketika presentasi kelompok. Praktis, kami berdualah yang selalu bertatap muka paling frontal dengan dosen ketika berdiri di depan.
“dosennya mana bu? Tanyaku pada bu Tanti yang duduk dibelakangku.
“Tuh...”, tunjuknya dengan bolpen Standart hitam pada lelaki berhem kotak-kotak dan sedang memasang proyektor dengan pak Fuad ketua kelasku.
“Ohh...tapi, kayak bukan Pak Basuki ya?”, tolehku lagi pada Bu Tanti.
“Ah kau ini, kemarin kan pamitan mau naik Haji...jadi ni diganti ma Dosen baru”
“Ohh....”, jawabku manggut-manggut sambil mengeluarkan alat tulis, modul kuliah Penelitian Tindakan Kelas dan buku tulis.
“ketika lelaki berbaju kotak-kotak itu duduk di meja dosen, mataku terbelalak....Astaghfirullah Ya Rabbi,  kuletakkan kedua tanganku di dada, rasanya sesak sekali. Langsung kupalingkan muka ke belakang dan kuaduk-aduk tas ransel bagian depan.
“ada apa Bu?”, tanya bu Neni melihat gelagatku yang aneh. Aku hanya geleng-geleng dan segera melepas kacamata dan kuganti dengan contact-lens. Aku ingin menjadi orang lain. Bukan perempuan sama yang kau kenal dulu. Meski kutahu kau tak bodoh
“loh kok?”, tunjuk bu Neni pada mataku yang masih beradapsi dengan contact lensaku. “Kacamataku agak kendor sekrupnya, untung bawa lensa kontak...”, jawabku sambil kedip-kedip. Aduh, kenapa dadaku masih berdegup kencang. Apa benar dia mas Abdi? Yah setelah 9 tahun lebih tak bertemu. Kabar terakhir dia jadi dosen di Lampung. Ohh, ini azab atau berkah? Tanganku berkeringat hebat. Dingin.
“Selamat pagi Ibu-ibu...juga bapak-bapak sekalian. Maaf ijinkan saya memperkenalkan diri di depan guru-guru yang sebenarnya lebih berpengalaman dibanding saya yang mungkin seumuran dengan bapak ibu sekalian atau bahkan seumuran Ibu saya”, suaranya datar dan jauh dari ramah. Tapi wajah yang begitu hangat membuat mataku tak berani memandangmu. Oh please...jangan berdiri didepanku,atau lupakan ingatanmu  pada wajahku.
“Baik....langsung saja ya, nama saya Abdi Rasidi, selama pak Basuki di tanah suci sayalah yang akan menemani bapak ibu sekalian mempelajari mata kuliah penelitian tindakan Kelas....”, dan selama kau memperkenalkan diri, kau mulai beranjak dari tempat dudukmu dan mulai menghampiri titik fokus kami di kelas. Yah, tepatnya di depan mejaku dan bu Neni. Kupegang tangan bu neni yang ada di paha kanannya. Reflek, kupegang agar aku tidak  lari keluar kelas. Tiba-tiba bu Neni menoleh padaku tepat saat matanya menatapku. Agak lama. Yah, suaramu tiba-tiba berhenti saat menatapku. Kutepis matamu dan kupandang wajah Bu Neni yang keheranan, atau mungkin geli saat tangannya kuremas. Aku panik. Lalu agak mereda saat menepukkan tanganmu sekali ...keras dan membangunkan.
”Baiklah, saya pengen kenalan juga ya sama bapak ibu sekalian...”, kau mulai memanggil nama teman-teman satu persatu dan rasanya semakin tak karuan...pengen rasanya keluar kelas dan berlari tak kembali.
“Bu, kamu sakit ya....ijin pulang aja gak papa,  tak bilangke pak Abdi”, ahh jangan sebut nama itu lagi. Ya bu pengen sekali pulang, namun keinginan untuk menghilang itu sama kuatnya untuk sekedar mendengar suaramu saat kuliah. Gusti, jika kutahu rencana ini mungkin aku akan ......ahh kuusap wajahku berulang kali. Tiba-tiba pundakku diguncang-guncang dari belakang.
“Ya pak....”, jawabku tanpa menatap wajahmu dan kuangkat telapak tanganku ketika namaku dipanggil berulangkali. Gagap sekali saat ingin membuka mulut.
“Bu Elsa Setyarini? Mengajar dimana Bu?”, sahutmu sambil berdiri menghampiriku. Tepat dihadapanku. Sekali lagi kucari pegangan, kali ini kuremas-remas buku tulis yang kebetulan kubawa. Kupandang Bu Neni yang juga menatapku lama, mungkin juga yang lain karena aku  terlihat gugup. Lama untuk menjawab pertanyaan remeh semacam itu.
“Al-islam pak...di SD Al-Islam satu”, dan kuliahpun berjalan tidak seperti yang kubayangkan. Aku lebih banyak merenung dan gelagapan saat ditanya. Kenapa kau datang mas. Kenapa kau muncul dengan skenario seperti ini? Bukankah kita janji untuk bertemu saat kita sudah 40 tahun. Ah tidak, itu hanya janjiku sendiri saja untuk menemuimu jika kita sudah berumur 40 tahun. Gusti....janji macam apa ini?
Aku langsung melesat keluar kelas. Berjalan cepat, agak berlari. Menjauh dari laki-laki berkemeja kotak-kotak itu. Lari dari kenyataan bahwa aku sangat rindu padamu. Betapa dekatpun saat ini, aku tak ingin semua ini terjadi. Aku tak ingin menjadi lemah karena kekecewaan di masa lalu. Kita telah menemukan ruang kita masing-masing. Aku tak ingin masuk lagi ke ruang itu. Kaupun demikian, jangan pernah mampir lagi ke ruangku yang sempit ini. Terlalu sesak. Biarku mengingatmu dengan caraku sendiri. Tidak seperti ini.
Kuberhenti di taman kecil belakang Mushola. Agak sepi. Hanya ada beberapa ibu-ibu yang duduk dan menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Maklum kuliah padat dari pagi sampai sore. Kuletakkan tas ranselku yang berat perlahan. Kulepas kontak lensaku dengan hati-hati. Mati-matian rasanya menahan pusing karena kurang bisa berdaptasi. Segera kupasang kacamata tebalku dan  kuusap dengan kain. Perubahan wajahku, tanpa kacamata, wajah agak putih (kata teman-teman sih), dan tidak pernah kenal celana jins lagi.. apa tidak berubah sedikitpun sampai kau masih bisa mengenaliku? gerutuku dalam hati.
Masih merasa aneh dengan kejadian pagi ini. Alur cerita yang terlalu cepat. Kuteguk air mineral yang agak keras dilidah ini dengan agak kesal. Kuraih HP di saku yang dari tadi kubiarkan di mode ‘silent’. Kuaktifkan ‘google play musik”. Kupencet Norah Jones. Lagunya yang bisa menenangkanku barangkali.
Huh...kubiarkan kepala ini kuletakkan di meja bundar ini. Suara Norah Jones masih melenggang dan sesekali kubarengi liriknya yang kebetulan sama dengan suasana hatiku....”oh would you let me go now...”, namun tiba-tiba kulihat sepasang sepatu hitam, hmm yang pasti bukan bu Neni. Kuangkat kepalaku perlahan....oh jangan Tuhan, aku belum siap.
“album tahun 2009”, suaramu terdengar serak mesti lagu itu terdengar lebih parau. Aku hanya menatap wajahmu yang sudah agak berbeda denganmu terakhir kita bertemu. Yah, saat kau datang di pernikahanku waktu itu. Sekarang lebih berisi. Wajahmu tak lagi tirus, jelas kau bahagia sekarang.
“Oh Pak Abdi .... maaf saya kaget”, jawabku untuk menghilangkan kegugupan.
“kau memanggilku Pak? ... kenapa tadi kau begitu konyol”, tanyamu tiba-tiba dan seolah tahu aku ingin melarikan diri.
“Konyol? Maaf saya tidak mengerti Pak”
“kau .... kau Elsa kan? Bukan Elsa yang lain?”, tanyanya heran melihat keanehanku.
“iya pak.... apa kita sudah bertemu sebelumnya?”, tukasku memberanikan diri, sambil mematikan lagu dan kumasukkan ke saku.
“Elsa...”
“Maaf pak atas ketidaknyamanan ini, mungkin Bapak salah orang. Permisi...”, timpalku tanpa melihat tatapan matamu yang masih bertanya-tanya. Kuseret tasku yang berat dan kugantung di pundak kiriku. Kutinggalkan taman itu dengan rasa yang tak karuan. Berantakan. Entah mas....akupun bertanya-tanya mengapa aku melakukan hal ini Barangkali aku harus mengejar senja yang tersisa sedikit. Bertemu denganmu. Bukan denganmu yang sekarang. Mulutku komat-kamit tak karuan :
“Mata... ilalang....senja... muram... mata....ilalang .... senja... muram...tolong jangan pergi mas ....tunggu aku dibelakang rumah.  Mata...ilalang...senja...muram....mata.....” aku hampir tak ingat lagi jalan mana yang kulalui untuk pulang.
[ pukul 17.05 ]

--bersambung--

  






PEREMPUAN

Jika sebuah mawar kau tancapkan di makam ini,
tak ada sedu sedan yang layak kau tumpahkan di tanah ini
Nisan perempuan-perempuan yang istirahat di pangkuan malaikat
masih berbalut senyum,
pernah terlukis diatas kanvas, di dalam buku,
 dalam sejarah, juga dalam doa

“tak ada ajaran cinta yang lepas dari perempuan,
dan lelaki belajar mencintai melalui jalannya...
tuan, tak apa kau tinggalkan kami
kami adalah tanah, lahan, sawah
dan rumah tempat semua anak-anak kembali”


(okt’14 _ Ibu-ibu jalanan)

Senin, 20 Oktober 2014

MEMOAR #2




(1)
Ada sebagian tubuhku yang hilang ...... entah kemana.
Bukan karena residu atas kekecewaan atas hidupku saat ini.
Keberadaan yang inkonsisten sebagai seorang perempuan...
Merasa gagal sebelum menjalani secara utuh cita-cita yang sederhana, tidak muluk, namun menguras hati dan pikiran.
Sekilas semua beranjak dari ketidak mapanan tekad dalam menjalani waktu demi waktu yang menggerus wajah
Terombang ambing antara pasrah dan tak berdaya,
Mencoba tegak meski letih
Kadang tertawa sendiri karena bahasa terlalu satir untuk diucap
Seperti guyonan yang menyakitkan,
Selebihnya tak ada ampun atas kekecewaan dan masa lalu
Jika ada mesin penghapus jejak , mungkin tak sekeras ini aku mengelak
Bahwa aku bahagia disaat aku dengan kekanak-kanakanku,
Lugu dengan kerasionalan berpikir, “aku dan bukan dengan tanpa sadar”

(2)
Jika bertahan pada salah dan benar... mungkin aku berada diantara dua titik itu.
Terlambat untuk menjadi tahu,  mengiba pada yang kuasa,
Nah itulah semestinya,  tapi aku hanya berdiri dan pergi
Pada suatu waktu suatu ruang dan kejadian

Mimpi....kombinasi antara kenyataan, fantasi, emosi
dan santap malammu...
sadar penuh atas cinta, penderitaan serta agama
dan agama lahir di negeri ini dengan berdiri gagah diantara keduanya,
aku sedang menuju penyangkalan atas derita sebuah humanitas,
dan masih diam...
seperti debu yang siap terenggut!
( oktober 2014)

Nasib dan Peruntungan

  Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah aku sudah menjalani hidupku dengan baik? Selama ini aku punya penyesalan tersendiri pada takdir...